Ustadz Muda

Ustadz Muda
Gak tahan


"Kang Royyan sampai teriak teriak gitu sih!" Nadhiirah bangkit dari duduknya, dengan segera dia keluar kamar kemudian buru buru menuruni tangga menghampiri Royyan suaminya.


Nadhiirah melihat Zhaffar yang menunduk sambil menangis tersedu sedu, Royyan berdiri di depannya dengan napas memburu karena emosinya.


"Kang, Istighfar!" Nadhiirah menghampiri Royyan langsung memegang tangan Royyan.


"Istighfar kang!" lagi kata Nadhiirah.


Royyan menarik nafas panjang dan membuangnya lalu mengusap wajahnya sendiri dengan tangan.


"Astaghfirullah!" ucap Royyan sambil mengusap wajah.


"Udah! Jangan terlalu berlebihan! Jangan emosi!" kata Nadhiirah dan Royyan masih beristighfar.


"Akang gak sadar? Ini sudah malam! Akang teriak teriak! Gak enak sama orang lain! Malu di dengar sama orang lain! Ayo ke kamar! Istirahat!" ujar Nadhiirah.


"Iya ayo!"


"Zhaffar! Euh dasar!" Royyan menahan emosinya. Sedangkan Zhaffar langsung menamprakkan tangannya walau sambil menunduk dan masih terisak tangis.


"Semoga kau jadi ahlul jannah setelah kau menyakiti hati kedua orangtuamu! Setelah kau menyakiti kakak mu sendiri yang seharusnya kamu anggap pengganti orang tuamu! Semoga kau mendapat ridho, mendapat maaf dari ama dan umma setelah di kecewakan oleh mu! Semoga kau mendapat ilmu yang manfaat dunia akhirat setelah kau membuat dosa hadapan guru mu!" ucap Royyan sebelum dia pergi di bawa istrinya.


Setelah Royyan pergi, Zhaffar masih termenung di kursi ruang keluarga. Air matanya terus menetes mengingat semua apa yang dikatakan kakaknya. Dia benar benar merasa bersalah, dia benar benar merasa berdosa.


Dikamar Royyan yang memarahi adiknya dengan sebegitu garangnya, kini Royyan yang kena omel istrinya.


"Akang ini terlalu berlebihan tau! Kan kata ama juga nasehatin dengan baik baik, akang malah ngebentak bentak Zhaffar kaya gitu! Kasian Zhaffar nya, udah di hukum berat sama akang, sekarang akang marah marahin, akang bentak bentak!"


"Belain aja yang salah!" kata Royyan dengan suara yang pelan namun masih kedengaran sama Nadhiirah.


"Apa? Bukan belain! Ih akang ini kenapa si?! Zhaffar itu adik akang! Adik pertama malah, aku tau akang sayang sama dia, sampai waktu di hukum aja akang masih perhatian sama dia! Sekarang akang marahin dia sampai seperti barusan, aku tau itu karena akang sayang sama dia, tapi gak gitu caranya akang! Malu terdengar sama orang lain di luar rumah! Malu kalau kedengaran sama santri santri! Nanti jadi timbul fitnah! Nanti timbul su'udzon! Nanti ada tanggapan adik sama kakak gak akur, ada tanggapan akang ini galak, akang ini kasar sama adik sendiri! Nanti ada lagi anggapan ama ngedidik anak anaknya buat berantem! Ribet kang!"


Royyan tidak menanggapi kalimat panjang yang menjadi paragraf yang di sampaikan Nadhiirah.


"Akang sadar gak, yang ngomong tadi bentak bentak sama Zhaffar itu bukan akang! Itu emosi akang yang tidak bisa akang kendalikan! Akang yang aku kenal itu lemah lembut, kalem, cool, bukan sangar seperti tadi! Sampai aku juga takut!"


"Iya maaf!" kata Royyan dengan singkat.


"Jangan minta maaf di sini! Faham?"


"Iya! Nanti sama umma sama ama!"


"Gak faham?"


"Sama Zhaffar juga!"


"Nah gitu dong! Sekarang aku punya permintaan!" Kata Nadhiirah.


"Nah kan nah!"


"Ya gak mau Nadh lah, hilang wibawa dong!"


"Awas aja kalau sampai nggak!"


"Iya Ustadzah Nadhiirah Rafi'ah Sa'adah binti abii, abuki, hubbii!" ujar Royyan.


"Apaan sih!" sambil tersenyum malu.


"Jangan malu gitu atuh, cantiknya plus plus tau!"


"Udah ah, mau di kabulin gak permintaan istri cantiknya ini?"


"Percaya diri banget!"


"Lah kan? Akang yang bilang!"


"Iya deh iya, ya udah apa dulu permintaannya? Nanti kalau akang sanggup kabulin, akang kabulin, kalau tidak ya terpaksa nanti dulu akang kabulinnya! Itu juga kalau bisa sih!"


"Gampang kok!"


"Iya apa?"


"Aku mau, sekarang akang mandi, setelah mandi pakai baju, lalu tidur! Udah gitu aja!"


"Gak mau ah, dingin!"


"Akang? Dingin?"


"Mandiin, baru mau!"


"Akang ih, gak mau lah! Apa apaan akang ini!"


"Hhahahah, ya udah iya deh,akang mandi!"


"Iya cepetan, aku sudah gak tahan!"


"Gak tahan apa?"


"Gak tahan sama bau nya!"


"Ya Allah Nadhiirah, kirain apa! Ya udah deh, akang mandi dulu!"