
"Hana ayo!" kata kang Hatim.Mereka akan pergi ke rumah teh Alvi.Mereka pergi setelah beres ngaji subuh.
"Iya,sebentar kang!" Hana cepat cepat turun dari kamarnya karena kang Hatim sudah menunggunya.
"Kenapa lama?" tanya kang Hatim yang sepertinya kesal karena terlalu lama menunggu.
Hana tidak menjawab pertanyaan kang Hatim.Dia malah menunduk.
"Ya sudah,ayo berangkat!" kang Hatim langsung ke luar rumah meninggalkan Hana.
Harusnya dia ngerti,kalau perempuan itu jika dandan harus banyak waktu! Hana menggerutu dalam hatinya.
"Hana cepat!" teriak kang Hatim dari luar.
"Iya,sebentar!" Hana langsung buru buru keluar.
Kang Hatim sudah menunggu di dalam mobil.Setelah mengunci pintu rumah,Hana langsung naik ke mobil dengan hati sedikit kesal.Karena yang biasanya kang Hatim selalu membukakan pintu untuknya.
Selama dalam perjalanan,mereka tidak mengobrol sama sekali.Kang Hatim fokus menyetir dan Hana juga sibuk melihat ke luar jendela hingga tak terasa sudah sampai di Baitussalam awal.
Kang Hatim langsung memarkirkan mobilnya di depan rumah teh Alvi.Terdengar dari arah madrasyah,para santri sedang membaca Al-Fiyyah dengan suara yang keras.
"Tuh liat,sampai jam segini masih ngaji,gak seperti di Baitussalam sani,ngaji sampai jam sebelas siang juga sudah payah!" kata kang Hatim sebelum turun dari mobil.
Hana tidak menjawab perkataan kang Hatim dan langsung saja turun mengikuti kang Hatim.
Tok tok tok
"Assalamualaikum!" kata kang Hatim setelah mengetuk pintu kang Hatim.
"Waalaikumussalam!" jawab teh Alvi dari dalam rumah.
"Eh masyaAllah pengantin baru!" kata teh Alvi setelah membuka pintu.
Seperti biasa,kang Hatim langsung mencium tangan teh Alvi diikuti Hana.
"Apa kabar Hana?" tanya teh Alvi.
"Alhamdulillah baik teh!" jawab Hana.
"Alhamdulillah kalau gitu,ayo masuk!" ajak teh Alvi.
"Iya,terima kasih teh!" kata Hana.
Merekapun masuk ke dalam rumah teh Alvi.
"Silahkan duduk!" kata teh Alvi.
"Mau minum apa?"
"Lemon tea!" jawab kang Hatim.
"Iya teh,bercanda kok!" jawab kang Hatim.
"Hana,kamu mau minum apa?"
"Air putih saja teh!" jawab Hana dengan malu.
"Ya sudah,tunggu sebentar ya!"
Selama di tinggal oleh teh Alvi,kang Hatim dan Hana tidak mengobrol apa apa sama sekali.
Teh Alvi memperhatikan pasangan pengantin baru itu dari dapur.
"Kenapa mereka tidak mengobrol? apa mereka ada masalah? atau mereka memang tidak pernah berkomunikasi? apa mereka tidak saling mencintai? tidak mungkin tapi.Ah biarkan saja lah!"
"Terima kasih teh!" kata kang Hatim setelah di beri secangkir kopi oleh teh Alvi.
"Terima kasih teh,maaf merepotkan!" kata Hana.
"Sama sama!" jawab teh Alvi dengan senyuman.
"Ada apa kalian ke sini?" tanya teh Alvi.
"Emh,kang Roni ke mana teh?"
"Lagi ngajar!"
"Alvin?"
"Ikut sama kang Roni!"
"Ouh,gini teh,aku datang sama istriku ingin meminta saran!" kata kang Hatim.
Aku? wah kang Hatim ngucapin aku,padahal biasanya saya! kata hati Hana.
"Saran? saran apa?" tanya teh Alvi.
"Gini teh,kan aku sama Hana ingin mengadakan resepsi pernikahan,nah menurut teteh bagusnya kita mengadakan resepsi seperti apa ya?"
"Lah,kan yang mau resepsi kamu,kok nanya teteh? kalian diskusi saja berdua!"
"Justru kami juga bingung teh!"
"Hana,kamu mau resepsi yang seperti apa?" tanya teh Alvi.
"Saya tidak tahu teh,saya ngikut saja!" jawab Hana.
"Gini saja......