Ustadz Muda

Ustadz Muda
#248


"Bi Asih,tolong buatkan minuman buat empat orang sama bawakan cemilan ya! Ada tamu!" kata kang Hatim setelah di rumahnya dan mempersilahkan tamu tamunya duduk di ruang tamu dan kemudian menyempatkan untuk menemui bi Asih.


"Maaf ya,rumahnya berantakan! Semoga bisa nayaman!" kata kang Hatim.


"MasyaAllah Ustadz! Berantakan di mana nya ya? Ini sangat rapih Ustadz! Malahan saya sampai salfok sama kitab kitab Ustadz yang masyaAllah!" kata Arham.


"Ah itu hanya pajangan! Baca nya gak bisa sama sekali! Cuman suka ngoleksi aja!" kata kang Hatim berbohong.


"Jujur,kami tidak percaya Ustadz tidak bisa membaca kitab kitab itu!" kata Arham.Kang Hatim tersenyum sambil geleng geleng kepala.


Tidak lama setelahnya,datang bi Asih menyuguhkan makanan dan minuman dengan sopan.


"Terima kasih bi!" kata kang Hatim.


"Sama sama Ustadz! Ada yang perlu di bantu lagi?"


"Ah tidak bi! Tapi kalau pekerjaan rumah selesai,bibi bantu bantu di dapur umum aja!" jawab kang Hatim.


"Baik kang!" jawab bi Asih berlalu dengan sopan.


"Sebenarnya kalian tahu dari mana ke saya? Sampai tahu alamat saya?" tanya kang Hatim.


"Maaf sebelumnya Ustadz! Kami datang tanpa kabar,bahkan mungkin kami mencurigakan! Maaf juga jika kami mengganggu waktu Ustadz!" kata Arham.


"Tidak tidak,saya tidak terganggu! Saya senang bisa kedatangan kalian para ahli ilmu! semoga membawa keberkahan bagi pesantren ini umumnya dan khususnya bagi rumah saya ini!" kata kang Hatim.


"Jadi gini Ustadz! Dua minggu lalu,kami menghadiri tabligh akbar di acara perniakahan! Kbetulan waktu itu di pesantren lagi kosong! Gak ngaji! Jadi kami nyempetin untuk menghadiri tabligh akbar itu! Ditambah kami penasaran sama Ustadzah dan Ustadz nya! Kami di sana sampai selesai! Samapi Ustadz Hatim menutup ceramahnya kami masih di sana! Bahkan sangat tidak ingin Ustadz Hatim mengakhiri ceramahnya!" kata Arham.


"Iya,terus gimana?" tanya kang Hatim dengan sedikit bingung.


"Nah,seminggu kemudian,kami pengurus pondok mendatangi rumah yang punya acara! Namanya pak Nono kalau gak salah! Menanyakan alamat Ustadz Hatim!"


"Ooh pengurus! Iya iya!" kang Hatim mengangguk angguk.


"Nah,kebetulan di pesantren kami suka di adakan pengajian rutin tiga bulan sekali! Dan suka mendatangkan Ustadz Ustadz,Habib habaib dari luar untuk mengisi ceramah di sana!" kata Arham.


Kang Hatim hanya mengangguk.


"Nah jika berkenan Ustadz! Kami sangat sangat mengharapkan Ustadz bisa hadir di sana dan mengisi cara di sana! Kami juga sangat sangat mohon!" kata Arham.


"Aduh,ini yang saya takutkan! Minum dulu!" kata kang Hatim.Dia pun minum teh hangat yang di suguhkan bi Asih diikuti oleh tamunya.


"Maaf ini sebelumnya! Bukan saya menolak undangan! Tapi kalau undangannya insyaAllah saya usahakan datang! Tapi kalau untuk ceramahnya saya gak bisa!" jawab kang Hatim.


"Aduh Ustadz! Kami mohon Ustadz! Usahakan!" kata arham.


"Bukan apa apa mas! Saya ini gak bisa apa apa! Gak pantes buat cermah! Kemarin aja waktu sama Ustadz Asep itu saya ngapalinnya dua minggu! Dan materinya saya minta sama guru saya!" kata kang Hatim.


"Maaf Ustadz! Lagi lagi saya tidak percaya dengan ucapan Ustadz!" kata Arham membuat kang Hatim kembali tersenyum.


"Kalau boleh tahu,siapa pimpinan pesantrennya?" tanya kang Hatim.


"Ustadz Kholil!" jawab Arham.


"Ustadz kholil? Roudhotus salam?" kang Hatim mengingat ingat sesuatu.


"Ustadz Muhammad Kholil Abdul Lathif putra dari Kyai Endang?" tanya kang Hatim.


"Wah ternyata benar!" kata Arham.


"Benar apanya?" tanya kang Hatim.


''Kata Ustadz Kholil,saat kami menyebut nama beliau,pasti Ustadz akan langsung mengenalnya!" jawab Arham.


"Hhahah,pasti lah saya kenal! Beliau guru soragan saya di pondok! Tapi selain guru,beliau juga bestfriend!" kata kang Hatim.


"MasyaAllah!" giliran Arham yang geleg geleng kepala.


"Ya sudah! acaranya kapan?" tanya kang Hatim.


"Malam kamis minggu ini Ustadz!" jawab Arham dengan semangat.


"Saya pasti datang ke sana! Tapi kalau untuk ceramah! KIta lihat nanti saja ya!" kata kang Hatim.


"Yah,kami mohon Ustadz! Bersedia ya!" kata Arham.


"InsyaAllah!" kata kang Hatim.


"Alhamdulillah!" kata Arham dan ketiga temannya yang lain.