Ustadz Muda

Ustadz Muda
#208


Setelah maghrib setelah sholat berjamaah di mushola bersama suaminya,kini Hana sedang di kamar bersama Auni yang baru sampai di rumah itu di jemput Yogi.


"Besok kakak mau pulang dulu ke pesantren!" kata Hana.


"Lah,kirain kakak mau tinggal disini aja!" kata Auni.


"Kan kakak sudah nikah! Suami kakak sudah punya rumah! Dia juga punya tanggung jawab di pesantren!"ucap Hana.


"Gitu ya,tapi kalau gitu aku jadi gak punya temen dong! Baru aja aku seneng punya kakak yang baik banget! Serasa punya temen gitu!" kata Auni.


"Maaf ya,bukan kakak gak mau tinggal di sini! Kakak sangat sangat ingin,apalagi sekarang mungkin rumah ini sudah jadi rumah bersejarah!" kata Hana.


"Iya kak aku mengerti!"


"Tapi insyaAllah,seminggu dua kali kakak akan kesini! Buat ngecek kantor dan pekerjaan lain!" kata Hana.


"Tapi selama kakak di kampung,kantor di urus sama siapa?" tanya Auni.


"Sama,Sekretaris Arjuna! Sekretaris ayah!" jawab Hana.


"Sekretaris Arjuna yang ganteng itu ya? Yang kaya oppa oppa korea?'' tanya Auni dengan semangat.


"Ganteng sih iya,kan laki laki! Kalau seperti opah opah korea kakak gak tahu!" jawab Hana.


"Cie bilang ganteng!" kata Auni.


"Kan laki laki,kalau perempuan cantik!"


"Ganteng mana sama suami kakak?" tanya Auni menggoda Hana.


"Ya jelas ganteng suami kakak lah!" kata Hana sambil tersenyum malu dengan pipi merah yang terlihat jelas oleh Auni karena Hana tidak memakai cadarnya.


"Romantis ih kakak! Jadi ingin nikah juga!!'' kata Auni.


"Nikah aja! Bagus malah! Untuk menyempurnakan agamamu!" kata Hana.


"Belum ada calonnya!" kata Auni dengan lesu.


"Kenapa gak sama Arjuna aja? Bukannya kamu suka?" tanya Hana balik menggoda Auni.


"Suka sih! Ganteng! Tapi kalau kakak tahu,dia itu cuek banget! Dingin! Jangankan sayang atau cinta sama aku! Kalau di sapa pun hanya di jawab dengan senyuman!" kata Auni.


"Iya gitu? Masa sih?" tanya Hana.


"Iya kak bener!" jawab Auni.


"Tapi emang sih,saat ngobrol dengan kakak dengan kang Hatim pun formal banget gitu!" kata Hana.


"Tapi kalau kamu mau tahu,kang Hatim juga gitu! Apalagi saat awal awal nikah! Kan kami emang gak pacaran,Kami nikah kaget! " kata Hana.


"Nikah kaget? nikah kaget gimana?" tanya Auni.


"Jadi,kang Hatim itu di suruh kakak kakak nya buat cepet cepet nikah,tapi nikahnya harus sama santri di pondoknya! Nah kang Hatim milih kakak! Mereka tidak meminta persetujuan kakak buat nikah sama kang Hatim,mereka langsung melamar kakak ke ayah,dan saat itu di lamar saat itu juga di tikahkan!"


"Oh bisa gitu ternyata ya?!" Auni kebingungan.


"Terus setelah kang Hatim menikahi kakak,kang Hatim gak ngasih tau kakak kalau dia sudah nikah sama kakak! Cuman,sikapnya jadi nyebelin! Perhatian lebih,tapi malah jadi buat kakak jijik! Tiap ketemu harus cium tangan! Kan pasti kakak sebel tuh,secara kan dia laki laki bukan muhrim!' kata Hana.


"Terus giamana kakak bisa tahu kalau si kakak ipar itu suami kakak?'' tanya Auni.


"Awalnya mimpi,tapi mimpi itu seperti nyata banget,sampai kepikiran,ngaji juga gak fokus! Akhirnya,dari pada kakak penasaran,kakak ijin buat pulang dulu! Tujuannya ingin menanyakan langsung tentang mimpi itu ke ayah dan ibu! Sialnya,kakak harus ijin sama kang Hatim!" jawab Hana.


''Terus terus gimana? Menarik nih kalau di jadiin novel!'' kata Auni.


"Nah yang bikin makin kesel sama kang Hatim,dia emang ngasih ijin,tapi harus dia yang antar langsung untuk pulang!"


"Terus gimana? kakak mau?"


"Yah awalnya nolak,namun malah dia yang balik maksa agar dia mengantar kakak!" kata Hana.


"Terus?"


"Ya kakak terpaksa mau!'' kata Hana.


"Terus di jalannya gimana?" tanya Auni.


"Kakak tetep jaga jarak! Tapi dia tetep nyebelin! Jangan pake cadar lah,sampai sampai kakak gak sengaja ketiduran sampai mimpi kang Hatim nyium pipi kakak!" kata Hana.


"Ih lucu!"


''Ternyata semua orang di rumah ini,termasuk pak Ardi bi Mar dan ayah sama ibu juga sudah kenal kang Hatim! Membuat kakak semakin bingung!" kata Hana.


''Terus gimana?"


"Waktu itu kang Hatim ijin pergi mau ke rumah temennya entah siapa,dan kakak menanyakan hal yang kakak mimpikkan! Dan ternyata bener!" kata Hana.


"Terus gimana reaksi kakak?" tanya Auni.


"Otomatis kakak kaget lah,mana kakak kan belum mau nikah,belum ingin punya suami,masih ingin nyari ilmu,masih ingin hidup bebas gitu gak di larang larang selain sama ayah sama ibu! Kakak nangis sat itu" jawab Hana dengan suara mulai serah.


"Eh maaf maaf kak! Aku membuat kakak sedih!" kata Auni.


*Yang mau cerita lengkapnya,baca aja kembali dari episode awal ya.....