Ustadz Muda

Ustadz Muda
#188


Hana sudah sadar dan sudah kuat untuk menjenguk ayah nya di ruang icu dengan keadaan sudah kritis karena pendarahan.


Hana duduk di samping ayahnya dengan menggenggam tangannya.Sedangkan kang Hatim membaca Al-Qur'an di samping sebelahnya lagi.


"Ayah,ini aku! anak ayah satu satunya! yang paling ayah sayangi! ayah harus bisa bertahan! aku tidak mau kehilangan sosok pahlawan!" kata Hana dengan air mata sudah menetes.Dokter menyuruh agar Hana mengajak ngobrol ayah Bima agar membantu mempercepat kesembuhan ayah Bima.


"Ayah ingat tidak,waktu kakak lulus sekolah SMP dan aku masih sekolah SD.Waktu itu kita pergi ke pantai dengan tujuan merayakan kelulusan kakak yang lulus dengan mendapat nilai paling bagus di antara teman teman sekelasnya! Di pantai kita mengubur kakak dengan pasir dan meninggalkannya!" kata Hana sambil senyum senyum.


"Namun tidak di duga ombak besar datang hingga menenggelamkan kakak! saat itu kita panik buru buru menghampiri kakak yang wajahnya kotor karena pasir yang di bawa ombak! Aku dan ayah menggali kembali kakak,dan kakak merajuk marah sampai gak melanjutkan main di pantai malah pulang ke penginapan!" kata Hana.


"Tapi karena aku adik kesayangan kakak! saat aku pulang ke penginapan! kakak memang masih marah! tapi saat aku jatuh,dia cemas dan buru buru menolongku! padahal aku cuman pura pura agar dapat perhatian!" kata Hana dan dia merasakan pergerakan pada jari tangan ayahnya.


"Kang! jari ayah gerak kang!" kata Hana dengan semangat.


"Ayah,ayo bangun ayah! bukannya ayah ingin punya cucu? aku sudah punya ciri ciri aku hamil! ayo bangun yah!" kata Hana yang memang belum kang Hatim beri tahu kalau Hana emang ada kemungkinan hamil.


Pelan pelan ayah Bima membuka matanya dan tersenyum melihat putri kesayangannya.


"A-a-ayah mi-mimpi ka-kamu se-sedang mengandung!" kata ayah Bima dengan tersenyum.Hana juga tersenyum bahagia melihat ayahnya namun air matanya tidak berhenti untuk menetes.


"A-Ayah se-senang a-akan punya cucu!" kata ayah Bima.


"Ayah,jangan bicara seperti itu hiks,ayah harus bisa gendong anak aku! cucu pertama ayah!" kata Hana.


Ayah Bima tersenyum dan memejamkan matanya dengan perlahan dan sebuah alat yang mirip seperti komputer itu menunjukkan gambar garis lurus berwarna hijau dengan suara tiiiiiit yanh cukup panjang.


"Ayah!" panggil Hana.


"Ayah! kang! ayah kenapa kang?" Hana panik karena ayahnya tidak membuka matanya lagi.


"Tenang bi,tenang!" kata kang Hatim.Dia memegang pergelangan tangan ayah Bima mengecek denyut nadi ayah Bima.


"Innalillahi wa innailaihi rooji'uun!" kata kang Hatim dan menyimpan kedua tangan ayah Bima di bawah dada di atas perut.


"Ayah!" kata Hana yang menangis lagi.


"Sabar bi,ini sudah waktunya! Kullu nafsi dzaiqotul mautc setiap yang bernyawa akan merasakan yang namanya meninggal! namun beda cara,waktu dan tempat!" kata kang Hatim sambil memeluk Hana yang menangis.


"Tapi aku belum siap di tinggalkan oleh ayah! aku ingin aku dulu yang meninggalkan ayah!" kata Hana di sela sela tangisnya.


......Sudah waktunya ayah pergi nak,Ayah pergi dengan tenang karena Ayah sudah menitipkan mu pada orang yang benar! Semoga kamu selalu bahagia anakku Farhana Sri Cempaka Indah......