Ustadz Muda

Ustadz Muda
Hukuman


"Gimana? kalian udah diskusi mau berangkat kapan?" tanya kang Hatim setelah semua selesai makan,namun mereka belum sama sekali beranjak dari tempat duduk mereka.


"Rencananya sih, besok mau ke berangkat ke Jakarta, tapi nanti siang atau sore,mau ke Najmuddin dan mau nginep dulu di sana satu malam!" jawab Royyan.


"Oooh ya sudah kalau gitu!"


"Semoga kalian betah ya di sana, sayang kalau gak ditempati sama kalian! Emang sih, asalnya tante kalian yang isi rumah itu, tente Auni, Tapi kan mereka tinggal di rumah impian mereka!" kata umma Hana.


"Ama juga seminggu sekali ke sana! Biasa ke kantor! Tapi sering juga mampir ke pondok!" kata kang Hatim.


"Tapi ama, aku gak ingat alamatnya!" Royyan.


"Masa gak ingat? Kan udah beberapa kali ke sana?"


"Beberapa kali apanya,cuman dua kali juga!"


"Nanti deh, kamu catet alamatnya!"


"Hmm,iya deh!"


"Zhaffar! Kapan berangkat?"


"Ah gimana ama?"


"Kenapa kamu? Ada masalah?"


"Emmm, maaf ama!" Zhaffar menundukkan kepalanya dengan mata yang berkaca kaca.


"Maaf kenapa? Kamu bikin masalah?"


"Zhaffar malu di pesantren ama!" jawab Zhaffar.


"Kenapa? Kenapa malu? Karena gak bisa bisa ngajinya?"


"Bukan! Justru kalau boleh sombong, Zhaffar paling pinter di antara yang lain!"


"Lah? Terus kenapa?"


"Zhaffar.......!"


"Kenapa?"


"Ama jangan marah yaaa! Umma juga!"


"Iya umma,gak marah! Asal kamu jujur,kamu kenapa?" kata Umma Hana.


"Kalau kamu salah, ya pasti ama marah!" kata kang Hatim.


"Zhaffar ketahuan pacaran sama putri kyai!" kata Zhaffar dengan kepala semakin menunduk dan sepertinya dia emang akan menangis.Terdengar dari suaranya yang menjadi serak.


"Ya Allah!" kang Hatim menepuk jidat lanjut mengusap wajahnya sambil istighfar.


"Keterlaluan kamu!" kata Royyan.


"Zhaffar, umma sama ama kan udah jelas larang kamu buat pacaran! Bukan hanya kamu, semuanya anak anak umma dan ama di larang untuk pacaran! Mau itu sama anak kyai, sama anak Ustadz, sama anak siapapun tetep gak boleh!"


"Maaf umma!"


"Dihukum gak?" tanya Royyan.


"Dihukum!" jawab Zhaffar.


"Apa hukumannya? Udah di jalanin?"


"Belum, justru itu, Zhaffar pulang mau minta bantuan ama buat menyelesaikan hukumannya!" jawab Zhaffar.


"Kenapa harus minta bantuan ama? Kamu yang berbuat,kamu yang tanggung jawab!" kata Royyan.


"Gak bisa!" Kali ini Zhaffar benar benar menangis.


"Jangan nangis! kaya perempuan! cengeng!" kata Royyan.


"Kang!" Nadhiirah memegang tangan suaminya menahan agar tidak bicara berlebihan.


"Udah udah, jangan nangis!" kata umma Hana.


"Apa hukumannya sampai harus libatkan ama?" tanya umma Hana.


"Zhaffar harus menikahi putri kyai itu umma!" jawab Zhaffar di sela sela tangisnya.


"MasyaAllah!" umma Hana.


"Kenapa gak ngomong dari tadi sih? bilang Zhaffar di suruh nikah gituh, biat gak berbelit belit!" kata Royyan.


"Gak berani!"


"Emangnya kamu siap nak?"


"Tidak umma, aku gak sanggup!"


"Makanya, jangan main api kalau gak tahan sama panasnya! Lagian udah di larang juga, masih aja ngelanggar! Aneh!" kata Royyan.


"Kasih adikmu hukuman yang setimpal!" kata kang Hatim sambil beranjak dari tempat duduknya.


"Jangan berlebihan nak!" kata Hana dan juga langsung pergi setelah menepuk pundak Zhaffar.


"Mampus lu!" kata Athiifah dan pergi.


"Bingung mau kasih hukuman apa, kesalahanmu euh aneh!" kata Royyan.


"Kang, aku beres beres dulu ya!"


"Tidak tidak, Zhaffar! Dengerin!" kata Royyan.


Zhaffar mengangkat wajahnya.


"Tiga hari!"


"Apa?"


"Mulai sekarang! Kamu kerjakan pekerjaan rumah! Mulai bangun subuh, kamu beres beres, lanjut masak, beresin bekas makan, siang siang setelah beres di rumah, kamu nyapu halaman, seluruh halaman pesantren! Ingat, tiga hari! Gak boleh ada yang bantu!" kata Royyan.


"Ayo!" Royyan memegang tangan istrinya dan membanya pergi.