
Sesampainya di sekolah, Naku langsung pergi ke kelasnya untuk menempati tempat duduknya. Dimana sebelah kursinya sudah ada seorang gadis cantik yang tidak lain adalah Naila.
"Pagi, Opp--"
Naila menghentikan perkataannya saat melihat lirikan maut yang Naku berikan sambil duduk di kursinya.
"Bisa 'kan, panggil gua Naku. Bukan Oppa, ngerti lu!" ucap Naku, kesal.
"Hump, Oppa nyebelin. Pagi-pagi udah buat mood Naila hancur, padahal Naila mau menghadapi ujian yang sangat berat."
"Seberat cinta Naila buat Oppa. Cuman, sayangnya Oppa tidak peka!"
Naila terus mengoceh tanpa henti, bahkan suara terdengar sangat manja di telinga Naku. Menggemaskan? Ya, sedikit. Hanya saja Naku, lebih memilih untuk cuek tanpa menghiraukannya.
Dimana pipi Naila yang chubby seketika mulai menggembung, lalu bibirnya yang kecil, tipis berwarna pink langsung maju sepanjang 5 cm.
"Susah memang ya kalau punya doi kaya kulkas 4 pintu. Ngambek aja di cuekin, bukannya di bujuk. Gimana kalau mau bu*nuh diri, pasti di tonton kali."
"Untung Oppa ganteng. Coba kalau jelek, udah aku jual di tukang rongsok!"
Naku melirik Naila yang terus memajukan mulutnya bagaikan seekor soang, ketika ingin menyosor orang yang ada di dekatnya.
Naila yang di tatap oleh Naku langsung membuang muka sambil melipat kedua tangannya di dada. Kemudian menjulurkan lidahnya, layaknya orang yang sedang meledek kesal.
"Apa, lihat-lihat. Wleee ...."
"Dasar wanita aneh!"
"Bodo, aku aneh juga nanti Oppa suka. Kenapa? Enggak percaya? Lihat saja, suatu saat nanti Oppa yang akan bucin sama aku. Dasar kulkas!"
"Suka sama lu? Kalau mimpi, jangan tinggi-tinggi. Jatuh, nangis lu!"
"Suka-suka akulah, karena hanya mimpi yang bisa membuatku bahagia. Bukan kenyataan yang malah menyakitkan, sama kaya cintaku sama Oppa!"
"Drama lu!"
"Nyenyenye ...."
Perdebatan itu terus terjadi membuat sebagian murid yang ada di kelas hanya bisa menyaksikan dan juga meledekinya.
Sampai akhirnya, Naku memutuskan untuk terdiam tanpa kembali berdebat dengan wanita yang sangat menyebalkan di dalam hidupnya.
Naku lebih memilih untuk membawa buku pelajaran pertama, yang sebentar lagi ujian akan di mulai. Dan, benar saja selang 10 menit. Bel masuk pun berbunyi, semua murid langsung memasukan semua buku ke dalam tas sekolahnya.
Sang guru masuk, lalu menyuruh semua murid untuk mengumpulkan semua tas sekolahnya di depan, tepat di bawah papan tulis.
Hanya ada beberapa anak yang bandel, meletakkan buku di bawah kolong meja untuk mempermudah melakukan contekkan.
Tidak berhenti di situ saja, sebagian juga ada yang membuat contekan melalui kertas selembar ataupun tulisan tangan yang memang sangat di sembunyikan.
Maklum, anak yang masih terbilang kecil ini memang susah untuk di atur. Contekan, merupakan jalan satu-satunya demi mendapatkan nilai yang bagus.
Jangankan anak SD anak SMK atau kulihan saja terkadang masih suka ada yang melakukan kecurangan. Meski, tidak semuanya. Cukup orang tertentu saja yang memang selalu mengandalkan cara demi nilai terbaik di rapotnya.
Naku menoleh ke arah sampingnya, melihat posisi Naila yang sangat menyedihkan. Dia duduk membungkkukan tubuhnya, dimana kepalanya di taruh di atas meja berbantalan tangan kanannya. Kemudian tangan kirinya terus memegang serta mere*mas perutnya cukup kuat.
"Sstt, aawwshh ...." Suara rin*tihan Naila semakin terdengar, membuat Naku merasa bingung.
"Kenapa?" ucap Naku, sedikit berbisik. Sesekali menatap ke arah depan, melihat sang guru sedang membaca koran.
"Pe-perutku sa-sakit, O-oppa." ucap Naila, terbata-bata.
"Kok bisa?" tanya Naku, kembali.
"A-aku ti-tidak sarapan, mu-mungkin saja penyakitku kambuh." jawab Naila, menunjukkan wajah yang mulai memucat.
"Lu punya penyakit lambung?" ucap Naku, langsung di angguki oleh Naila.
"Ckk, lagian udah tahu punya penyakit malah enggak sarapan. Go*blog!" sahut Naku, kesal.
"Sstt, be-berisik! Ka-kalau nanti ketahuan bisa-bisa aku gagal mengerjakan ulangan!" ujar Naila, membolakan matanya.
"Ke UKS sono lu, dari pada ma*ti di sini. Nyusahin!" celetuk Naku, langsung berhasil membuat Naila kembali duduk dengan tegak menahan semua rasa sakit di perutnya.
Tatapan tajam yang Naila berikan pada Naku sedikit membuatnya terkejut. Sedikit aneh memang, sebab Naila bersikap seolah-olah dia wanita yang baik-baik saja.
Mungkin berkat kata-kata Naku yang tanpa di sengaja telah melukai hatinya, langsung membuat Naila membuktikan kalau dia tidak akan menyusahkannya.
Jadi, apapun yang Naila rasakan dia terus berusaha menahannya sambil fokus mengerjakan ujian yang sedikit lagi kelar. Hanya saja bibirnya serta gerak-gerik tubuhnya tidak bisa menutupi rasa sakitnya tersebut.
"Ckk, menyusahkan!"
Naku mendengus kesal, menatap ke arah sekelilingnya kemudian menatap ke arah guru yang memang masih fokus membaca koran.
Entah mengapa pengawas itu malah asyik dengan dunianya sendiri, maklum saja sudah sangat berumur jadi tidak segesit pengawas muda dalam menjaga ujian sekolah.
Tangan Naku mulai masuk ke dalam kolong meja, lalu satu kotak bekal yang di berikan oleh Becca langsung dia masukan ke dalam kolong meja Naila.
"Makan itu pelan-pelan, jangan sampai ketahuan. Setelah ujian berakhir cepatlah ke ruang UKS, sebelum nyawamu hilang!"
Naila melirik ke arah Naku yang kembali fokus pada kertas ujiannya. Dia tidak menyangka meskipun perkataannya sangat menyakitkan, tetapi hatinya tetaplah baik.
Senyum Naila mulai merekah lebar, dia mengucapkan terima kasih dan langsung membuka perlahan kotak bekal Naku. Setelah itu memakan rotinya sambil memantau situasi yang cukup aman.
Kini, mereka berdua kembali mengerjakan soal ujian dalam keadaan tenang. Bertujuan agar tidak mengganggu konsentrasi pengawas yang sedang membaca koran. Dengan begitu sebagian murid bisa lebih leluasa melakukan aktifitas contek-mencotek tanpa harus ketahuan.
.......
.......
.......
...***💜💜>Bersambung