
Tanpa di undang,tanpa di ajak,tanpa di suruh bapak bapak warga masyarakat juga ikut membantu masang panggung untuk acara kang Hatim.
Termasuk kakak kakak ipar kang Hatim juga ikut membantu kecuali kang Roni karena ada jadwal ngajar santri baitussalam awal.
Tinggal beberapa persen lagi panggung dan tenda sudah siap pakai.Sudah di hias menggunakan kain kain agar terlihat lebih indah.
"Bagus ya kang!" kata Hana yang sedang berdiri sambil memeluk tangan kanan kang Hatim yang juga sedang berdiri melihat proses pembuatan tenda dan panggung itu.Tadinya kang Hatim mau ikut membantu namun tidak ada yang mengijinkan.Kata warga masyarakat di tambah kakak kakaknya saat kang Hatim mau membantu Pengantin diam saja! jangan ikut membantu! nanti kecapekan sakit! kata orang orang itu.
Akhirnya kang Hatim hanya bisa berdiri dan melihat prosesnya di temani sang istri tercinta.
"Kamu suka?" tanya kang Hatim.
"Suka!" jawab Hana.
"Lihat mereka!" bisik teh Dawa pada teh Putri.
"Kenapa mereka?" tanya teh Putri yang juga berbisik.
"Mereka sudah saling mencintai!" jawab teh Dawa masih berbisik.
"Kalau gak saling mencintai tidak mungkin sudah tinggal serumah kan?" tanya teh Putri masih berbisik.
"Bisa aja kan,walaupun mereka satu rumah tapi pisah kamar!" jawab teh Dawa.
"Lah,gak mungkin! si Hatim walaupun awalnya nolak tapi dia suka! aku yakin!" kata teh Putri.
"Hey,kenapa kalian bisik bisik?" tanya teh Alvi yang dari tadi memperhatikan kakak kakaknya ngobrol namun bisik bisik dengan mata keduanya mengarah ke pengantin baru.
"Gak ada apa apa!" jawab teh Dawa.
"Kan teteh juga tahu,kalau berbohong itu dosa,apalagi bohong sama adik sendiri!" kata teh Alvi.
"Kamu kan yang paling Ustadzah di antara kita semua,masa mau ghibah!" kata teh Dawa.
"Yang paling Ustadzah tuh,teh Zahra bukan aku!" kata teh Alvi.
"Oh iya juga ya,tapi di antara suami suami kita,suami kamu yang paling ustadz kan?" tanya teh Putri.
"Coba saja kita bisa adukan ilmu si Hatim sama ilmu Roni!" kata teh Putri.
"Lombakan?" tanya teh Dawa.
"Iyaa!" jawab teh Putri.
"Jangan begitu! masa suamiku dan adikku di suruh ngadu ilmu,kalau nantinya bermusuhan gimana? kan bahaya!" kata teh Alvi.
"Bercanda kok Vi!" kata teh Dawa sambil tertawa kecil.
Proses pembuatan panggung dan tenda sudah selesai.Sebagian bapak bapak sudah pada duduk istirahat.
"Bi,bawa nasi sama lauk nye ke sini ya! biar bapak bapaknya makan di sini saja!" kata kang Hatim.
"Iya kang!" Hana langsung pergi ke rumahnya untuk membawa nasi dan lauknya sesuai perintah kang Hatim.
"Hana mau ke mana?" tanya teh Dawa.
"Gak tahu!" jawab teh Putri.
"Coba aku tanya Hatim!" kata teh Putri dan langsung menghampiri kang Hatim.
"Hana mau ke mana?" tanya teh Alvi.
"Mau bawa nasi buat makan bapak bapak ini!" jawab kang Hatim.
"Ooouh!" teh Alvi kembali ke tempat asalnya yaitu di mana kakak kakaknya berada.
"Hana mau ngambil nasi untuk makan bapak bapak!" kata teh Alvi.
"Ya sudah,bantu sana!" kata teh Dawa.
"Aku pergi dulu!" teh Alvi langsung pergi untuk membantu Hana.
"Aku juga mau bantu!" teh Putri juga nyusul teh Alvi untuk membantu Hana juga.Karena di tinggal sendiri,akhirnya teh Dawa juga ikut nyusul ke adik adiknya untuk membantu Hana.