Ustadz Muda

Ustadz Muda
#153


"Gini man!" setelah membuang nafas panjangnya yang membuatnya merasa tenang.


"Gini gimana?" tanya kang Hatim.


"Hana kemana Tim?" tanya teh Dawa yang muncul dari dapur membawa baki yang di atasnya berisikan teh hangat untuk Hana dan kang Hatim.


"Ke rumah umi!" jawab kang Hatim.


"Ya sudah,teteh juga mau ke rumah umi,nganterin teh ini untuk Hana!" kata teh Dawa setelah menyimpan segelas teh di depan kang Hatim.


"Gak usah teh,simpan sini aja! nanti juga ke sini lagi!" kata kang Hatim.


"Udah gak papa,teteh antar aja! sekalian ada perlu ke teh Zahra!" kata teh Dawa dan pergi.


"Lanjut cerita!" kata kang Hatim.


"Aku lanjut cerita,tapi jangan marah!" kata Zulgi.


"Gini man,waktu aku pertama masuk paman ikut nganterin gak?" tanya Zulfi.


"Gak!" jawab kang Hatim dan meneguk teh hangat yang di sajikan kakaknya.


"Tapi tahukan di mana aku mondok?" tanya Zulfi.


"Tasik kan?" tanya balik kang Hatim.


"Nah iya,di tasik!" jawab Zulfi.


"Terus?"


"Sebenarnya,saat ibu dan bapa sudah pulang kembali,aku langsung kabur dari pesantren itu dan berangkat ke kubangsari,masih tasik sih!" kata Zulfi.


"Lah,mau ngapain?" tanya kang Hatim.


"Aku mondok di sana!" jawan Zulfi sambil menunduk dengan wajah bersalah.


"Oooh,jadi kamu ini gak mondok di sana? terus gimana dengan Taufiq?" tanya kang Hatim.


"Nah,itu yang jadi masalah! kan Taufiq masuk pesantren tilawah tasik itu baru dua bulan,kan dia mondok di pesantren fikih dulu!" ujar Zulfi.


"Terus!"


"Setelah aku tahu Taufiq akan di pindahkan ke pesantren Tasik,aku takut kalau ibu ke sana tapi aku gak ada! makanya aku langsung kembali ke pesantren yang aku di anterin sama ibu dulu!" jelas Zulfi.


"Okey,masalah pertama kamu berbohong kepada orang tuamu dan kepada adikmu,juga kepada dirimu sendiri! Masalah yang kedua kamu gak mau mondok di pondok kamu yang sekarang,kamu maunya di kubangsari tasik! benar begitu?" tanya kang Hatim.


"Iya man!" jawab Zulfi sambil mengangguk angguk.


"Kenapa gak mau di yang awal?" tanya kang Hatim.


"Apa sih nama pesantrennya?"


"Karena aku mau di kubangsari,nama pesantrennya ummul qur'an!" jawab Zulfi.


"Awalnya emang sekedar gak mau aja,hanya ingin mencapai keinginan! Dua bulan aku di ummul qur'an,dan lingkungannya gak cocok denganku! di ummul qur'ab khusus tilawah,tapi di kubang saru campur man! tilawahnya memang yang utama,tapi ada ilmu alatnya,ada tauhidnya dan lain lain!" jawab Zulfi.


"Kenapa kamu gak bilang aja sama ibumu! aku mau mondok di kubang sari gitu!" kata kang Hatim.


"Gak berani!" jawab Zulfi cengengesan.


"Ya sudah,lanjutkan beres beres baju! besok pagi berangkat ke kubangsaru!" kata kang Hatim.


"Bener man?" tanya Zulfi.


"Iya!" jawab kang Hatim dan wajah Zulfi berubah seketika.Yang tadinya murung bersedih,sekarang bahagia.


"Sebentar,masih ada pertanyaan!" kata kang Hatim.


"Apa?"


"Kan masuk pesantren itu,biasanya suka ada biaya makan,terus ngasih ke guru,masa iya gak ngasih! terus harus asa adrahi!"


"Alhamdulillah di sana,masalah makan gratis! dan untuk ngasih ke guru aku pakai uang jajan!" kata Zulfi.


"Berapa?" tanya kang Hatim.


"Dua ratus ribu,dan itu untuk dua puluh hari!" jawab Zulfi.


"Buat adrahi?" tanya kang Hatim.


"Ada seratus ribu,aku kasih ke teman teman!" jawab Zulfi.


"Jadi gak jajan satu bulan?" tanya kang Hatim.


"Iyaa,tapi kan paman juga tahu,santri itu suka berbagi,yang aku juga suka ikut makan cemilan orang lain!" kata Zulfi.


"Buat beli kitab,beli ini beli itu gimana?" tanya kang Hatim.


"Aku pinjem uang kakak senior!" jawab Zulfi.


"Berapa pinjem nya?" tanya kang Hatim.


"Lima ratus ribu,tapi tidak sampai lima puluh ribu aku belikan makanan! sisanya aku pakai untuk beli kitab,bayar iuran,beli buku,dan aku juga harus beli seragam!" jawab Zulfi.


"Sudah di bayar?"


"Sudah!"


"Sudah lunas?"


"Sudah!"


"Caranya?" tanya kang Hatim.


"Kan di transfer satu bulan sekali tiga atau empat ratus ribu,nah suka di bagi dua buat bayar utang!" jawab Zulfi.