Jangan Renggut Kebahagiaanku!

Jangan Renggut Kebahagiaanku!
Keputusan Ragil & Rani


Perkataan Joey terhenti saat dia mendengar suara ketukan dari luar kamar. Joey terdiam sejenak ketika mendengar kedua orang tuanya terus meminta Joey untuk membukakan pintu kamar. Perasaan Joey semakin tidak karuan, wajahnya terlihat gugup dan kakinya sedikit bergetar.


Ya, walaupun Joey memang sudah memiliki niatan untuk tinggal sendiri di sebuah wisma yang ada di luar negeri sekalian sekolah, tetap saja hati keci Joey masih belum rela pergi meninggalkan mereka di sini. Sehingga, perasaan itu terus bermunculan di pikiran Joey ketika membayangkan kema*tiannya nanti.


"Joey, buka pintunya, Sayang. Mamih sama Papih mau bicara, Joey belum tidur, 'kan?" ucap Rani disela-sela tangannya mengetuk pintu.


Joey masih terdiam mematung dengan wajah terlihat begitu syok ketika mendengar mereka ingin berbicara serius padanya. Itu artinya mereka akan membicarakan tentang pilihan yang Joey katakan 2 hari lalu.


"Joey, buka pintunya, Nak! Kami mau berbicara, Papih mohon kasih kesempatan untuk kami menjelaskan semuanya sebelum waktu kami habis. Please!"


Ragil memohon penuh kelembutan agar Joey bisa membukakN pintu kamarnya, lalu mereka semua kembali menyelesaikan masalah bersama-sama tanpa emosi.


Rani dan Ragil tidak pernah menyerah meminta sang anak untuk membukakan pintu. Mereka merendah serendah-rendahnya semi menyelesaikan masalah agar tidak semakin berlarut-larut. Mereka sangat tahu, Joey tidak pernah tertidur di jam 10 malam ke bawah, kecuali sedang sakit.


Untuk beberapa menit, akhirnya Joey tersadar dari lamunannya dan segera berjalan mendekati pintu untuk membuka kunci. Setelah itu, pintu perlahan Joey buka bersamaan dengan kedua orang tua yang sudah berdiri tepat di depan.


"Boleh kami masuk?" tanya Ragil.


"Masuklah!" titah Joey membuka pintu lebar-lebar, kemudia berbalik meninggakkan mereka. Joey pergi mendekati kasur lalu duduk berselonjor diikuti oleh kedua orang tuanya.


Rani duduk di sebelah kanan, Ragil duduk di sebelah kiri. Mereka mencoba untuk menarik napas sejenak sebelum membahas apa yang ingin mereka katakan. Dirasa sudah mulai tenang, Ragil memulai lebih dulu untuk menjelaskan pada sang anak maksud dan tujuan mereka datang menemui Joey.


Sementara Rani hanya memeluk Joey sambil menciumi pucuk kepala. Rani tidak ingin berbicara mendahului sang suami karena Ragil adalah kepala rumah tangga, jadi dia yang berhak menjelaskan lebih dulu.


"Sebelumnya Papih dan Mamih ingin meminta maaf sama Joey, kami tahu Joey pasti sangat kecewa sama sikap kami yang tidak pernah memperhatikan juga meluangkan waktu. Kami terlalu sibuk dengan pekerjaan masing-masing sampai kami lupa kalau kamu juga butuh kasih sayang bukan hanya materi."


"Kemarin juga Joey memberikan kamu pilihan yang cukup sulih untuk kami ambil, tetapi kami sudah memikirkan semuanya matang-matang demi memperbaiki hubungan keluarga kecil kita ini. Papih dan Mamih paham sekali apa yang Joey rasakan, justru itu kami sudah memutuskan untuk tidak mengizinkan kamu tumbuh besar di negara orang sendirian. Lebih baik salah satu dari kami berhenti dari pekerjaan supaya bisa lebih fokus menemani Joey di rumah seperti dulu, main bersama dan juga menghabiskan waktu weekend dengan pergi bersama keluarga."


