Ustadz Muda

Ustadz Muda
#157


Sesampainya di pesantren yang Zulfi inginkan,yaitu pesantren Miftahurrahmah mereka langsung di sambut oleh santri di sana dan di antar ke rumah pimpinan pesantren itu.


Namun teh Alvi,kang Raq(ahmat,kang Roni,juga Tufiq merasa aneh kecuali kang Hatim dan Hana.Para santri putra di sana menyapa Zulfi seolah olah sudah mengenal Zulfi.


Mereka langsung menuju rumah ustadz pimpinan pesantren itu di antar oleh satu orang santri.


"Hey hey!" kata seorang santri wanita di sana.


"Apa?" jawab santri yang lainnya.


"Lihat mba itu!"


"Iya,emang kenapa?"


"Laki lakinya ganteng!"


"Kamu mau muji laki laki nya,tapi malah nyuruh aku liat c mba nya!"


"Cocok banget ya!"


"Iya,aku juga pengen seperti mereka!"


"Mungkin itu kakak nya si Zulfi,ampir mirip!"


"Tapi masih ganteng si Zulfi!!"


"Susah emang kalau dah jatuh cinta!"


"Hush,so tahu!"


"Bukan so tahu,kan kamu yang curhat!"


"Gak usah di umbar umbar!"


Saat kang Hatim sekeluarga sampai di depan rumah ustadz pimpinan pesantren itu.Ustadz itu juga sudah menyambut kang Hatim sekeluarga dengan wajah bahagia.


"Assalamualaikum!" kata kang Hatim.


"Waalaikumussalam!" jawab pimpinan itu yang ternyata masih muda.Kang Hatim berpelukan seperti orang yang sudah saling mengenal.


"Apa kabar ang?" tanya kang Hatim.


"Alhamdulillah baik,bagaimana sebaliknya?"


"Alhamdulillah baik juga!" kang Hatim.


"Zulfi!" sapa Ustadz itu.


"Eh ang!" Zulfi langsung mencium tangan gurunya itu yang di panggil aang.


Aang atau guru Zulfi itu bersalaman dengan kang Roni,kang Rahmat dan Taufiq juga mencium tangan Aang.Aang juga mengatupkan tangannya kepada teh Alvi dan Hana.


"Neneng!" panggil Aang pada salah satu santri perempuannya yang kebetulan ada di dekat mereka bersama teman santri yang lain.


Neneng yang di panggil gurunya segera menghampirinya dengan buru buru.


"Ada yang bisa saya bantu ang?" tanya Neneng.


"Antar mba mba ini ke rumah ya!" Aang meninta Neneng supaya membawa Hana dan teh Alvi ke rumah,tapi bukan rumah dia.Maksudnya ke rumah yang di sediakan khusus untuk tamu perempuan.


"Baik Ang!" jawab Neneng.


"Mari mba!" kata Neneng dan di jawab anggukan oleh Hana dan teh Alvi,merekapun pergi meninggalkan para laki laki mengikuti Neneng.


"Mari masuk!" kata Aang mengajak tamu tamunya supaya masuk kedalam rumah miliknya.


Setelah masuk rumah,Kang Rahmat,kang Roni,Kang Hatim,Zulfi dan Taufiq duduk di atas kursi.


"Islam,sini!" panggil Aang.


"Iya ang? ada apa?" tanya Islam yang mungkin pelayan di rumah Aang.


"Buatin mereka minuman ya!" jawab Aang.


"Baik ang!" jawab Islam dan langsung pergi lagi.


"Apa kabar Zulfi?" tanya Aang.


"Alhamdulillah baik ang!" jawab Zulfi.


"Lama sekali pulang kampungnya Zul?" tanya Aang.


"Maksudnya?" tanya kang Rahmat yang mewakili juga pertanyaan kang Roni dan Taufiq.


"Iya ang,kan di rumah ada acara dulu!" jawab kang Hatim.


"Oouh iya iya!" sambil mengangguk angguk.


"Oh iya,selamat ya,semoga bisa menjadi imam yang baik buat istri,menjalin rumah tangga yang sakinah mawadah warahmah!"


"Aduh terima kasih kang,istajib ya Allah!" kata kang Hatim.


"Oh iya,sepertinya baru kali ini main ke sini!"


"Memang sih!" kang Hatim sambil senyum senyum.


"Permisi!" laki laki yang bernama islam datang kembali dan menyajikan cangkir cangkir teh beserta dua piring rangginang dan dua piring kolontong ciri khas tasik.


"Terima kasih mang!" kata kang Hatim dan di jawab anggukan sopan.


"Minum dulu!" kata Aang.


.....


"Silahkan masuk mba!" kata Halimah istri Aang.


Neneng mengantar Hana dan teh Alvi yang menggendong Alvin ke sebuah rumah yang mana di sana ada tanpa peringatan bertuliskan khusus perempuan.


"Iya makasih Ustadzah!" kata teh Alvi.


"Ah jangan panggil saya Ustadzah mba,nama saya Halimah!"


"Ah iya mba Halimah!" teh Alvi.


"Mari!" kata Halimah mengajak tamu nya supaya masuk rumah.


Setelah masuk rumah,mereka duduk di atas karpet merah karena tidak ada kursi di sana.Di sana hanya ada satu kursi tunggal beserta meja.


"Laksmi!" panggil Halimah dan langsung datang seorang perempuan yang berpakaian sama seperti penampilan teh Alvi,Hana dan Halimah serta santri wanita yang ada di sana dengan membawa baki dengan di atasnya ada tiga cangkir air dan satu piring rangginang.


"Permisi!" kata Laksmi dan menyajikan cangkir cangkir yang sudah di isi air teh itu dan sepiring rangginang.


"Terima kasih mba!" kata teh Alvi.


"Sama sama!" jawab Laksmi.


"Ada yang bisa saya bantu lagi teh?" tanya Laksmi.


"Tidak mi,terima kasih!" jawab Halimah.


"Silahkan di minum!" kata Halimah dan di turuti oleh teh Alvi dan Hana.


"Anaknya lucu banget!" kata Halimah dan mencubit lembut pipi Alvin yang memang sangat lucu memakai gamis putih dan peci putih juga.


"Salim dulu sama Ustadzah Alvin!" kata teh Alvi dan di turuti oleh Alvin.Dia mencium tangan Halimah dengan malu malu.


"Siapa namanya?" tanya Halimah.


"Muhammad Alvin Ginanjar!" jawab Alvin dengan lucunya.


"Wah namanya bagus!" kata Halimah.


"Makasih!" kata Alvin.


"Eh mbak,mbak ini istrinya aang?" tanya teh Alvi.


"Ah iya mba!" jawab Halimah.


"Oouh,emang setiap tamu perempuan di suruh ke sini ya?" tanya teh Alvi.


"Iya Mba!"


"Eh iya,kenalin nama saya Alvi!" kata teh Alvi.


"Oh iya mba,salam kenal!" kata Halimah.


"Kenalin juga,ini adik ipar saya namnya Farhana,di panggil Hana!" teh Alvi mengenalkan Hana.


"Salam kebal mba!" kata Hana sambil mengangguk sopan.


"Salam kenal juga!" kata Halimah.