Jangan Renggut Kebahagiaanku!

Jangan Renggut Kebahagiaanku!
Selamat Dari Maut


Selepas perginya Gala, tak lama Naku pun tersadar dengan sedikit membuka matanya secara perlahan menyesuaikan cahaya lampu kamarnya.


"Syukurlah, kamu sudah sadar. Mommy seneng dengar Naku sudah bangun. Naku tahu tidak--"


Belum selesai Becca mengatakan perasaannya, Naku langsung menghempaskan tangan Becca begitu kencang. Becca pun terkejut saat melihat reaksi anaknya yang masih benar-benar marah padanya.


"Ja-ja ... Ja-- ...."


"Arrghh ... Ada apa dengan suaraku? Kenapa susah banget buat ngomong, kalau aku tidak mau di sentuh!"


"Lagi pula, kenapa gua masih bisa hidup? Bukan seharusnya gua udah mati? Terus juga kenapa gua masih bisa lihat dunia yang kejam ini*?"


"Kenapa, Tuhan! Kenapa! Dari pada gua harus menyaksikan perpisahan mereka, lebih baik mereka yang menyaksikan kepergian gua!"


Naku berbicara di dalam hatinya, dimana perasaan yang di kuasai oleh amarah masih sangat menggebu-gebu di dalam hatinya.


Semua bayangan pertengkaran antara Becca dan Gala masih teringat jelas di isi kepala Naku. Sampai-sampai ketika dia mengingatnya, kepalanya kembali terasa sangat menyakitkan.


"Mommy mohon jangan banyak berbicara dulu, Sayang. Tenggorokanmu itu lagi mengalami iritasi, jadi untuk beberapa hari ke depan kamu harus berhenti berbicara sampai tenggorokanmu


benar-benar pulih."


"Jika kamu masih akan tetap memaksakannya, kamu bisa kehilangan pita suaramu untuk selamanya. Apa kamu mau? Pasti tidak, bukan? Maka dari itu, sedikit saja turunin egomu ya ...."


"Mommy tahu kok, kamu masih marah banget sama Mommy dan Daddy. Akan tetapi Mommy mohon dengan sangat, jangan banyak pikiran ataupun memaksakan untuk berbicara. Kondisi kamu saat ini masih belum sepenuhnya sehat, Mommy takut bila terjadi sesuatu sama kamu. Jadi, Mommy mohon kamu harus tetap tenang."


Berulang kali Becca mencoba menasihati anaknya sambil terus berusaha menyentuhnya, hanya saja Naku selalu menolaknya. Tatapan penuh kemarahan itu terlihat jelas dari sudut mata Naku, sehingga membuat Becca merasa begitu bersalah.


Perlahan Becca mulai menjelaskan pada Naku sedikit demi sedikit, kalau itu merupakan emosi sesaatnya ketika salah paham terhadap suaminya sendiri.


Semarah itukah Naku pada orang tuanya? Ya, jelas. Anak mana yang ingin melihat kedua orang tuanya pisah? Pasti tidak akan ada 1 anak pun yang ingin ada di posisi itu. Akan tetapi ada banyak anak yang tidak bisa mencegah semua takdirnya. Sehingga mereka harus menjadi korban atas keegoisan kedua orang tuanya sendiri.


Maka dari itu, Naku sedang berusaha keras untuk mempertahankan keluarganya agar tetap utuh. Sebab Naku tidak ingin merasakan seperti teman-temannya yang sebagian adalah korban broken home.


Ya, walaupun cara Naku terbilang salah. Akan tetapi, yang ada di pikiran anak yang masih di bawah umur seperti Naku, hanya itu. Bahkan anak yang sudah dewasa pun sering kali mengakhiri hidupnya dengan penyebab yang sama.


Hanya saja Naku masih masuk dalam kategori beruntung\, karena dia di berikan kesempatan untuk kembali melihat indahnya dunia. Berbeda sama kebanyakan orang yang kurang beruntung\, saat melakukan percobaan bun*nuh diri yang akhirnya kema*tiannya malah menjadi petaka bagi dirinya sendiri.


Setelah mendengarkan semua penjelasan Becca, entah mengapa ada perasaan ganjal yang Naku rasakan. Jika memang benar mereka sudah kembali akur, lantas dimana Gala? Kenapa Naku tidak melihat keberadaannya?


Pertanyaan itulah yang saat ini berusaha Naku katakan dengan susah payah. Becca pun segera menghentikan Naku, agar dia tidak lagi memaksa untuk berbicara di saat Becca sudah mulai mengerti perkataan yang akan Naku ucapkan.


"Mommy tahu Naku lagi nyari Daddy 'kan? Jadi, Naku tenang ya. Daddy adakok, tadi dia ke luar sebentar menerima telepon dari asisten kantornya. Paling juga sebentar lagi kalau sudah selesai langsung kembali ke sini. Lebih baik Naku istirahat aja ya, Mommy tidak tega melihat Naku seperti ini."


Perlahan Becca mulai mendekatkan diri pada Naku, kemudian tangannya pun mulai terangkat dan berhasil mengusap kepala Naku sangat lembut.


Rasanya Becca benar-benar senang sekali bisa kembali menyentuh anaknya, setelah beberapa menit tadi mendapatkan penolakan cukup keras.


Dari sini Becca sadar, bila kemarahan Naku tertuju pada hubungannya dengan Gala. Semua sikap itu muncul ketika Naku tidak ingun melihat kedua orang tuanya sampai berpisah.


.......


.......


.......


...***💜💜>Bersambung