
"Emh,Hana!" panggil kang Hatim.
"Iya?"
"Kamu ada kaos gak?"
"Kaos apa?"
"Baju baju kaos,yang suka kamu dan satri lain pakai saat di pesantren!"
"Ooh,ada!"
"Saya boleh pinjam gak? saya mau mandi tapi saya lupa bawa baju!"
"Ooh ya sudah,akan saya ambilkan!"
Para santri salafi memang suka banyak menggunakan baju kaos tangan panjang dengan samping sarung.Mau itu laki laki ataupun perempuan.
"Nih kang bajunya!" kata Hana sambil memberikan baju kaos warna hitam tangan panjang.
"Oh iya terima kasih!"
"Mau sekalian sama sarungnya?"
"Gak usah,ini juga belum kotor!"
"Oh ya sudah!"
"Saya mandi dulu ya,jangan dulu tidur!"
"Iya kang!"
"Apa?"
"Oh maaf,iya mas!"
Kang Hatim tersenyum dan kemudian dia pun masuk ke kamar mandi yang ada di kamar Hana.
Dalam hati Hana masih ada rasa bingung.Namun dalam.hatinya juga ada rasa bahagia.
Entah apa yang Hana pikirkan sambil melamun.Hingga kang Hatim keluar dari kamar mandi pun dia tidak sadar.
"Hana!" panggil kang Hatim sambil mengelap rambut basahnya dengan handuk.
Hana menoleh ke sumber suara.Hana terpesona melihat ketampanan kang Hatim dengan rambut basahnya.Baru kali ini Hana melihat kang Hatim tanpa peci.
"Hana?" kang Hatim mengibas gibaskan tangannya di hadapan muka Hana.
"Eh Astaghfirullah!"
"Kamu kenapa?"
"Ah saya tidak papa kang,eh mas!"
"Kenapa belum tidur?"
"Bukannya tidak sopan ya jika seorang istri tidur mendahului suaminya?"
"Emangnya kamu nganggap saya suami kamu?"
"Astaghfirullah,ya iya lah,masa saya anggap penjahat!"
"Alhamdulillah,terima kasih ya Allah,ternyata aku sudah punya istri!"
Dia ini gila apa gimana sih?
"Saya anggap akang istri saya karena akang sudah mengakui bahwa saya istri akang!"
"Tuh kan,kamu menganggap saya guru kamu lagi!"
"Ih ya Allah,iya mas iya!"
"Nah gitu dong,baru saya berasa punya istri!"
"Hana,kamu gak mau tidur?"
"Akang juga manggil saya dengan nama saya,gak pakai sebutan lain!"
"Emangnya kamu mau di panggil apa sama saya?"
"Saya gak mau punya panggilan dari akang!"
"Kamu mau di panggil neng seperti panggilan teh Alvi oleh suaminya? atau umi seperti panggilan teh Putri oleh suaminya? atau apa? atau kamu mau saya panggil sayang?"
"Tidak!" pipi Hana memunculkan warna merah samar samar.
Kenapa mulut ini nanya hal yang gak penting?
"Mau di panggil sayang?"
"Tidak!"
"Baby?"
"Tidak!"
"Cantik?"
"Tidak!"
"My istri,eh istri itu apa bahasa inggrisnya?"
"Wife!"
"Oh,kamu mau saya panggil my wife?"
"Tidak!"
"Zaudzati?"
"Tidak!"
"Terus kamu mau di panggil apa?"
"Hana aja udah!"
"Lah,tadi katanya mau pakai panggilan!"
"Iya udah Hana aja!"
"Saya akan panggil kamu sayang!"
"Apa?!"
"Sudah bulat,keputusan presiden dalam rumah tangga tidak bisa di ganggu gugat!"
"Terserah lah,tapi kalau depan teman teman aku di pesantren nanti,biasa aja!"
"Biasa gimana?"
"Panggil Hana saja!"
"Saya akan tetap manggil kamu dengan kata sayang.Kapanpun dimanapun bagaimanapun!"
"Ih jangan,apalagi depan ibu dan ayah.Malu tahu!"
"Ya sudah,depan ibu dan ayah tidak akan.Tapi di depan teman teman kamu akan!"
"Jangan!"
"Keputusan presiden dalam rumah tangga tidak bisa di ganggu gugat!"
"Sudah terserah saja lah!"
"Boleh saya memelukmu?"