
Tok tok tok
"Assalamualaikum!" kata kang Hatim setelah mengetuk pintu rumah umi Nurul.
"Waalaikumusalam,masuk!" jawab teh Zahra dari dalam rumah.
Tanpa bicara lagi,kang Hatim dan Hana langsung masuk ke dalam rumah.Kebetulan umi sedang ada di ruang tengah sedang di pijit oleh teh Zahra dan Liza anaknya.
"Umi!" kang Hatim mencium tangan umi Nurul dan diikuti Hana.
"Wah,menantu umi ini sangat cantik!" kata umi Nurul setelah tangannya di cium oleh Hana.Hana hanya tersenyum malu karena di puji oleh mertua.
"Silahkan duduk dulu Hana,mau minum apa?!" kata teh Zahra dengan ramah.
"Ah iya teh terima kasih,gak usah repot repot teh,nanti kalau mau minum ngambil sendiri saja!" kata Hana yang sebenarnya sangat canggung.
"Nah bagus begitu,anggap rumah sendiri saja!" kata umi Nurul.
"Iya umi!" jawab Hana.
"Paman!" panggil Liza anak teh Zahra pada kang Hatim dengan malu malu.Yang biasanya kang Hatim duluan yang nyapa tapi sekarang tidak.
"Eh Liza,apa sayang?" tanya Kang Hatim sambil jongkok agar tinggi badannya sama dengan Liza.
"Paman kok gak nyapa Iza duluan?" tanya Liza.
"Eh maaf ya,paman tadi ngantuk!" jawab kang Hatim.
"Ooh,gitu ya man,man,kemarin sama tadi Iza main sama kang Ufi!" kata Liza yang sebenarnya kang Ufi itu adalah Zulfi.
"Seru gak mainnya?" tanya kang Hatim.
"Seru,tapi Iza ingin main sama paman Atim juga!" jawab Liza.
"Bagaimana kalau mainnya sama bibi Hana saja?" tanya kang Hatim.
"Iza mau sama paman!" kata Liza.
"Emh,ya sudah,besok kita main sama sama ya,tapi mainnya di rumah paman,kamu datang saja ke sana ya!" kata kang Hatim.
"Asik,iya paman,Iza akan datang ke rumah paman!" kata Liza dengan gembira.
"Kang Ahmad ke mana teh?" tanya kang Hatim.
"Hana,sudah makan?" tanya umi Nurul.
"Alhamdulillah sudah umi!" jawab Hana yang sebenarnya gugup sekali.
"Hatim galak gak sama kamu?" tanya Teh Zahra.
"Gak lah,emangnya aku binatang buas apa?" jawab kang Hatim yang ternyata dia tidak sembarang bicara.Dia punya etika tersendiri saat bicara dan kepada setiap orang berbeda.
"Kamu bukan binatang buas,tapi seperti binatang buas!" kata teh Zahra.
"Apanya yang sama?"
"Hana,kalau kamu mau,kamu juga bisa ngajar!" kata teh Zahra yang tidak menanggapi kang Hatim.
"Ngajar? ngajar apa teh?" tanya Hana.
"Ngajar ngaji,ngajar santri santri,teteh rasa ilmu kamu cukup untuk di amalkan!" kata teh Zahra.
"Ah saya gak bisa teh!" kata Hana.
"Eh,masa gak bisa!"
"Iya teh!"
"Nanti malam,kamu ke sini,teteh akan ajarin kamu cara ngajar biar kamu bisa!" kata teh Zahra.
"Eh jangan,malam nanti Hana ada jadwal ngaji bersamaku!" kata kang Hatim.
"Ngaji apa?" tanya teh Zahra.
"Fathul Iz qorib,fathul qorib!" jawab kang Hatim.
"Masa fathul qorib,kan Hana sudah sering ngaji kitab itu!" kata teh Zahra karena memang Fathul Qorib itu di kaji setiap tahun dan tamat dalam dua bulan.
"Iya,tapi euh,lughot nya beda sama lughot cianjur!" kata kang Hatim.
"Apa benar Hana?" tanya teh Zahra dan Hana hanya tersenyum dalam diam karena tidak berani berbohong.
Bersambung...
*Maaf baru up guys,insyaAllah besok up semampu Author ya,insyaAllah lebih dari dua bab😇🙏