Jangan Renggut Kebahagiaanku!

Jangan Renggut Kebahagiaanku!
Maaf


Rasanya Ragil telah gagal menjaga serta melindungi keluarga kecilnya, ketika melihat sirup marjan telah menetes dari sudut bibir Rani. Ragi melepaskan tangan Rani, lalu meraup rahang sang istri penuh rasa.


Seakan dicelupkan di sumur api yang paling dalam membuat tangan Ragil bergetar hebat saat ingin menyentuh luka di bibir istri tercinta. Rani bisa merasakan getaran tangan Ragil yang terasa seperti trauma.


"Ra ... Ragil, ka-kamu ...." Perkataan Rani terhenti ketika jari Ragil ingin menyentuh luka tersebut. Rani bisa melihat dari wajah Ragil, betapa hancurnya sang suami saat air mata mulai menetes di pipi yang jarang sekali Rani lihat.


Ibu jari Ragil perlahan mengusap sirup marjan itu, hingga menimbulkan efek rin*ti*han dari Rani yang terdengar seperti suara ular.


Satu tetes sirup marjan telah berada tepat di ibu jari Ragil membuat dia langsung membuka telapak tangannya dan melihat tetesan tersebut sesekali menatap wajah Rani.


"Li-lihatlah, Sayang!" ucap Ragil menunjukkan tangannya membuat Rani ikut menatap sesekali terisak.


"I-ini adalah bukti, bahwa a-aku telah gagal dalam menjagamu, Sayang. Aku gagal menjadi suami sekaligus ayah yang telah berjanji untuk selalu melindungimu juga Joey sampai hidupku benar-benar berakhir," sambung Ragil membuat Rani menggelangkan kepalanya.


Tangan Ragil yang bergetar melihat noda merah itu langsung dihapus oleh Rani, lalu dia langsung memeluk suami tercinta hingga tangis keduanya kembali pecah.


Untuk kedua kalinya mereka menangis dalam keadaan seperti ini, hanya saja ada sedikit perbedaan. Di mana tangisan pertama memiliki arti kebahagiaan ketika Rani dinyatakan positif mengandung Joey, lalu yang terakhir memiliki arti kesedihan akibat mereka menangis di dalam penyesalan satu sama lain.


"Maafkan aku, Sayang. Perkataanku yang cukup kasar telah melukai hatimu, berulang kali aku selalu menuntutmu untuk menjadi istri juga ibu yang sempurna, padahal tanpa aku sadari kamu selalu berusaha melakukannya hanya tidak ditunjukkan secara terang-terangan."


"Aku paham dari dulu aku kenal kamu, kamu adalah wanita yang sangat mandiri. Kamu wanita hebat yang bisa sukses dengan usahamu sendiri tanpa bantuan siapapun, hanya saja aku rindu di mana kita seperti dulu. Kita bisa meluangkan waktu untuk berdua, liburan bersama keluarga kecil kita, atau sekedar menemani Joey bermain. Mungkin rasa itu yang telah membuatku menjadi egois, hingga tanpa sadar aku telah menuntutmu menjadi wanita yang aku inginkan tanpa mengerti keinginanmu."


"Sekali lagi maafkan aku, Sayang. Aku akan berusaha menjadi suami yang tidak akan menuntut apa pun pada istrinya, kamu tetap mencintaiku seperti awal kita bertemu saja itu sudah membuatku sangat senang. Itu berarti hanya ada aku, satu-satunya pria yang ada didalam hidupmu bukan orang lain. Terima kasih, kamu sudah mencintaiku sejauh ini. Meskipun, caramu terkadang salah, tapi aku tetap bersyukur karena hanya kamu wanita terbaik yang pernah ada di dalam hidupku. Sekali lagi terima kasih, Sayang!"


Ragil memeluk sang istri dengan rasa kasih sayang yang begitu besar. Air mata akan ketulusan mewakili perasaan cinta Ragil yang sangat luar biasa terhadap sang istri. Meski Rani bukan cinta pertama, Ragil memperlakukannya bagaikan cinta pertama dan terakhir di dalam hidup.


