Ustadz Muda

Ustadz Muda
#46


Waktu sarapan sudah tiba.Semua anggota keluarga sudah berkumpul di depan meja makan.


"Hatim,kapan akan mencatat pernikahan kalian di KUA?" tanya ayah Bima.


"InysaAllah besok lusa yah!"


"Kalian akan tinggal di sini atau di pesantren?" tanya Bu Nur yang berharap agar anak dan menantunya tinggal di sana bersama sama.


"Hana akan tinggal di pesantren dulu bu,Hana masih mau menuntut ilmu!" jawab Hana.


"Oh iya iya!" bu Nur sambil mengangguk angguk mengerti.Bu Nur tidak mungkin menolak keinginan anak satu satunya itu.


Merekapun melanjutkan sarapan dengan tenang.Tanpa bicara apa apa.


Setelah sarapan,kang Hatim duduk di teras sendirian sambil menyesap rokok.Karena kang Hatim bekas santri salafi,jadi kebiasaan di pondok bersama teman temannya yaitu merokok susah untuk di hilangkan.Walaupun kang Hatim sudah agak jarang merokok karena di cegah oleh umi.Namun tetap susah di hilangkan karena jarang seorang santri yang tidak merokok.


"Kang mau saya buatkan kopi?" tanya Hana.


"Apa?"


"Mau saya buatkan kopi?"


"Boleh!"


"Ya sudah,tunggu sebentar!"


Hana kembali masuk ke dalam untuk membuatkan kopi.


Kang Hatim kembali memeriksa file file berkas yang di kirim melalui email nya.


"Ini kopinya kang!" kata Hana sambil menyimpan segelas kopi di meja samping kursi yang kang Hatim duduki.Hana juga ikut duduk di samping kang Hatim yang terhalang oleh meja.Berarti Hana duduk di samping meja.


Hana melambai lambaikan tangannya di depan mukanya karena asap rokok kang Hatim menyerang wajahnya.


"Kamu kenapa?" tanya kang Hatim.


"Asap kang!"


"Apa?"


"Asap mas!"


"Ooh!"


"Sejak kapan merokok?"


"Sejak masuk pesantren!"


"Kenapa merokok?"


"Biar saat ngaji gak ngantuk!"


"Para pengarang kitab ngarang kitab gak sambil merokok tapi gak ngantuk!"


"Mereka orang orang hebat!"


"Kenapa gak di tiru?"


"Gak bisa!"


"Saya tidak merokok tapi jarang ngantuk saat ngaji!"


"Lebih baik ngaji dari pada merokok dari pada tidur dan tidak ngaji sama sekali!"


"Alasan!"


"Mau berangkat jam berapa?"


"Pulang!"


"Terserah saja!"


"Kalau habis dzuhur gimana?"


"Hah? gak terlalu siang?"


"Sengaja,biar bisa main dulu!"


"Mau main ke mana?"


"Tergantung,yang penting bisa main sama istri!"


Hana malah tersenyum.


"Malah senyum senyum,mau tidak?"


"Ayo saja!"


"Nah bagus kalau gitu,kita main dan pulang besok saja!"


"Terus,kita nginap di mana?"


"Kan banyak hotel!"


"Di hotel?"


Ah pasti dia akan mesum!


"Iya,kan sudah syah,masa gak mau sih!"


Sudah kuduga!


"Kamu jangan berpikiran macam macam,saya gak akan minta jatah saya kalau gak di tawarin sama kamu!"


"Jatah? jatah apa?"


"Harusnya kamu paham!"


"Tidak,saya tidak paham!"


Ya Allah,dia ini bahas apa sih?


"Beneran? tapi kenapa pipi kamu merah?"


"Ah nggak kok!" memalingkan wajah.


"Sudah kelihatan masih sajak ngelak!"


"Saya mau ke dalam dulu!"


Hana berdiri dan melangkah menuju pintu,namun saat di depan kang Hatim tangannya di tarik oleh kang Hatim hingga Hana terjatuh di pangkuan kang Hatim.


Mata mereka saling menatap satu sama lain.


"Bicaranya jangan terlalu formal!" bisik kang Hatim yang masih menatap mata Hana hingga Hana sadar.


Hana buru buru bangun dari pangkuan kang Hatim sambil merapikan bajunya.


Bersambung....


*Untuk visual silahkan lihat kembali di episode pertama ya,soalnya Author mengganti visualnya....


Jangan lupa like,komen,vote,dan beri hadiah...😇