Ustadz Muda

Ustadz Muda
#112


Kang Hatim,Hana,teh Zahra,kang Ahmad,teh Dawa,kang Rahmat sudah berkumpul untuk melayani tamu mereka yang cukup menyebalkan.


"Alhamdulillah umi,abi,kita bisa berjumpa di sini! yang tadinya umi dan abi memang mau kami undang,tapi Alhamdulillah ternyata umi dan abi datang tanpa di undang!" kata kang Hatim.


"Sudahlah,jangan banyak basa basi!" kata bu Pipah alias ibu dari Indri.


"Kami datang ke sini bukan untuk basa basi! kami datang ke sini untuk meminta pertanggung jawaban anda mengenai anak kami!" kata pak Nono alias ayah dari Indri.


"Pertanggung jawaban? apa yang harus saya pertanggung jawabkan?" tanya kang Hatim.


"Anda yang membuat anak kami menangis!" kata pak Nono.


"Tapi,saya tidak merasa membuat anak abi menangis! saya tidak menamparnya,saya tidak memukulnya,saya tidak melukainya sama sekali!" kata kang Hatim.


"Tapi anda melukai hatinya!" kata bu Pipah.


"Lah,saya juga tidak pernah menghinanya!" kata kang Hatim.


"Anda menolak cintanya bukan? dia sudah berniat baik ingin menjadi istri anda! tapi apa yang anda lakukan? anda malah menolak dia yang sudah berniat baik!" kata pak Nono dengan posisi sudah berdiri dan jari telunjuk melayang layang di depan wajah kang Hatim.Kang Hatim hanya tersenyum,sedangkan kakak kakaknya sudah kesal.


"Anda malah memilih istri jelek anda itu dari pada anak kami yang cantik!" jari pak Nono persis di hadapan hidung Hana.Namun kang Hatim tidak terima.Dia memegang pergelangan tangan pak Nono.


"Bapak jangan tidak sopan seperti ini kepada istri saya! bapak menunjuk nunjuk muka saya tidak masalah! tapi jika bapak melakukan itu ke istri saya! saya tidak terima!" kata kang Hatim dengan tatapan sinis dan ikut berdiri.


"Duduk!" kata kang Hatim datar namun terdengar menyeramkan.


"Saya berniat mengundang bapak dan ibu ke sini,bukan untuk mencaci maki istri saya! tapi saya dan kakak kakak saya mengundang bapak dan ibu ke sini untuk membawa pulang anak bapak dan ibu!" kata kang Hatim.


"Apa bapak tidak melihat? saya sudah punya istri! dan saya tidak punya niat mempunyai istri lebih dari satu! sampai kapanpun!" kang Hatim tegas.


"Ya sudah,ceraikan saja istri anda yang ini! dan nikahi anak kami!" kata bu Pipah.


"Ibu berkata seolah olah ibu bukan perempuan! apa ibu tidak memikirkan bagaimana rasanya jika ibu di perlakukan seperti itu? harusnya ibu sebagai perempuan memikirkan perasaan sesama perempuan!" kata kang Hatim.


"Kalau saya,suami saya mau menikah lagi! ya saya ijinin,kan jaminannya surga!" kata bu Pipah.


"Pak,di pesantren ini punya juru masak seorang janda muda! sebaiknya bapak nikahi saja dia! sudah mendapat restu dari ibunya juga!" kata kang Hatim.


"Lah,kenapa seperti itu?" tanya bu Pipah.


"Kan ibu sudah beri ijin!" kata kang Hatim.


"Tapi gak gitu juga!" kata bu Pipah.


"Kan jaminannya surga!" kata kang Hatim.


"Masih banyak cara masuk surga selain itu!" kata bu Pipah.


"Nah,itu lah yang di pikirkan istri saya bu! masih banyak cara masuk surga yang lain! harusnya dari tadi ibu berpikir seperti itu!" kata kang Hatim.


"Ustadz,kami mohon ustadz,anak kami sangat mencintai ustadz! nikahi dia ustadz! kami mohon!" kata pak Nono sambil berlutut.


*Gabung di grup AuthorSyiba ya,jadi kalian bisa ngobrol sama Author,bisa mengkritik,bisa bertanya tanya masalah,bisa curhat,siapa tahu Author bisa bantu menyelesaikan masalahπŸ˜…πŸ˜†πŸ˜‡πŸ™