
Selesai sholat berjamaah ashar, kang Hatim dan keluarga baru bisa bertemu dengan kyai pimpinan pesantren Taisirul kholaq.
Kyai Munaya dengan sangat ramah bercengkrama bersama keluarga kang Hatim. Basa basi bahas ini itu sebelum ke pembicaraan inti sehingga kyai Munaya yang bertanya maksud dan tujuan datangnya kang Hatim sekeluarga ke kediamannya.
"Maaf nih Kyai, ada istilah yang mengatakan tidak akan ada asap tanpa ada api! Tentunya, kyai datang kesini tidak terbawa arus air, tidak terbawa terbang oleh angin, melainkan sengaja datang ke sini dengan maksud dan tujuan yang tentu! Rasa bahagia itu ada, pesantren kecil kami bisa kedatangan seorang ulama besar, tapi rasa kaget itu ada, karena tidak biasanya kyai datang ke sini! Ada apa kyai, silahkan utarakan maksud dan tujuan kyai sekeluarga sehingga rela datang ke sini!" kata kyai Munaya.
"MasyaAllah kyai, yaa yang pertama saya minta maaf, datang ke sini tanpa ada kabar dari sebelumnya, sehingga mengganggu aktivitas, mengganggu waktu istirahat, dan merepotkan orang orang sini!" ucap kang Hatim.
"Tidak kyai, sama sekali tidak merepotkan! Justru kami disini sangat senang kedatangan sampean kyai!" kyai Munaya.
"Keduanya, karena ada hadist yang bunyinya sampean lebih tau, barang siapa yang memperbanyak silaturrahmi, maka akan di panjangkan umurnya, di banyakin rizkinya, yaaa Alhamdulillah sudah terbukti, saya sekeluarga masih di berikan panjang umur sehingga bisa bertemu dengan keluarga besar Taisirul Kholaq! Dengan silaturrahmi juga terbukti kami mendapat banyak rezeki, sudah tidak perlu di bicarakan kalau masalah rezeki makanan yabg dari tadi di suguhkan pada kami, kami juga mendapat ilmu, mendapat berkah!"
"Alhamdulillah, syukron kyai!"
"Kemudian, saya ingin berterima kasih kepada kyai khususnya, dan umumnya pada semuanya tenaga pengajar di ini pesantren karena sudah mendidik anak saya!"
"Sebentar, maaf saya potong! Maksud dari anak sampean itu siapa kyai?" tanya Kyai Munaya.
"Nah itu juga kesalahan saya, waktu pertama anak saya ke sini, tidak di antar sama saya, saya juga tidak menitipkannya, tapi yang mengantarkan anak saya itu pamannya, Ustadz Zulfi! Atas kesalahan saya yang itu, saya juga minta maaf yang sebesar besarnya!" kata kang Hatim.
"Zhaffar, nama anak saya Zhaffar kyai! Nama lengkapnya Muhammad Muzhaffar Alfarizqi!" jawab kang Hatim.
"MasyaAllah, Muhammad Muzhaffar Alfarizqi Hatim Abdurrahman! ya Allah! Ana baru sadar kyai, ternyata ada nama sampean di salah satu santri ana!" kyai Munaya.
"Nah begitu kyai, sekali lagi saya minta maaf yang sebesar besarnya!" kata kang Hatim.
"Laa kyai, ana yang minta maaf, sudah berani mendidik putra sampean, bahkan mungkin saat di sini, anak sampean itu ana marahi, ana bentak, bahkan ana pukul dengan rotan!"
"Tidak apa kyai, saya sangat berterima kasih sudah mau mendidik putra saya!"
"Alhamdulillah, saya sangat beruntung bisa mendidik salah satu putra sampean kyai!"
"Nah gini kyai, beberapa hari yang lalu waladii pulang ke rumah! Dia cerita, kalau dia berbuat kesalahan sehingga dia di hukum! Atas nama Zhaffar, waladii, saya minta maaf kyai!"
"Ya Allah, kyai ana minta maaf kyai, ana sudah berani menghukum Zhaffar dengan hukuman yang lumayan berat kyai! Ana minta maaf kyai!"
"Tidak perlu minta maaf, itu kesalahannya, dia dia harus menanggung akibatnya!"