Ustadz Muda

Ustadz Muda
#182


"Ustadz,neng,kami juga selaku orang tua Indri minta maaf yang sebesar besarnya! waktu itu kami memang terpengaruh dengan nafsu!" kata pak Nono.


"Ah iya abi,sebelum di minta juga sudah saya maafkan,tapi saya juga minta maaf!" kata kang Hatim.


"Terima kasih Ustadz,kami benar benar tidak enak sama Ustadz,apalagi sama neng Hana!" kata bu Pipah.


"Tujuan kami datang ke sini,bukan hanya untuk minta maaf Ustadz,kami datang kesini ingin memberitahu bahwa Alhamdulillah,Indri sudah mendapatkan jodohnya!" kata pak Nono.


"Masya Allah,Alhamdulillah kalau begitu!" kata kang Hatim.


"Selamat ya Ndri!" kata Hana.


"Aku yakin,ini berkat doa teh Hana dan kang Hatim!" kata Indri dengan senyum bahagia di balik cadarnya.


"Karena itu,mungkin Indri akan di berhentikan dulu untuk mondok nya!" kata pak Nono.


"Oooh,iya iya saya mengerti!" kata kang Hatim.


"Kami juga mohon doa nya Ustadz,semoga Indri bisa menjalankan rumah tangganya hingga sakinah mawadah marahmah seperti rumah tangga Ustadz sama teh Hana,atau bahkan seperti rumah tangga baginda Nabi!" kata pak Nono.


"Ah iya iya,pasti saya doakan!" kata kang Hatim.


"Sekalian datang ke sini,kami juga turut mengundang Ustadz Hatim sama neng Hana agar bisa mengusahakan supaya bisa datang pada waktunya!" kata pak Nono.


"InsyaAllah insyaAllah!" kata kang Hatim.


"Maaf,waktunya kapan ya?" tanya Hana.


"InsyaAllah,tanggal dua puluh dua bulan ini!" jawab Indri.


"Wah,ternyata sudah dekat ya!" kata kang Hatim.


"Iya Ustadz,kan tidak baik menunda nunda hal baik!" kata pak Nono.


"Iya iya bagus!" kata kang Hatim.


"Siapa sih calonnya?" tanya Hana yang di maksudkan untuk Indri tapi di jawab oleh pak Nono.


"Kalau kata anak anak sekarang,calonnya Indri itu cinta pertamanya waktu di SMP!" kata pak Nono menjawab saat Indri baru narik nafas.


"Wah masyaAllah!" kata Hana.


"Bapa,apaan sih!!" Indri menunduk malu oadahal di balik cadarnya tersenyum malu.


"Siapa sih nama calonnya?" tanya Hana.


"Arif Abdul Latif neng!" jawab bu Pipah.


"Oh iya Ustadz,apa di pesantren ini ada grup sholawat,seperti hadroh gitu,atau rebbana?" tanya pak Nono.


"Hahah,iya Ustadz,terbukti! Indri juga manja!" kata pak Nono setelah tertawa.


"Tapi pak,kan Baitussalam ini ada dua,baitussalam awal dan baitussalam sani! nah,pesantren ini namanya baitussalam sani,isinya khusus perempuan,tapi kalau di baitussalam awal,khusus laki laki! ada grup terbangan atau rebbana gitu!" kata kang Hatim.


"Oh gitu? ya sudah kalau gitu! gak papa itu aja!" kata pak Nono.


"Iya iya boleh,nanti saya sampaikan pada kakak saya agar menyiapkan anak anak santrinya!" kata kang Hatim.


"Kira kira berapa?" tanya pak Nono.


"Apanya?" tanya balik kang Hatim.


"Honornya?"


"Honor apa?"


"Kan pasti anak anak santri mukul alat itu,cape,pasti ada sakitnya! masa gak di kasih buat jajan! dan ke rumah saya lumayan jauh,pasti butuh ongkos!" kata pak Nono.


"Ya Allah,udah lah gak usah di pikirkan! nanti saya yang urus!" kata kang Hatim.


"Eh gak gitu!" kata pak Nono.


"Itung itung kado pernikahan Indri dari saya dan Hana!" kata kang Hatim.


"Jangan Ustadz,gak enak!" kata pak Nono.


"Di buat enak aja! lagian kan menolak rezeki itu gak boleh!" kata kang Hatim.


"Iya deh,terima kasih banyak!" kata pak Nono.


"Oh iya Ustadz,Indri juga ingin malam setelah resepsi pernikahannya di adakan pengajian! Indri ingin Ustadz Hatim yang ngisi ceramahnya!" kata bu Pipah.


"Adududuh,jangan saya umi,saya gak bisa!" kata kang Hatim.


"Kami mohon,gak sendiri kok! inginnya kami juga ngundang Ustadzah Mumpuni dan Ustadz Asep Mubarok untuk ngisi ceramah! tapi kami sangat mengharapkan Ustadz Hatim juga bisa ngisi acara!" kata pak Nono.


"Tuh,apalagi di sandingkan sama Ustadzah Mumpuni dan Abah Asep! malu saya!" kata kang Hatim.


"Asal Ustadz mau mengisi acara,kami rela membayar berapapun asal Ustadz mau!" kata pak Nono.


"Bagaimana kalau kang Roni? kakak ipar saya!"


"Tidak Ustadz,harus Ustadz!" kata pak Nono.


"Haduh,ya sudah! InsyaAllah! tapi saya gak janji!" kata kang Hatim.