Jangan Renggut Kebahagiaanku!

Jangan Renggut Kebahagiaanku!
Ancaman Naku Untuk Joey


Selesai melihat sang anak, Rani dan Ragil langsung kembali keluar dari ruangan untuk bergantian dengan yang kelompok kedua dan seterusnya.


Sekarang sudah saatnya Naila dan Naku yang bergantian mengunjungi Joey. Mereka berdua masuk ke dalam ruangan bersama sesuai arahan suster. Setelah itu, Naku melangkahkan kedua kaki perlahan mendekati bangkar pria tersebut dengan mata terus menatap ke arah wajah.


Sementara itu, Naila hanya mengekor di belakang Naku. Tatapan matanya merasa kasihan terhadap kondisi Joey yang harus terbaring lemah dengan bantuan alat-alat medis. Seakan-akan hidup pria itu tergantung dengan bantuan medis, seandainya alat itu ma*ti kemungkinan besar hidupnya pun berakhir.


Sungguh, wanita tersebut tidak dapat membayangkan. Bagaimana keadaan Yola setelah melihat ini? Apakah dia sanggup menemui Joey seorang diri sesuai permintaannya? Jika tidak, Naila ingin sekali menemaninya untuk berjaga-jaga. Namun, tidak mungkin. Semua sudah bersepakat supaya Yola sendiri menemui Joey demi menyatukan ikatan batin di antara mereka berdua.


"Hai, gimana kabar lu? Masih ingat gua siapa? Gua adalah kakak dari cewek yang selama ini lu deketin. Gua yang selalu berusaha menjauhi lu dari adik gua karena gua gak suka sama lu, gak suka cara lu mengambil perhatian Yola, dan gua gak suka kehadiran lu membuat pendidikan Yola terganggu. Gua cuma pengen yang terbaik untuk adik gua, apa salah? Gak, 'kan? Kalo lu punya adik pasti lu akan ngelakuin hal yang sama kaya gua, gimana caranya supaya adik kita bisa jadi orang sukses dan punya masa depan yang cerah."


Naku berbicara dengan bahasanya yang terdengar kasar dengan tatapan mata tak teralihkan sedikit pun dari wajah Joey. Naila memegang pundak sang pria dan berkata, "Oppa, jaga bicaramu. Dia lagi sakit, jangan sampai Oppa membuat dia merasa sedih. Walaupun dia sedang koma, tetap dia bisa mendengar apa yang kita ucapkan. Aku mohon, berkatalah yang baik, Oppa."


Naku hanya melirik Naila sekilas, lalu kembali lagi menatap Joey. Apa yang dikatakan oleh gadis itu sama sekali tidak di gubris olehnya, sang pria tetap berbicara sesuai isi hati tanpa direkayasa atau diperhalus hanya demi menunjukkan rasa kasihan atas kondisi Joey.


Tanpa semua orang ketahui, Naku dapat merasakan bahwa Joey tidak butuh air mata dan belas kasihan mereka semua. Pria yang terbaring lemah itu hanya butuh doa, semangat, dan senyuman sebagai kekuatan untuk melawan ma*utnya sendiri. Jika mereka memberikan tangisan, kesedihan, juga belas kasihan malah akan semakin memberatkan langkahnya. Maka dari itu, Naku tetap bersikap seperti biasa ketika berbicara pada pria yang selama ini mengganggu sang adik.


"Gua tahu, lu bukan cowok yang lemah, lu cowok yang kuat dan tahan banting. Berkali-kali gua hina, gua caci, bahkan gua tuduh sekalipun lu gak pernah balas. Lu selalu merendah, lu selalu diam, dan tersenyum. Tapi, satu yang gua salut sama lu. Lu itu cowok yang gak pernah banyak omong soal janji, soal cinta apalah itu, cuma lu buktikan semuanya dengan sikap lu yang menunjukkan bahwa lu bisa menjadi super hero bagi adik gua untuk melindunginya, membahagiakannya, dan menghapus air matanya. Tanpa lu cari perhatian di depan Yola, lu udah dapatkan semuanya. Hati, sayang, cinta, bahkan kepercayaan semua keluarga gua. Ya, walaupun gua tahu Yola masih polos soal itu, tetapi ikatan batin lu berdua sangatlah kuat."


Semua kata-kata yang tidak pernah Naku ucapkan di depan Joey, kini telah keluar semua dengan disaksikan oleh Naila yang terkejut. Selama gadis itu mengenal mereka tidak sedikit pun adanya adegan semanis ini dari pria yang terkenal galak.


