Ustadz Muda

Ustadz Muda
#50


Kang Hatim kembali menuju mobil dengan dua warna bunga di tangannua.


Hana memperhatikan suaminya yang berjalan santai menuju mobil dengan dua batang dan dua warna mawar di tangannya.


Apa bunga itu untukku? ah ternyata seorang ustadz muda dingin itu juga romantis.Kata Hati Hana sambil senyum senyum hingga tak sadar kang Hatim sudah masuk ke dalam mobil.


"Kenapa senyum senyum begitu?" tanya kang Hatim sambil memasang sabuk pengaman.


"Apa ah tidak,kapan akang masuk?"


"Makanya jangan melamun!"


"Iya,tidak kok,eh ini kang,aku membelikan akang jajanan tadi,enak!" menyodorkan satu kantong bihun gulung yang tadi dia beli.


"Oh,terima kasih! saya juga tadi beli bunga,mau?"


"Bunga apa?"


"Entah,saya tidak tahu!" kang Hatim menyimpan bunga itu.


"Kalau kamu mau dan suka ambil saja!" Memakan bihun gulung.


"Emangnya akang tidak suka?"


"Tidak,saya sukanya bunga yang masih di pohonnya!"


"Terus,kalau akang tidak suka,kenapa di beli?"


"Saya hanya kasihan sama anak yang menjual itu,dan katanya ibunya sakit,jadi aku membelinya itung itung membantunya!"


"Ooh!" Muka Hana langsung datar.


Kirain dia sengaja beli buat istrinya agar terlihat romantis,eh faktanya karena kasihan sama orang lain.


"Kamu kenapa?" tanya kang Hatim.


"Gak papa,ayo cepat jalan,aku mau cepat sampai di pesantren!"


"Ok!"


Astaghfirullah,dia laki laki apaan sih? gak peka banget!


Suasana di dalam mobil hening.Kang Hatim fokus ke jalan dan Hana juga begitu.


Kang Hatim melirik ke arah Hana,namun dia tidak bisa melihat wajah Hana karena Hana masih memakai cadarnya.


"Ekhem!"


Hana menatap kang Hatim dengan wajah tanda tanya.


"Kenapa cadarnya gak di buka? kan ini dalam mobil,hanya ada saya di sini!"


"Males!" jawab Hana singkat karena masih kesal.


Ih dia ini kenapa sih? kenapa tiba riba bad mood? eh bad mood itu apa? ah entahlah,aku hanya mendengar orang lain. kata kang Hatim dalam hatinya.


Dia benar benar gak peka,dia tidak tahu kalau perempuan itu suka di beri perhatian! Hana.


"Tidak papa!"


"Kalau gak papa,buka cadarnya,saya ingin melihat wajah cantik istri saya!"


Hana tersenyum tersipu malu di balik cadarnya mendengar kata kata kang Hatim.


"Mau saya buka kan?"


"Tidak usah,saya gak mau buka cadar!"


"Kamu tahu nusyudz?"


"Tahu!"


"Apa hukumnya?"


"Dosa!"


"Apa kamu tidak takut dosa?"


"Takut lah!"


"Kalau takut,kenapa kamu membuat dosa?"


"Dosa apa?"


"Satu,kamu membantah perintah suami.Dua,kamu cemberut di depan suami.Tiga,kamu bicara dengan nada sedikit tinggi!"


"Ah ya ampun,terus apa mau akang sekarang?"


"Pertama,buka cadarmu!"


Hana membuka cadarnya tanpa bicara apa apa.Kang Hatim tersenyum karena perintahnya di turuti oleh istri tercintanya.


"Nah,kan cantik nya terlihat kalau di buka!" kata kang Hatim,namun Hana hanya diam melihat ke luar jendela.


"Begini nasib jika menikahi orang yang bisu!" kata kang Hatim menyindir.


"Bukannya menghina orang lain juga dosa!"


"MasyaAllah ternyata istriku tidak bisu,terima kasih ya Allah!"


"Emangnya siapa yang bisu? akang aja yang bicara sembarangan!"


"Hahah,iya iya maaf,makanya jangan cuekin saya,rasanya gak enak!"


"Itu juga karena akang!"


Bersambung....


Jangan lupa like,komen,komen,komen,vote,beri hadiah...


Ig/fb :AuthorSyiba