
"Gak kerasa! kita sudah sampai!" kata Hana setelah memasuki gerbang pesantren.
"Gak capek kan?" tanya kang Hatim.
"Aduh,capek kang! aku mau tunggu di sini,akang pulang dulu bawa mobil!" jawab Hana.
"Dasar manja!" kata kang Hatim.Mereka terus berjalan tanpa melepaskan pegangan tangan mereka dari tadi sampai sekarang.
"Hatim,Hana!" panggil teh Zahra saat pasangan itu lewat di depan rumah umi.
"Ada apa?" tanya kang Hatim.
"Ini ada paket untuk Hana!" kata teh Zahra.
Kang Hatim melihat ke arah Hana,Hana juga melihat ke arah kang Hatim.Dengan pikiran yang sama.'Pasti peneror itu lagi' dalam pikiran kang Hatim dan Hana.
"Sini teh!" kang Hatim mengambil paket itu yang seperti biasa berbentuk kotak.
"Kamu belanja online?" tanya teh Zahra setelah menyerahkan paket itu.
"Emh,iya teh!" kata kang Hatim.
"Ooh iya iya!" kata teh Zahra.
"Makasih teh!" kata kang Hatim.
"Iya sama sama!" jawab teh Zahra.
"Aku pulang dulu!" kata kang Hatim.
"Iya!"
"Pasti isinya rubah lagi!" kata Hana melanjutkan perjalanan.
"Mau di buka dulu apa mau langsung di buang?" tanya kang Hatim.
"Buka dulu aja kang,pengen tahu apa isinya!" kata Hana.
Kang Hatim menutup hidungnya.Begitu juga Hana.
"Bangkai kodok bi!" kata kang Hatim.
"Ih,jijik kang! buang buang!" kata Hana.
"Bentar,suratnya beda!" kata kang Hatim.Kali ini suratnya bersih dan tintanya warna hitam.
"Coba buka!" kata Hana.
Kang Hatim membuka surat itu dan membaca isinya.Namun setelah dia baca,dia tidak berani menyampaikannya pada Hana.
"Apa isinya kang?" tanya Hana yang penasaran karena mimik wajah kang Hatim tiba tiba berubah.
Gimana ini? apa aku harus berbohong? kata hati kang Hatim bingung.
"Kang!" panggil Hana.Kang Hatim masih bengong bingung.
"Sini!" Hana merebut surat yang ada di tangan kang Hatim hingga sadar dari bengongnya.
Hana,kalau jam lima sore lu belum minggat dari rumah suami lu, alias lu belum meninggalkan suami lu,liat apa yang akan terjadi nanti malam! isi dari surat itu membuat Hana takut.
"Gimana ini kang,dia nyuruhnya pukul lima,itu sudah setengah enam kang!" kata Hana dengan wajah takut.
"Gak gimana gimana bi! emangnya kalau ini masih jam empat,kamu mau ninggalin suami kamu?"
"Gak mau sih,tapi aku takut akang kenapa napa! jadi lebih baik aku pergi!" kata Hana dengan air mata mulai menetes.
"Akang gak bakal kenapa napa,kamu harus yakin! kita punya Allah yang harus kita takuti! jangan takut dengan hal seperti itu! kita punya Allah yang harus kita takuti dan harus kita pinta perlindungan dan pertolongan darinya!" kata kang Hatim membawa pada pelukannya.
"Aku takut!" kata Hana sambil menangis di dada kang Hatim.
Ya Allah,tolong bari hamba mu ini petunjuk ya Allah! beri keluargaku perlindungan ya Allah! tolong kami! jauhkan dari hal hal seperti itu ya Allah! doa kang Hatim dalam hatinya.
"Kamu tenang ya bi,besok akang akan suruh Ustadz Fahmi untuk membantu kita lagi!" kata kang Hatim dengan suara agak serak.