
Seluruh santri baitussalam awal membaca alqur'an,kemudian sholwat dan mendoaakan Hana yang akan melahirkan.Tidak lupa,mereka juga mendoakan bayinya.Para santri itu di pimpin oleh kang Asep.
Begitu juga dengan yang dilakukan oleh para santri baitussalam sani.Mereka melakukan hal yang sama seperti para santri baitussalam awal.Para santri baitussalam sani tidak di pimpin oleh teh Dawa,teh Zahra ataupun teh Putri.Tapi mereka di pimpin langsung oleh umi Nurul.
Di klinik tempat praktek seorang bidan perempuan,tepatnya di sebuah ruangan bersalin,Hana sedang berjuang untuk melahirkan anak pertamanya.
Seluruh badan Hana sudah basah dengan keringat berusaha mengumpulkan seluruh tenaganya untuk melahirkan putra atau putri nya yang masih menjadi misteri.
Kang Hatim dengan setia terus mendampingi di samping istri tersayangnya.Dengan tangan saling menggenggam dan mulut kang Hatim yang jarang berhenti bergetar membaca doa,dzikir,dan sholawat.
Teh Alvi duduk di sopa sambil membaca surat yasin tapi tetep dalam hatinya,merasa khawatir,cemah.
"Sudah saatnya!" kata bidan.
"Mbak,tarik nafas dalam dalam!" kata bu bidan.Hana menurut dengan ucapak bu bidan.Dalam hatinya,dia pasrah kepada Allah karena hanya Allah yang selalu bisa di andalkan.Sedangkan bidan dan obat obatan hanya bisa menjadi syari'at.Hakikatnya Allah ta'alaa.
Setengah jam berlalu masa masa menegangkan dan kini masih belum selesai.Hana hampir kelelahan berjuang.Air matanya juga sudah habis di pakai nangis.Kang Hatim juga yang tadinya tegar tidak ada air mata di antara mereka,kini matanya sudah basah dengan air mata itu.
Begitu juga teh Alvi,dia sudah menangis dari tadi.Dia juga tidak berhenti ngaji.Entah sudah berapa kali tamat teh Alvi membaca surat Yasin.
"Allahumma sholli wasallim 'alaa sayyidinaa muhammading shohibil busro sholaatang tubas sirunaa bihaa waahlanaa wa aulaadanaa wajamii'i masyaa yikhinaa wa muallimiinaa wathlabatanaa wathoo libaatinaa minyauminaa hadzaa ilaa yaumil akhiroh!"
Oweeek oweeek.... Seketika semua orang mengucapkan ALHAMDULILLAH.
Begitu juga dengan Hana air matanya kembali menetes dan badannya menjadi lebih rileks nafasnya mulai tenang juga.Kang Hatim menangis kemudian mencium kening istrinya.
"Alhamdulillah,bayinya lahir dengan badan yang sempurna,berwajah tampan,dan berjenis kelamin laki laki!" kata bu Bidan setelah menimang nimang bayinya agar berhenti menangis.
"Boleh saya gendong sekarang?" tanya kang Hatim.
"Saya mandikan dulu aja kali ya?" bu bidan.
"Sebaiknya saya adzanin dulu bu! Soalnya dalam sebuah kitab saya baca bahwa bayi baru lahir itu harus langsung di bisikkan adzan sebelum mendengar bisikkan syetan!" kata kang Hatim.
"Oh ya sudah,kalau gitu silahkan Ustadz!" kata bu bidan menyerahkan bayinya itu yang hanya di balut handuk.Kang Hatim membisikkan adzan di telinga kanan si bayi kemudian iqomat di telinga kiri bayi.
"Kang aku mau lihat!" kata Hana dengan lemes.
"Nanti aja,kalau sudah di mandiin!" kata kang Hatim sambil menutupi wajah si bayi.
"Ih akang!" kata Hana.
"Siniin!" teh Alvi merebut si bayi dari gendongan kang Hatim.
"Wah,ternyata ganteng benget si bayi ini!" kata kang Hatim.
"Sebaiknya cepat cepat di mandiin mungkin mba,biar sekalin di imunisasi juga!" kata bu bidan.
"Oh iya,ini bu!" kata teh Alvi memberikan bayi nya kepada bu bidan.
#Muhammad_Sulthaan_Khaerussalam_H.A