Ustadz Muda

Ustadz Muda
Ceramah


Setelah berurusan dengan Zhaffar, Royyan dan Nadhiirah melanjutkan perjalanan.


"Santri disini ada berapa semuanya kang?" tanya Nadhiirah.


"Emm gak tau! Sepertinya tiga puluh orang lebih ada deh!!" jawab Royyan.


"Banyak juga ya?!"


"Lumayan, kalau gak salah aku pernah denger kalau umi itu gak mau santri disini lebih dari empat puluh orang!"


"Kenapa?"


"Karena takut tidak ke ajar semua! Jadi gak keperhatiin satu persatu!"


"Oooh iya yah, jadi kalau sedikit kan bisa keperhatikan satu persatu!"


"Nah iya begitu!"


"Eh bentar, umi itu siapa? umma?"


"Nenek! umi nya ama!"


"Hah? oooh iya iya faham!"


"Jadi saya manggil ke nenek saya itu umi! Seperti ama!"


"Heem!"


"Ke mana a?" tanya si mang Andi pengganti mang Ujang penjaga gerbang pesantren.Mang Andi bertanya sambil membukakan gerbang,karena tau Royyan hendak keluar gerbang.


"Mau ke depan mang! ke toko!" jawab Royyan.


"Ooh iya iya! Silahkan a!"


"Syukron mang!" kata Royyan dan melanjutkan langkahnya.


"Suka deh liat pengantin baru! Masih muda muda! Romantis!" kata mang Ujang ngomong sendiri.


"Kok penjaga gerbang itu manggil a?" tanya Nadhiirah setelah di luar gerbang.


"Sebagian santri juga panggil aa, mungkin karena aku anak pertama!" jawab Royyan.


"Oooh!"


"Para uwa juga kadang suka ada yang manggil aa!"


"Emangnya aa itu apa?"


"Sama seperti akang!"


"Oooh sama berarti!"


"Sama apanya?"


"Di Najmuddin juga ada sebagian Ustadz yang di panggil aa!"


"Assalaamu'alaikum!" kata Royyan setelah masuk ke area toko.


"Wa'alaikumussalaam!" jawab semua orang yang ada di toko itu.Termasuk karyawan tetap kang Hatim.Umar,Qosim,Usman dan Ali.


"Eh ada kang Izul juga!" Royyan mencium tangan Zulfi yang kebetulan ada di sana.Kemudian Royyan bersalaman dengan para karyawan.


"Ke mana a?" tanya Zulfi.


"Sengaja aja kesini! Pengen nyemil!"


"Ooh iya iya, maklum lah pengantin baru,harus banyak nyemil! Biar banyak tenaga!"


"Iya! Maya lagi sakit! Jadi ya mau gimana lagi?!"


"Ooh teh Maya sakit? Udah berapa hari?"


"Baru tadi malam,badannya panas!"


"Udah di bawa ke dokter?"


"Nggak! Dia nya gak mau! Tapi udah minum obat kok! Panasnya juga udah menurun!"


"Alhamdulillah kalau gitu, semoga cepet sembuh ya!"


"aamiin allahumma aamiin!" Zulfi mengusapkan tangannya ke wajah."Oh iya a, mau gak ngisi ceramah?"


"Hah? Ah gak dulu kang! Belum siap!"


"Yeeh,kan belajar! Paman Hatim juga dulu seusia kamu udah lancar,jago ceramah!"


"Beda lah!"


"Mau aja ya? Tadinya mau ngajak bapak mu buat ceramah, tapi setelah di tanyain ke Hibban, ternyata jadwalnya penuh!"


"Kapan emang?"


"Besok lusa! Masih dua hari lagi! Masih ada waktu buat latihan!"


"Gak pd ah!"


"Belajar! Mau ya mau?"


"Nanti deh,aku izin dulu sama ama! Kalau kata ama boleh, baru deh aku mau!"


"Ya udah! Nanti kalau udah ada keputusan,kabarin ya! Datang aja ke rumah! Ajak istri mu!"


"Okey okey!"


"Ya sudah, akang duluan ya!"


"Oh iya kang! Hati hati di jalan!" jawab Royyan dan langsung mencium tangan kakak sepupunya lagi.


"Assalaamu'alaikum!"


"Wa'alaikumussalaam!" jawab Royyan serta yang lain.


"Menurut kamu gimana?" tanya Royyan setelah kepergian Zulfi.


"Apanya?"


"Itu, tawaran kang Izul!"


"Ceramah?"


"Iya!"


"Ya terserah kang!"


"Ih kamu mah, kan saya teh minta saran!"


"Ooh,hheh, ya kalau saran dari aku sih, kenapa gak di coba dulu?"


"Gitu ya? Yaudah deh, berarti bener nanti harus izin sama ama dulu!"


"Itu harus!"