"Waktu gua gak banyak untuk nemuin lu, gua sibuk! Satunyang harus lu tahu, jika lu sadar dalam waktu 3 hari mulai dari sekarang gua akan menyetujui lu menjadi adik ipar gua. Tapi, ada tapinya. Dengerin gua baik-baik! Lu boleh pacaran sama adik gua kalau udah SMK dan lu boleh nikahi adik ketika usia lu udah 22 tahun. Itu janji gua kalau lu bisa bangun dengan waktu yang gua tentukan. Namun, jika lu gak bangun dalam waktu 3 hari. Sampai gua ma*ti pun, gua gak akan pernah setuju lu jadi adik ipar gua. Paham, lu!"


Naila terkejut dengan ancaman yang telah diberikan oleh Naku. Pria itu terlihat sangat serius menatap tajam ke arah wajah Joey. Sumpah, pria yang sering dipanggil Oppa ini tidak sedikit pun menunjukkan kalau dia sedang bercanda atau ancaman yang berniat untuk sekedar menakut-nakutinnya.


Gadis tersebut langsung merinding melihat ekspresi wajah datar Naku terlihat seperti ingin melahap Joey sampai tidak tersisa. Namun, kembali lagi. Ancaman itu memiliki dua tujuan yang tidak dapat Naila benarkan.


Dengan segenap keberaniaan, mulut Naila bergetar dan mengatakan apa yang ingin disampaikan, "O-oppa ... A-apa ancaman itu be-beneran? Ba-bagaimana jika Joey belum sanggup menuruti permintaan Opaa? Apakah Oppa akan menghalangin mereka bersatu?"


Naku langsung membalikkan tubuh menatap lekat-lekat manik mata wanitanya dan berkata, "Itu urusan dia! Aku sudah terlalu baik memberikan waktu padanya, jika dia melewati 3 hari aku tidak bisa! Adikku bukan mainan, satu tetes air mata yang dia jatuhkan sangat berharga untukku. Aku tidak mau Yola menangis berbulan-bulan hanya karena menangisi pria lemah seperti Joey. Kamu paham maksudku? Dan, satu lagi, jangan pernah ceritakan soal ini pada siapa pun. Mengerti?"


Naila terdiam mematung. Dia menganggukan kepala tidak tahu harus mengatakan apa, intinya tatapan itu begitu menakutkan untuknya. Sama seperti suster yang berpura-pura sibuk saat Naku memberikan sorotan mata dengan isyarat tertentu.


"Udah, ayo, keluar. Aku sibuk!" titah Naku berjalan lebih dulu meninggalkan Naila yang masih berdiri mematung dekat bangkar Joey.


Gadis itu bukannya berbalik dan mengejar Naku, tetapi memilih berjalan maju mendekati Joey dan membisikkan sesuatu di telinganya.


Jangan khawatir, Joey. Kak Nai ada dipihakmu, pokoknya kamu harus tetap semangat. Kak Nai selalu dukung kamu supaya bisa bersatu sama Yola. Kak Nai percaya, kamu bisa melewati rintangan dari kakaknya Yola yang galak bin ngeselin itu. Ayo, semanga Joey, semangat! Ingat, kalo kamu cinta sama Yola jangan lemah hanya karena ancaman kakaknya. Jadikan itu semua sebagai motivasimu, semua impianmu untuk mendekati Yola sudah ada di depan mata. Jadi, Kak Nai mohon, jangan sia-siakan semua itu. Buat kakaknya Yola menyesal karena memberikan ancaman itu, sehingga kalian bisa bersatu dengan mudahnua. Oke! Kak Nai akan terus berdoa buat Joey, semangat. Sebentar lahi Yola akan nemuin kamu, semoga kamu senang.


Kurang lebih seperti itulah kata-kata yang berisikan tentang motivasi serta semangat untuk Joey. Ketika gadis itu baru selesai dengan urusannya sambil tersenyum, tiba-tiba Naku kembali dengan tatapan kesalnya.


Naila langsung nyengir menunjukkan sederetan gigi putih, bersih, dan rapi membuat Naku segera menarik tangannya untuk membawa wanitanya keluar. Sang suster menggelengkan kepala mengikuti mereka keluar dari ruangan dan akan menjemput Yola masuk ke dalam sebagai orang terakhir.


.......


.......


.......


...💜💜>Bersambung<💜💜...