
"Kamu lagi apa?" tanya kang Hatim yang baru pulang dari mesjid sholat dzuhur dan melihat istrinya sedang beraktivitas di dapur.
"Melanjutkan masak!" jawab Hana.
"Mau masak apa?" sambil duduk di kursi dekat meja makan.
"Goreng ayam sama sayur shop,gapapakan?" tanya Hana.
"Gak papa,yang penting masakan istri pasti saya makan!" jawab kang Hatim.
"Mau aku buatkan kopi?" tanya Hana.
"Boleh,tapi mau kopi susu!" jawab kang Hatim.
"Ya sudah,tunggu sebentar!" Hana mencuci tangannya dulu untuk melanjutkan membuatkan kopi untuk kang Hatim.
"Hana,besok keluarga kamu sudah mau datang!" kata kang Hatim.
"Benar?" tanya Hana dengan nada bahagia.
"Iyaa!"
"Alhamdulillah,tapi kan acaranya masih lama!" kata Hana.
"Masih lama apa? tinggal empat hari lagi!" kata kang Hatim.
"Empat hari lagi? aku sudah gak sabar!" menyimpan segelas kopi susu di meja makan di depan kang Hatim.
"Terima kasih,gak sabar apa?" tanya kang Hatim.
"Gak sabar ingin jadi istri akang!" jawab Hana yang membuat kang Hatim heran.
"Kan kamu sudah jadi istri saya Hana!" kata kang Hatim.
"Iya,tapi akang tidak seperti suamiku!" kata Hana.
"Lah,kenapa? saya sudah memberi nafkah lahir dan batin,memberi ilmu,memberi makan dan lain lain!"
"Tapi cara akang bicara tidak menunjukkan itu!" kata Hana.
"Cara bicara? apa hubungannya?"
"Cara bicara akang yang selalu formal saat bicara bersamaku tidak menunjukkan bahwa akang suamiku,tapi malah seperti rekan kerja!" jawab Hana.
"Maksud?"
"Bicaranya jangan terlalu formal saat bersamaku!" jawab Hana.
"Tidak kok,saya tidak seperti itu! menurut saya biasa saja!" kata kang Hatim.
"Tuh,kalimat itu bisa di bikin lebih santai! seperti nggak kok,aku gak seperti itu! menurutku biasa saja!" kata Hana.
"Oooh,gitu ya!"
"Ya sudah,saya akan berusaha!"
"Aku kang,aku! jangan saya saya!"
"Iya,aku akan berusaha!"
"Nah gitu dong!" kata Hana.
"Kamu gak melanjutkan masak?"
"Ini baru mau!" kata Hana dan kembali ke tempat asalnya untuk melanjutkan pekerjaannya.
"Ya sudah,saya ke depan dulu ya,ada kerjaan!" kata kang Hatim.
"Aku!" kata Hana.
"Oh iya,aku ke depan dulu!" kata kang Hatim.
"Jangan,temenin aku aja!"
Kalau kang Hatim ke ruangannya di depan,takutnya ada Indri yang ke sana seperti yang Maya bilang! kata hati Hana.
"Lah,biasanya juga gak minta di temenin!" kata kang Hatim.
"Tapi sekarang mau kang,mau di temenin!" kata Hana.
"Kenapa? ada berkas yang harus saya periksa!" kata kang Hatim.
"Ya sudah sana pergi,Akang emang gak sayang istri!" kata Hana.
"Eh,kata siapa? saya sayang sama kamu!"
"Buktinya,akang malah mau nemenin berkas dari pada nemenin aku!" kata Hana.
"Ya sudah,saya akan nemenin kamu!" kata kang Hatim.
Untung kang Hatim bisa di rayu seperti itu,kalau tidak bisa bisa Indri yang nemenin kang Hatim.kata hati Hana.
Bersambung....
100 episode🥳🥳🥳🥳
Alhamdulillah novel ini bisa sampai di 100 episode tanpa konflik yang berat berat.Tapi,belum bisa di sebut sebuah cerita kalau tidak ada konflik.
Terima kasih Author ucapkan untuk semuanya yang selalu dukung Author untuk tetap bersemangat berkarya.
Terima kasih kepada yang sudah memberikan Like,Sudah berkomentar positif hingga Author semangat untuk UP,terima kasih yang sudah vote mudah mudahan novelnya bisa semakin berkembang dan yang baca juga yang suka semakin tambah banyak.
Sekali lagi,Author ucapkan terima kasih yang sebanyak banyaknya!.....