Ustadz Muda

Ustadz Muda
#202


Keluar dari rumah sakit,benar saja apa yang di janjikan kanag Hatim.Hana benar benar bahagia sehingga dia lebih semangat.Wajahnya lebih cerah dan bercahaya akibat kebahagiaan yang terpancar pada dirinya.


"Kenapa akang bisa tahu sampai janji janji segala kalau aku keluar dari rumah sakit akan bahagia? Dan ternyata benar! Aku sangat sangat bahgia !" ujar Hana saat sedang berjalan menuju mobil.


"Karena akang tahu!" kata kang Hatim.


"Tahu? Tahu dari mana? kok aku gak di beri tahu sebelumnya?" tanya Hana.


"Waktu kamu pingsan di rumah sakit itu,dokter memeriksa mu dan kata doktger itu kamu hamil! Tapi karena dokter itu bukan dokter kandungan,jadi dia juga tidak yakin! Jadi akang gak beri tau kamu dulu! Agar dokter kandungan dulu yang memeriksa mu dan memberi taumu!" jawab kang Hatim.


"Kalau aku boleh bersumpah demi Allah,aku bener bener bahagia!" kata Hana.


"Hush! Tetep gak boleh! Tambahin aja syukurannya bi!" kata kang Hatim mengusap kepala Hana.


"Kalau kamu ingin tau,kebahagiaan akang lebih besar dari pada rasa bahagia yang kamu rasakan! Bahkan saat itu,saat akang dengar dari dokter kamu hamil,walau belum pasti,akang sudah nadzar akan sholat tahajud sunat semalaman! Itu untuk menunjukkan rasa syukur akang pada Allah!" kata kang Hatim.


"Aku ingin anak pertama yang aku kandung ini dilahirkan menjadi seorang laki laki yang tampan seperti ayahnya,pintar juga berilmu seperti ayahnya,menjadi laki laki yang bertanggung jawab dan setia seperti ayahnya!" kata Hana.


"Biar nantinya mendapat jodoh yang sholehah seperti ibunya,cantik seperti ibunya,sabar melewati ujian seberat apapun seperti ibunya!" kata kang Hatim hingga merekapun sampai di mobil dan langsung masuk.


"Langsung pulang kang?" tanya Yogi.


"Iya! Langsung pulang aja!" jawab kang Hatim.


"Gak ke butik dulu kang?" tanya Hana.


"Emh,besok aja ya?! Bentar lagi ashar!" jawab kang Hatim.


''Ya sudah,terserah akang saja!" kata Hana.


Yogi pun melajukan mobilnya untuk kembali pulang ke rumah.Dalam mobil Hana tidak berhenti tersenyum di balik cadarnya mengingat kalimat dokter yang mengucapkan selamat atas kehamilannya.


"Aku punya nama bagus buat anak kita!" kata Hana tiba tiba.


''Siapa coba?' tanya kang Hatim.


"Muhammad Sulthaan Khaerussalam Hatim Abdurahman!" jawab Hana.


"Bagus! Kalau perempuan?" tanya kang Hatim.


"Aku mau anak pertamaku laki laki! Tapi perempuan juga gak papa sih! Untuk namanya akang yang siapkan!" kata Hana.


"Gimana kalau Humaira Haliimatussa'diyyah?" tanya kang Hatim.


"Bagus kang! Tapi tetep harus pakai Hatim Abdurahman!" jawab Hana.


"Ah gak usah!" kata kang Hatim.


"Ya sudah! Kalau gitu pake nama abah aja! Nama akangnya gak usah!" kata kang Hatim.


"Harus juga! Kalau di anggap anak almarhum gimana?" tanya Hana.


"Ya sudah! Terserah kamu aja bi!" kang Hatim mengalah.


Tidak lama kemudian,mereka sampai di depan rumah ayah Bima.Yogi membunyikan klakson hingga pak Ardi membukakan gerbang.


Kang Hatim dan Hana masuk ke dalam rumah.Sedangkan mobil langsung di mandikan oleh Yogi di bantu oleh pak Iman,Padahal kang Hatim gak nyuruh agar mobilnya di cuci dan lagi pula mobilnya hanya terkena debu jalan tidak terkena tanah seperti di gunung.


''Kamu bersih bersih duluan bi! Akang nunggu di sini! Hati hati jalan naik tangganya!" kata kang Hatim.


"Ya sudah! aku naik dulu ya!" kata Hana hingga akhirnya melepaskan tangannya dari tangan kang Hatim dan berjalan menaiki tangga untuk mandi.Kang Hatim memperhatikan istrinya naik tangga hingga Hana berhasil dan masuk ke kamar.


Setelah memastikan istrinya aman,kang Hatim pergi ke dapur untuk menemui ARTnya.


"Bi Mar!" panggil kang Hatim saat sudah sampai di dapur.


"Eh kang Ustadz! Sudah pulang?" sahut bi Mar.


"Iya bi,sudah masak?" tanya kang Hatim.


"Sudah sudah! Apa mau menu tambahan?" jawab dan tanya balik bi Mar.


"Emh iya bi! Kan Alhamdulillah kami sudah dipercayai Hana mengandung!" kata kang Hatim.


"Alhamdulillah!" kata bi Mar setelah menahan nafas karena kaget.


''Apa sebelum meninggal bapa dan ibu sudah tau tentang ini?' tanya bi Mar dengan air mata sudah menetes.


"Sayangnya tidak bi! Oleh karena itu bi,tolong masakan makanan yang cocok buat yang hamil muda ya!" kata kang Hatim.


"Oh iya siap kang! Akang bibi masakan makanan yang mengandung banyak gizi dan vitamin!" kata bi Mar.


"Terima kasih ya bi!" kata kang Hatim.


"Iya sama sama kang! Bibi seneng banget denger kabar ini! Pasti bapa sama ibu akan lebih bahagia kalau mereka masih hidup dan mendengar berita ini!" kata bi Mar dengan air mata kembali menetes.


"Ya sudah! Sayaa nyusul Hana dulu ke atas ya bi!" kata kang Hatim.


"Iya iya silahkan!" Jawab bi Mar.


*Kebahagian kang Hatim dan Hana tidak akan bisa di gambarkan dengan kata kata atau kalimat walau pandai menyusun merangkai kata atau kalimat sehingga menghasilkan kalimat yang indah sekalipun....


#Sanditeguhmaulana