
Jam sudah menunjukkan waktu pukul satu dini hari. Umma Hana terbangun dari tidurnya yang padahal baru satu jam setengah beliau tidur.
Umma Hana bangun melirik ke arah jam dinding. Setelahnya, dia melirik ke sampingnya di mana suami tercintanya sang ulama, sang kyai, sang ustadz sang ahlul ilmi yaitu kang Hatim masih terlelap dalam tidurnya.
"Umur kang Hatim sudah menginjak kepala empat, tapi wajahnya masih belum banyak berubah, belum banyak kerutan, masih tetap glowing! Padahal kang Hatim gak pakai apapun, murni hasil air wudhu nya yang membuat wajahnya cerah dan awet muda! MasyaAllah!" umma Hana menatap wajah suaminya yang dari dulu sampai sekarang mencintainya. Umma Hana mengagumi ciptaan tuhan yang satu ini dengan kesempurnaannya, dengan keistimewaannya dengan segala kelebihan dan kekurangannya.
"Kang, aku mau sholat dulu ya, maaf gak bangunin akang! Aku gak tega! Akang pasti sangat kecapean!" umma Hana beranjak dengan pelan pelan dark tempat tidurnya supaya tidak mengganggu kenyamanan suaminya.
Umma Hana pergi ke kamar mandi, dia bersih bersih terus berwudhu karena hendak melakukan sholat sunnah malam seperti sholat sunnah witir, sholat sunnah hajat, sholat sunnah taubat, sholat sunnah tasbeh ditambah sholat sunnah mutlak dan terakhir sholat sunnah tahajud.
Semua sholat sunnah yang dilakukan oleh Umma Hana selesai hampir satu jam setengah baru selesai. Dan Umma Hana berhasil tidak membangunkan atau tidak mengganggu kang Hatim yang masih terlelap dalam tidurnya.
Setelahnya umma Hana keluar kamar dengan niat hanya ingin melihat keadaan di luar karena tidak seperti biasanya. Yang biasanya saat semua orang tidur lampu ruang tengah dan ruang keluarga tidak di nyalakan, kali ini lampu lampu di ruangan itu menyala.
"Mungkin Nadhiirah lagi masak mau sahur kali ya? mau puasa?" umma Hana bertanya tanya dalam dirinya.
"Tapi kok gak kedengaran orang masak ya, atau mungkin lupa di matiin kali ya?!" umma Hana terus berjalan menuruni tangga sampai terlihat di ruang keluarga seseorang sedang menunduk sambil sesekali terisak dengan tangis. Tiada bukan tiada lain, itu adalah Zhaffar anak kedua umma Hana.
"Astaghfirullah, Zhaffar!" Dengan segera umma Hana menghampiri Zhaffar dengan penuh rasa cemas. Karena sebagaimana kecewa nya seorang ibu kepada anaknya, tetap seorang ibu itu tidak akan tega melihat anaknya kenapa napa.
"Zhaffar! Nak?" Hana menggoyangkan pundak Zhaffar.
"Umma?" Zhaffar mengangkat kepala dari menunduknya dan melihat siapa yang datang menghampirinya.
"Kamu kenapa nak?" tanya umma Hana, dan bukannya menjawab, Zhaffar malah semakin menangis dengan langsung memeluk dia punya umma.
"Umma,maafin Zhaffar umma!" kata Zhaffar sambil menangis di pelukan umma Hana.
"Maafin Zhaffar, Zhaffar sudah kecewain umma! Zhaffar bohongin umma! Zhaffar gak tau berterima kasih sama umma! Maafin Zhaffar umma!"
"Zhaffar berdosa besar sudah sakitin hati umma, maafkan Zhaffar umma! Zhaffar mohon! Maafkan Zhaffar! Zhaffar gak mau hidup Zhaffar gak berkah, hidup Zhaffar penuh kesialan karena kesalahan Zhaffar menyakiti hati umma sehingga umma enggan memaafkan Zhaffar! Ummaaaaa!"
Umma Hana yang di peluk oleh Zhaffar sambil menangis lepas, ikut menangis juga. Hati Umma Hana tersentuh oleh Zhaffar yang memeluknya sambil menangis dan meminta maaf atas segala kesalahannya.