
Kang Hatim yang sedang berdoa setelah melaksanakan sholat sunah hajat melihat istrinya yang terisak menangis di tempat tidur dengan keadaan mata masih tertutup.
"Dia kenapa? kok nangis? sampai basah gitu! apa dia mimpi?" tanya kang Hatim pada dirinya sendiri.
"Hubbi,hey,hubbi! bangun! kamu kenapa hey?" kang Hatim mengusap air mata yang membasahi pipi Hana dengan jempolnya.
"Hey,kamu kenapa? bangun!" kang Hatim menepuk pipi Hana pelan.
"Astaghfirullah!" Hana mengerjap langsung bangun dengan tepukan tangan kang Hatim di pipinya.
"Kamu kenapa?" tanya kang Hatim.
"Aku mimpi buruk!" jawab Hana.
"Huwallahu, allahu rabbi, la syarika lahu. A'udzu bikalimatillahit tammati min ghadhabihi wa min syarri ibadihi wamin hamazatis syayatini wa an yahdhuruni!" kata kang Hatim dan langsung diikuti Hana.
"Emangnya kamu mimpi apa?" tanya kang Hatim.
"Aku mimpi akang ijin sama aku bahwa akang mau nikah sama Indri!" jawab Hana.
"Ya Allah,sudah saya katakan kan? bahwa saya tidak akan menikahi Indri!" kata kang Hatim.
"Iya kang,tapi aku takut!" kata Hana.
"Jangan di pikirkan! ingat satu hal! saya tidak akan menikah lagi dengan siapapun! saya janji!" kata kang Hatim.
"Iyaa kang!" sambil memeluk kang Hatim.Mereka berpelukan dengan tempo yang lumayan lama karena mereka merasa nyaman di pelukan satu sama lain.
"Sholat tahajud mau?" tanya kang Hatim.
"Iyaa!" jawab Hana dan melepaskan pelukannya.
"Ya sudah,ke kamar mandi dulu sana!" kata kang Hatim.
"Iyaa!" Hana beranjak menuju kamar mandi untuk mencuci muka dan berwudhu.
Setelah berwudhu Hana memakai mukenanya dan sholat sunah tahajud dua rakaat berjamaah.
"Ya Allah,lindungi rumah tangga kami dari godaan syetan ya Allah,lindungi istri hamba dari masalah apapun.Utuhkan lah rumah tangga kami ya Allah!" kata kang Hatim dalam doanya.
Setelah selesai berdoa,Hana mencium tangan kang Hatim dan kang Hatim mengusap lembut kepala Hana yang tertutup mukena.
"Ini masih malam! masih lama menuju subuh!" kata kang Hatim karena waktu baru menunjukkan pukul setengah dua dini hari.
"Iya aku tahu!" kata Hana.
"Terus,sekarang mau ngapain?" tanya kang Hatim.
"Aku lapar!" kata Hana sambil tersenyum.
"Lah,kalau makan ini masih terlalu malam!" kata kang Hatim.
"Iya,tapi bagaimana? tidur juga agak akan bisa! lapar!" kata Hana.
"Kamu juga gak masak nasi kan?" tanya kang Hatim.
"Nggak!" jawab Hana.
"Terus mau makan apa?" tanya kang Hatim.
"Kan ada mie!" jawab Hana.
"Emangnya kamu suka mie instan?" tanya kang Hatim.
"Suka,walau ayah sebenarnya melarang untuk tidak makan mie itu,tapi aku suka! jadi ayah sudah gak larang lagi karena sudah bosan ngomong!" jawab Hana dengan membayangkan masa kecilnya yang nakal dan selalu membantah perkataan orang tuanya.
"Masa kecil kamu itu seperti apa?" tanya kang Hatim.
"Aku kecil dan aku sekarang sama saja! sama sama pendiam! Namun,walaupun pendiam,aku masih suka di bilang nakal oleh ayah karena suka membantah perkataanya.Contohnya,saat aku di larang makan mie instan,tapi aku tetap memakannya!" kata Hana sambil senyum senyum.
"Saya lihat foto kamu saat masih kecil bersama laki laki di ruang keluarga! siapa laki laki itu?" tanya kang Hatim.
"Dia kakak laki lakiku! dia laki laki yang hebat setelah ayah! dia yang selalu melindungi aku saat ayah tidak ada! dia yang mengajari aku sholat dan baca qur'an!" jawab Hana dengan mata sudah berkaca kaca.
"Dia sudah meninggalkan ku dan orang tua ku duluan! dia meninggal karena kecelakaan saat dia mau ke rumah kakek!" kata Hana dengan air mata menetes membasahi pipinya.
"Maaf membuat kamu sedih!" kaga kang Hatim sambil memeluk Hana.
"Siapa nama kakakmu?" tanya kang Hatim.
"Husain Akhadi!" jawab Hana.
"Husain Akhadi bin ayah Bima bin siapa lagi?" tanya kang Hatim.
"Bin kakek haji Dodi!" jawab Hana.
"Bin?"
"Bin kakek buyut kyai haji Affandi Husaini!" jawab Hana.
"Bentar bentar,kakek buyut kamu kyai Affandi?" tanya kang Hatim.
"Iyaa!" jawab kang Hana.
"Kyai Affandi itu ayahandanya Ustadz Cahya Husaini bukan?" tanya kang Hatim.
"Iya,Ustadz Cahya itu kakekku! kok akang tahu?" tanya balik Hana.
"Ustadz Cahya itu guru saya dan sahabat abah!" kata kang Hatim.
"Ooooh!" Hana sambil ngangguk angguk.
"Berarti kamu ada turunan ustadz ya?!" tanya kang Hatim.
"Iyaa!" jawab Hana.
"Terus,setelah Kyai Husain atau kyai Affandi siapa lagi?" tanya kang Hatim.
"Apanya?" tanya balik Hana.
"Ayah kyai Affandi siapa?" tanya kang Hatim.
"Gak tahu!" jawab Hana.
"Lah,kok gak tahu?" tanya kang Hatim.
"Lupa!" sambil tersenyum.
"Kamu harus hapal minimal tujuh ke atas! mulai dari kakek kamu,kakek buyut kamu,ayahnya kakek buyut,kakeknya kakek buyut,terus kakek kakeknya kakek buyut! kamu harus tahu itu!" kata kang Hatim.
"Emangnya akang hapal?" tanya Hana.
"Apal!" jawab kang Hatim.
"Coba!"
"Muhammad Hatim Husni Abdurahman! bin kyai Yasa Abdurahman! bin haji Pegi Abdurahman! bin kyai Sufi' Abdurahman! bin kyai Abdurahman! bin haji Dedi! bin abah Tura! bin abah haji Fatih! tuh tujuh! minimal tujuh! kalau gak bisa tujuh,empat!" kata kang Hatim.
"Aku juga hapal kalau empat!" kata Hana.
"Coba!" kata kang Hatim.
"Farhana Sri Cempaka Indah! binti ayah Bima! bin kakek haji dodi! bin kyai haji Affandi Husaini!" kata Hana.
"Kurang satu!" kata kang Hatim.
"Aku akan tanyakan pada ayah nanti!" kata Hana.
"Kyai Affandi Husaini bin Mama Satibi!" kata kang Hatim.
"Kok akang tahu?" tanya Hana.
"Hatim!" kata kang Hatim membanggakan diri sendiri.