Ustadz Muda

Ustadz Muda
Extra Chapet 2.4


"Jadi maksudnya gimana kyai?" tanya Kang Hatim.


"Bagaimana kalau langsung saja kita tikahkan?" kyai Hamzah.


"Astgahfirullah!" Jantung Royyan ampir berheneti mendengar kalimat yang dilontarkan kyai Hamzah.Itu kalimat yang dia takutkan.


"Kenapa?" tanya kyai Hamzah.


"Kenapa?" tanya kang Hatim yang juga kaget mendengar Royyan.


"Tidak ama,maaf!" kata Royyan dengan wajah malu nya.


"Jadi gimana?" tanya kyai Hamzah.


"Saya setuju kyai! Iya kan bii?" tanya kang Hatim.


"Iya! saya setuju!" jawab Hana.


"Tapi sebelum itu,seperti yang ustadz Hatim tau,bahwa gak boleh menikah kalau lakilakinya belum melihat wajah calon istrinya! Jika nanti setelah melihat wajah putri saya,nak Royyan boleh membatalkan pernikahannya!" kata kyai Hamzah.


"Na'am kyai!" jawab kang Hatim.


"Nafiisah,panggilkan Nadhiirah ke sini! Udah dandan kan?"


"Sudah abi,sebentar Fisah panggil dulu!" kata putri kyai.


"Nabhan,panggil Ustadz Mahdi kesini!" kata kyai.


"Baik abi!" jawab Nabhan menantu sang kyai Hamzah suami Nafiisah.Kebetulan,kyai Hamzah ini hanya punya dua anak perempuan karena waktu istri dari kyai Hamzah mengandung anak ketiganya,beliau keguguran parah hingga kandungannya tidak terselamatkan bahkan rahim nya pun harus di angkat karena akan bahaya jika di biarkan.


Tidak lama kemudian datang Nafiisah bersama adiknya Nadhiirah yang sudah berdandan dengan pakaian serba putih menambah kesan mewah dan bersih.


Nadhiirah berjalan sambil menunduk malu.Tidak berani melihat keadaan.


"Duduk nak!" kata kyai Hamzah.nafiisah dan Nadhiirah nurut duduk di samping umi mereka.


"Mau berapa jam?" tanya kyai Hamzah pada Royyan.


"Gi-gimana kyai?" tanya balik Royyan yang sudah tidak bisa dibayangkan sebagaimana dia gugup.


"Lima menit cukup?" tanya kyai Hamzah.


"Jangan lama lama kyai! asal dia sudah bisa lihat ajah! Cukup!" jawab kang Hatim.


"Ooh gitu?"


"Iya kyai! Nanti aja kalau mereka sudah sah,baru boleh dibuka lebih lama! Bahkan buka semuanya!" kata kang hatim.


"Hhahah iya iya bener!" kata kyai.


Orang lain tertawa,tapi Royyan hampir tidak bisa bernafas.Dia merasa dia ingin menghilang saja dari tempatnya sekarang.


"Nafiisah,tolong tutup dulu pintunya! Kunci juga! Tirainya juga tutup aja!" kata Kyai Hamzah.


"Baik abi!" Nafiisah dengan segera melaksanakan perintah abi nya.


"Nadhiirah! Buka cadarmu nak! Perlihatkan pada calon suamimu!" kata kyai.


"Na'am abi!" jawab Nadhiirah dan segera berusaha melepas cadarnya dengan maluy malu.


Bukannya semangat akan melihat calon istri,Royyan malah lemas menundukkan kepalanya.


"Ama,lihat kang Royyan! Dia seperti mau meninggal!" kata athifah meledek kakak nya.Memang wajah Royyan pucat pasi.


"Afwan kyai! Bukan mau mengunggulkan putra saya! tapi dia begitu bukan karena takut atau apapun! Dia emang belum pernah berinteraksi sama perempuan selain adiknya dan kakak kakak sepupunya! Dan saat di pesantren pun dia selalu dimasukkan ke pesantren yang khusus laki laki!" kata kang Hatim.


"Iya iya ngerti kok! Minum dulu nak! Nanti maah pingsan bahaya!" kata kyai Hamzah.Royyan hanya nurut melakukan semua perintah.


Cadar Nadhiirah sudah terlepas dari wajahnya hingga terekspos lah wajah seindah bidadari surgawi itu.Dengan alis kecil membentuk huruf Zai,Mata nya yang hitam dengan yang putihnya sangat bersih tidak terlalu melotot tidak juga tidak terlalu sipit.Hidungnya mancung.pipinya berbentuk seperti daun sirih.Bibirnya merah merona 'berem berem jawer hayam'.Dagunya seperti sebelah telur.


Setelah melihat itu,hilang langsung rasa gugup yang di rasakan Royyan.matanya tidak berkedit melihat keindahan duniawi itu.


"istighfar!" kata kang Hatim menepuk pundak putranya yang malah bengong.


Nadhiirah menunduk malu ditatap oleh tatapan yang seperti tatapan singa lapar.


"MasyaAllah!" kata Royyan sambil geleng geleng kepala kagum.Tapi perassan tadi bapaknya nyuruh istighfar.