Sesekali Ragil melepaskan pelukan itu untuk mencium kening, pipi juga bibir Rani sekilas dan kembali memeluknya. Entah mengapa, Rani merasa begitu nyaman dengan pelukan yang sudah lama dia rindukan.


Tanpa mereka sadari, mereka seperti bersaing secara tidak sengaja untuk lebih menunjukkan kehebatan satu sama lain demi bisa memperlihatkan siapa yang jauh lebih unggul di antara Rani atau Ragil. Sehingga, persaingan itu mampu melupakan mereka tentang tugas pokok masing-masing mengenai tanggung jawab terhadap Joey.


Mendengar perkataan suami yang cukup mencubit hati Rani, membuat dia juga ikut meminta maaf atas semua keegoisan yang selalu dia tunjukkan setiap kali bertengkar.


"Aku juga minta maaf, Sayang. Aku terlalu egois untuk menjadi istrimu, aku terlalu memikirkan tentang pekerjaan sampai melupakan tugasku sebagai seorang ibu juga istri untuk kalian. Aku hanya berusaha untuk tidak mengecewakan atasanku karena aku telah dipercaya untuk memegang satu perusahaannya, tetapi aku malah lalai dalam menjaga kepercayaan keluargaku sendiri. Maafkan aku, Sayang. Maafkan aku!"


"Kata-kataku mungkin selalu menyakitimu tanpa disengaja mau pun tidak, cuman jujur. Semua itu spontans keluar dari mulutku tanpa aku rangkai, sebenarnya maksudku untuk memberikan perhatian padamu, tetapi aku selalu mengapresiasikan dengan nada yang ketus juga cuek. Mungkin akibat aku terlalu mementingkan pekerjaan hingga aku melupakan tugasku sendiri di dalam rumah tangga kita. Maka dari itu, kamu selalu menuntutku untuk menjadi ini, itu dan sebagainya."


"Aku sadar, Sayang. Di sini yang paling egois adalah aku, sebenarnya apa yang aku cari dari semua pekerjaanku ini sementara suamiku sendiri memiliki perusahaan dan kita tidak pernah kekurangan sandang, papan, pangan. Lalu, kenapa aku begitu egois? Apa aku terlalu ambisi untuk menyaingimu, atau aku begitu semangat untuk menggapai cita-citaku menjadi wanita sukses? Entahlah, aku sendiri juga bingung. Aku ingin sekali menjadi istri pada umumnya yang hanya duduk manis menyambut suami pulang kerja, nemenin anak main, belajar juga tidur. Namun, kenapa sulit sekali untukku, Sayang? Kenapa!"


"Aku sudah berusaha melakukan itu di saat aku sedang libur, aku coba bangun pagi, masak, nyiapin kebutuhan kalian sampai semuanya udah beres. Lalu, aku duduk sambil menonton televisi menunggu kepulangan, tetapi rasanya jenuh banget. Sungguh, aku tidak bisa seperti itu. Jiwaku dari mudah sudah berada didalam dunia pekerjaan, sehingga aku tidak bisa hanya duduk santai tanpa melakukan kegiatan pekerjaan. Aku bosan seperti itu, Sayang. Ma-maafkan aku, aku belum bisa menjadi istri yang baik buat kamu. Aku masih belum bisa mewujudkan semua itu, maaf!"


Rani menangis kembali ketika mengeluarkan semua isi hati yang selama ini mengganjal. Semua unek-unek tersebut Rani katakan tanpa peduli reaksi Ragil akan seperti apa. Setidaknya Rani telah berusaha mengatakan apa yang dia rasakan agar Ragil bisa memahami kondisi Rani.


Ragil melepaskan pelukannya, lalu meraup wajah Rani sambil menggelengkan kepalanya. Dia tidak masalah jika Rani tetap bekerja seperti biasa, hanya saja Ragil menginginkan Rani untuk bisa lebih bijak meluangkan di mana dia harus bekerja, bersama keluarga dan beristirahat.


.......


.......


.......


...💜💜>Bersambung<💜💜...