
Hampir saja pipi Becca yang mulus itu di tampar oleh seorang Ibu-ibu yang gemas terhadapnya, jika Rio tidak langsung sigap untuk menangkap tangannya sambil menatapnya sangat datar.
"Sekali saja tangan Ibu menyentuhnya, maka jangan salahkan saya apa bila tangan Ibu hanya akan tersisa satu untuk seumur hidup!"
Ancaman yang Rio berikan mampu menghentikan kekacauan di sana. Tidak ada lagi sorakan, keramaian atau pun hinaan kepada mereka berdua.
Semua orang terlihat takut akan suara Rio yang terdengar sangat menyeramkan. Mereka tidak menyangka sama aksi Rio yang berhasil membangunkan bulu kuduk semua orang.
Setelah itu, Rio kembali membawa Becca pergi menjauh dari keramaian orang dan mencari tempat yang aman bagi mereka. Rio sangat tahu, betapa hancurnya dan juga sakitnya Becca ketika dia bertemu dengan wanita yang sudah menghancurkan segalanya.
Di tambah aksi Lola patut di acungi jempol. Sandiwara yang di buat, layak di apresiasikan pakai sebuah hadiah penghargaan atas draman yang dia permainkan.
Becca masih terlihat syok, lantaran ini yang pertama kali dia melihat sisi lain dari seorang Rio. Di mana Rio rela membela Becca di depan semua orang, tanpa rasa takut di bully oleh Ibu-ibu yang ada di sana.
Selepas perginya Becca dan Rio, Lola langsung di perlakukan baik oleh semuanya karena mereka merasa bila Lola adalah korbannya.
Lola hanya bisa tersenyum di balik tangisnya, lalu berterima kasih kepada semuanya yang sudah membelanya di depan Becca. Kemudian Lola pergi dari Toilet untuk menyusul Gala yang sepertinya sudah berada di sebuah tempat makan di Mall.
"Hihi ... Mudah sekali ya, mengelabuhi orang-orang bodoh seperti mereka! Tidak sia-sia aku membuang air mataku untuk berpura-pura menjadi orang baik di depan semuanya. Lagi pula pertemuan ini benar-benar sangat menyenangkan, kapan lagi aku bisa membuat Becca terlihat tidak berdaya begitu. Sayangnya, pria itu membelanya, huhh ... Menyebalkan*!"
Hati Lola berbicara mewakilkan rasa senangnya sambil berjalan menuju ekskalator turun. Hanya selang beberapa detik, ponsel Lola bergetar berulang kali. Lola lupa untuk mengaktifkan nada deringnya. Dan, saat di buka Lola kaget ada notif panggilan dari Gala yang kurang lebih hampir 30 panggilan.
Lola tersenyum senang ketika mengetahui, apa bila suaminya sudah mulai mengkhawatirkannya. Kemudian Lola menelepon balik Gala, baru juga Lola ingin menyapanya. Gala malah langsung memarahinya tanpa henti.
Bukannya Lola merasa takut atau bersalah, dia malah tertawa di dalam hatinya. Sikap Gala semakin hari semakin membuatnya bahagia, sedikit demi sedikit terlihat jelas adanya kemajuan dari Gala yang sudah mulai merespon perasaannya.
Saat percakapan selesai, Lola segera pergi ke tempat makan yang Gala sebutkan. Di situ Gala sudah memesankan makanan serta menuman untuk mereka, tetapi akibat Lola kesenangan untuk memojokkan Becca. Dia sampai lupa, jika ada suami yang sudah menunggunya dengan kesal.
Sesampainya di sebuah Resto yang ada di dalam Mall, Lola melihat keberadaan suaminya yang ternyata ada di paling ujung tepat di pojok kiri.
Senyuman mulai Lola ukir semanis mungkin untuk menyambut suaminya. Riasan wajah sudah Lola benarkan sambil menghilangkan bekas-bekas sisa air mata palsunya.
Wajah Lola terlihat senang, perlahan dia duduk di hadapan suaminya dalam posisi menatapnya sambil tersenyum. Berbeda sama wajah Gala yang terlihat ketus serta kesal.
"Ma-maafkan aku, Sayang. Aku tidak bermaksud untuk berlama-lama jauh darimu, sungguh. Aku serius, kok! Jadi, jangan marah ya. Jangan diam seperti ini dong, nanti aku sedih loh. Terus, kalau aku sedih pasti anak kita juga akan ikut sedih," ucap Lola, menunjukkan wajah sedihnya dan menjewer kedua telinganya sebagai tanda permintaan maaf yang sungguh-sungguh.
"Dahlah, jangan banyak ngomong. Mendingan sekarang makan, dari pada makanan jadi basi gara-gara kelamaan nungguin orang yang dari tadi di hubungin susah banget," sahut Gala, langsung memakan makanannya.
Bukan Lola namanya, jika dia tidak pandai mengambil hati orang, termasuk Gala. Wajah Lola terlihat begitu sedih dan cemberut. Dia melipat kedua tangannya di dada sambil menyandar di kursinya.
Gala yang melihat aksi istrinya, sontak menjadi bingung. Bukannya makan makanan yang sudah di pesan, kini Lola malah bersikap layaknya anak kecil yang tidak ingin makan.
"Kenapa begitu wajahnya? Bukannya di makan, malah di liatin. Aneh! Udah di makan dulu itu, Lola. Astaga, keburu enggak enak rasanya nanti!" titah Gala, malah semakin membuat Lola bersedih.
"A-aku enggak mau makan, kalau kamu masih marah sama aku. Biarin aja aku kelaperan, dari pada aku makan tapi wajahmu masih kesal begitu," jawab Lola, mengembungkan kedua pipinya.
"Huhh, yayaya. Ini aku senyum, nih ... Nih ... Udah ayo makan, habis itu pulang. Enggak baik lama-lama di luar, ini sudah masuk bulannya. Jadi, aku tidak mau ambil resiko, yang ada nanti kamu kecapean malah anak kita yang jadi korbannya!"
Gala mengukirkan senyuman di bibirnya yang membuat Lola kembali tersenyum. Lalu, dia mengangguk dan kembali bersemangat untuk memakan makanannya.
Melihat aksi Lola yang seperti ini membuat Gala menggelengkan kepalanya. Sikapnya yang manja, entah mengapa berhasil memikat Gala untuk tidak bisa bersikap terlalu cuek pada Lola.
Seakan-akan Gala sudah mulai menerima kenyataan apa bila hidupnya sekarang bukan lagi bersama Becca, melainkan bersama Lola dan anak yang sebentar lagi akan lahir.
.......
.......
.......
...***💜💜>Bersambung