Ustadz Muda

Ustadz Muda
#258


"Hubbi,kamu gak papa?" tanya kang Hatim setelah masuk ke dalam ruangan dan mengahampiri Hana yang berbaring di atas ranjang khusus dan duduk di sampingnya di atas kursi plastik yang tersedia di sana.Hana sudah di pakaikan selimut garis garis dengan sebenarnya dia sudah tidak memakai daleman bawah karena di lepas oleh bidan dan tidak boleh di lepas.Awalnya Hana menolak,namun gimana lagi kan sudah waktunya.


"Aku gak papa kang! Sakitnya sudah mulai berkurang!" jawab Hana.


"Alhamdulillah kalau gitu bi! Akang seneng dengernya!" kata kang Hatim.


"Tapi kata bu bidan aku mau melahirkan kang! Gimana kalau kita pulang aja dulu ngambil perlengkapan?"


"Tadinya akang juga mau gitu! Tapi gak di bolehin sama bu bidannya! Kata nya bahaya! Emang sih setelah di pikir pikir emang bahaya!" kata kang Hatim.


"Terus gimana dong? Masa gak bawa perlengkapan?!"


"Tenang aja bi,akang sudah minta tolong ke teh Alvi agar membawakan semuanya ke sini!"


"Emangnya teh Alvi tahu? Kan aku belum nyiapin apa aja yang harus di bawa! Belum di pilih pilih juga!"


"Teh Alvi kan sudah punya Alvin,sudah pernah hamil dan melahirkan! Pasti dia tahu apa saja yang di perlukan! Dan bahkan dia akan lebih tahu dari pada kamu! Teh Alvi sudah pengalaman!" kata kang Hatim.


"Padahal aku gak mau ngerepotin orang lain!" kata Hana.


"Namanya juga manusia bi,pasti lah akan merepotkan orang lain! kalau tidak merepotkan orang lain,buat apa kita jadi manusia? Dan buat apa Allah menciptakan manusia selain kita?''


"Iya,tapi gak enak! Apalagi malam malam begini! Taku ganggu!"


"Udah,kamu tenang aja! Jangan banyak pikiran! Siap siap aja! Banyakin sholawat dan doa nya!" kata kang Hatim.


"Kang perut aku sakit lagi!" kata Hana memegang perut nya.


''Tunggu,akang panggil bu bidannya!" kata kang Hatim dengan buru buru keluar ruangan Hana memanggil bidan.


"Laailaaha illallah!" Hana kesakitan sambil bicara agak ngeden.


Tidak lama kemudian,kang Hatim datang kembali bersama bidan.Bidan langsung memasukkan tangannya ke dalam selimut yang di pakai Hana dengan tangan sudah memakai sarung tanagn karet.


"Wah ternyata prosesnya sangat cepat! Ini sudah pembukaan delapan!" kata bu bidan.


"Gimana dok?" tanya kang Hatim.


"Mungkin tidak lama lagi,mbak nya akan melahirkan! Jangan ngeden dulu ya mbak! Tahan dulu! Bahaya kalau belum waktunya,terus di dorong!" kata bidan.


"Tahan tahan!" kata bidan.


"Ustadz,ini ada buku yasin,silahkan di baca saja!" kata bu bidan memberikan buku kecil yang berisi qur'an surat yasin.Kang Hatim menerimanya dan membacanya dengan duduk di samping Hana yang sudah tidak bisa diam menahan sesuatu yang ingin keluar dari dirinya.


''Akang sakiiiit!" kata Hana,dan kang Hatim malah fokus baca suart yasin itu.Hana memegang erat tangan kang Hatim.


Tidak lama kemudian,bidan datang kembali dengan tiga orang perawat lainnya yang mereka semua sudah memakai masker dan sarung tangan siap untuk bekerja.


"Baca dulu!" kata bu bidan memberikan buku yang sama seperti yang di berikan kepada kang hatim di berikan juga kepada tiga asistennya.Asistennya itu menurut duduk di sopa yang tersedia dan kemudian membaca surat yasin yang ada dalam buku itu.Mereka sudah biasa seperti itu setiap ada yang ingin melahirkan di sana.


Hana merasakan sakit pada perutnya itu sekitar lima menit sekali.dan kang Hatim bersama bu bidan dan yang lainnya masih setia membaca surat yasin itu.


kemudian,teh Alvi datang langsung masuk ke ruangan setelah mengetuk pintu dan sudah dapat ijin dari yang di dalam.teh Alvi tahu ruangan itu dari perawat yang jaga di luar.


Kang Hatim mencium tangan teh Alvi.Tidak dengan Hana.Dia kembali gelisah tidak bisa diam.


"Mana air doa dari umi?" tanya kang Hatim.


"Nih," kata teh Alvi memberikan sebotol air pada kang Hatim.Kang Hatim mengambilnya,membukanya dan mulutnya bergetar membaca doa,kemudian dia meniup air itu.Dia minumkan air itu ke Hana walau susah dan Hana hanya minum sedikit.kemudian kang Hatim menuangkan air itu ke tangannya dan membasuhkannya ke muka Hana yang sudah basah dengan keringat.


"Pembukaananya sudah sempurna,namun ini sering terjadi,seperti ada yang menghalangi si bayi untuk keluar!" kata bu Bidan.


"Kang aku sudah gak kuat!" kata Hana dengan mata sudah mulai mau tertutup.


"Kamu harus kuat bi! Buka matanya! Jangan merem! Lihat akang! LIhat teh Alvi!" kata kang Hatim gugup bukan main.


''Ustadz,coba tanyakan! Apa mbak nya menunggu seseorang?" kata bidan.


"Hubbi,kamu menunggu seseorang?" tanya kang Hatim.


"I-ibu a-a-ayah menunggu a-aku!" jawab Hana.


"Astaghfirullah,istighfar hubbi istighfar! Ibu dan Ayah menunggu melahirkan anakmu! Mereka menunggu kita bahagia bersama dengan anak kita! Ayo lahirkan anak kita! Semangat! Demi ayah,demi ibu! Mereka sudah tidak sabar ingin melihat cucu mereka!" kata kang Hatim.Tiba tiba ada dorongan dalam diri Hana menjadi agak semangat.Hana mempunyai tenaga untuk mendorong bayinya.


*Authorkan laki,jadi gak terlalu paham soal gini....Maaf ya jika kurang menegangkan... Maaf juga jika tidak sesuai dengan kenyataan...:)