
"Bi,kita ke S dulu yu?!" ajak kang Hatim pada Hana dengan bicara sedikit berbisik.
"Mau apa?" tanya Hana yang juga berbisik.
"Ngambil sesuatu!" jawab kang Hatim.
"Ibu sama Ayah gimana?" tanya kang Hatim.
"Di tinggal aja,sebentar kok!" jawab kang Hatim.
"Ya sudah,tapi akang yang pamit!" kata Hana.
"Iyaa,ayo!" kata kang Hatim dan langsung pergi ke ruang keluarga karena mereka baru selesai makan.
"Yah,Bu,kami mau pergi dulu sebentar,ibu sama ayah tunggu di sini saja!" kata kang Hatim.
"Mau ke mana?" tanya ayah Bima.
"Ke S Yah,ada sedikit keperluan!" jawab kang Hatim.
"Oouh,iya sudah,hati hati di jalan!" kata ayah Bima.
"Iya yah!" kang Hatim dan Hana mencium tangan ayah Bima dan bu Nur.
"Assalamualaikum!" kata kang Hatim setelah mencium tangan kedua orang tuanya.
"Waalaikum salam!" jawab ayah Bima dan bu Nur.
"Mau ngambil apa si kang?" tanya Hana setelah di dalam mobil pajero hitam milik kang Hatim.
"Baju!" jawab kang Hatim singkat sambil menyalakan mobil dan langsung berjalan.
"Baju? baju apa?" tanya Hana.
"Baju seragam baru untuk para santri agar acara besok mereka memakai seragam yang baru!" jawab kang Hatim.
"Wah hebat,gratis?" tanya Hana.
"Iyaa!" jawab kang Hatim.
"Dari pertama aku masuk pesantren aku belum pernah di beri baju gratis sama guru!" kata Hana.
"Nanti akang belikan!" kata kang Hatim.
"Eh,kalau aku besok pakai baju apa?" tanya Hana.
"Baju apa aja,yang penting menutup aurat,bukan membungkus aurat!" jawab kang Hatim.
"Emang membungkus sama menutup apa bedanya?" tanya Hana.
"Jelas beda! menutup itu semuanya di tutup,sampai tidak kelihatan lekuk tubuhnya,kalau membungkus hanya membungkus dan masih memperlihatkan bentuk lekuk tubuh,seperti lontong! kalau cara menutup aurat seperti itu,yaitu masih memperlihatkan bentuk lekuk tubuhnya berarti masih belum menutup aurat dengan sempurna! masih bisa dosa!" kang Hatim menjelaskan.
"Kalau pakaian ku bagaimana? apa aku masih belum sempurna?" tanya Hana.
"Pikir saja sendiri! tapi ingat satu hal! akang gak mau menikah dengan perempuan yang suka memperlihatkan auratnya! walaupun sekedar bentukannya!" jawab kang Hatim.
"Gak papa,kan baju kamu banyak!" kata kang Hatim.
"Tapi tetap ingin yang baru!" kata Hana.
"Akang punya kaos dan sarung baru,belum pernah di pakai! kalau kamu mau pakai baju baru pakai itu saja!" kata kang Hatim sambil menahan bibirnya supaya tidak tersenyum dan wajah di buat sedingin mungkin.
"Ya sudah,besok aku mau diam di dapur aja sama bi Ani!" kata Hana sambil memalingkan muka menghadap ke arah jendela.
"Lah,kalau kamu sama bi Ani yang dampingin akang di pelaminan siapa?" tanya kang Hatim.
"Indri!" jawab Hana.
"Lah,kan Indri sudah pulang sama orang tuanya!" kata kang Hatim.
"Suruh datang lagi aja,apa susahnya?!" tanya Hana.
"Tapi kan akang maunya sama kamu!" kata kang Hatim.
Tidak ada respon dari Hana.Dia malah menatap ke arah jendela.Entah apa yang dia pikirkan.Namun pasti hatinya sedikit agak sakit.
Kang Hatim tersenyum melihat istrinya yang merajuk.
"Bi?" panggil kang Hatim namun tidak ada jawaban dari Hana.
"Hubbi!" panggil kang Hatim lagi namun masih belum ada jawaban.
"Hubbi!" panggil kang Hatim agak keras.
"Kamu kenapa bi? kamu kesurupan?" tanya kang Hatim dengan bicara seperti cemas.
"Ya ampun bi,Bissmillahirrlhman nirrohim!" kang Hatim memegang kepala Hana.
"Apaan sih!" Hana melepas paksa tangan kang Hatim.
"Saha ieu saha?" tanya kang Hatim sambil nahan tawa.
"Kaluar siah,ieu pamajikan aing ! tong ngangganggu! kaluar!" kata kang Hatim dengan bahasa sunda.
"do you understand my language?" tanya kang Hatim.Hana masih saja diam.
"kowe ngerti basa jawa?"
"Fokus nyetir aja! jangan kebanyakan akting!" kata Hana dingin semakin membuat kang Hatim gemas.
"Kaluar teu maneh! mun teu kaluar di bura!" kata kang Hatim sambil tersenyum karena tidak kuat menahannya.
"Orang gila!" kata Hana setelah tahu kang Hatim senyum senyum karena menjahilinya.
"Maaf maaf!" kata kang Hatim sambil tertawa.
Hana kembali menatap ke luar jendela karena sudah terlalu sebel sama kang Hatim.
"Bi,sudah dong!" kata kang Hatim setelah selsai tertawa.