"Jadi, Papih dan Mamih telah memutuskan di antara kami berdua yang memilih untuk tetap keluar dari pekerjaan demi Joey adalah ...."


Joey menoleh ke arah Ragil dengan wajah yang sangat penasaran. Detak jantung Joey berdebar begitu kuat ketika harus menunggu supaya bisa menyaksikan siapa dari mereka yang lebih menurunkan egonya demi kehangatan keluarga.


Meskipun Joey tahu kalau di sini yang leboh berkorban adalah Ragil, tetap saja perasaan Joey seperti diaduk-aduk hanya sekedar mendapatkan kunci jawaban dengan alasan yang kuat.


Siapa pun di antara mereka berdua yang sudah berkorban meninggalkan pekerjaan Joey tetap mengapresiasikan. Itu artinya, Joey masih sangat berharga bagi kedua orang tua yang baru belajar berubah.


Akan tetapi, diamnya Ragil malah semakin membuat jantung Joey hampir copot. Ingin sekali Joey bertanya agar Ragi bisa meneruskan perkataannya yang terjeda, tetapi Joey urungan. Dikarenakan Joey tidak ingin kecewa jika mendengar bahwa yang berhenti bekerja adalah Ragil bukan Rani.


Secara tidak langsung, sebenarnya Joey ingin Rani kembali seperti dulu yang selalu memberikan perhatian, kasih sayang juga menyibukkan mengurus anak dan suami lebih dulu barulah dia bisa berangkat bekerja dengan tenang.


Akan tetapi, akhir-akhir ini Rani susah untuk di kendalikan. Dia hanya perhatian lewat pesan terhadap Joey, tetapi sampai di rumah tidak ada percakapan tentang pertanyaan bagaimana keseharian Joey di rumah yang ada suara keributan adu mulut antara Rani sama Ragil.


Sama seperti Ragil, Perusahaan yang mulai naik pesat membuat dia lupa akan waktu. Tidak kenal tanggal merah ataupun jam, semua Ragil hajar sampai-sampai tidak ada waktu untuk mereka sekedar berkumpul minum teh sambil menonton televisi.


Setelah menjeda perkataannya kurang lebih satu sampai dua menit, Ragil kembali meneruskan sambil menatap Rani yang hanya menganggukan kepala ketika tahu resiko apa yang akan mereka hadapi nanti.


"Papih dan Mamih telah memutuskan kalau salah satu dari kami harus meninggalkan pekerjaan dan orang itu adalah, Mamih. Dia rela risegn dari Perusahaan demi tetap bisa terus bersama kamu, betapa sayangnya Mamih terhadapmu. Dia tidak peduli impiannya akan terwujud atau tidak yang penting putra kesayangannya itu bisa selalu ada di dekatnya!"


Jawaban tidak terduga dari Ragil membuat Joey benar-benar terkejut. Joey langsung menoleh menatap Rani yang hanya bisa tersenyum dibalik air mata sambil terus memeluknya sesekali menciumi wajah Joey.


Saat ini bibir Joey benar-benar tidak bisa berbicara apa pun. Seakan ada lem perekat yang menempel hingga membuat Joey sulit mengatakan apa yang ingin dia katakan pada Rani.


Ternyata, Rani masih bisa mengambil keputusan sesuai sama apa yang ada dipikiran Joey. Keegoisan di dalam diri Rani seketika hilang begitu saja hingga membuat Joey tidak bisa berkata apa-apa. Jangankan Joey, Ragil sendiri sebagai suami juga ikut terkejut atas apa yang Rani katakan beberapa jam lalu.


"Mamih tahu, apa yang Mamih lakukan ini tidak bisa menebus semua rasa kecewa yang Joey lakukan. Mamih tahu kok, maksud Joey memberikan pilihan itu karena ingin Mamih selalu ada di rumah, 'kan? Dengan begitu Mamih bisa selalu menemin ke mana pun Joey pergi dan bermain. Jadi, sekarang Joey tidak perlu khawatir lagi. Intinya Mamih sudah melakukan apa yang Joey mau, tapi jangan tinggalin Mamih. Please!"


Rani memohon terus menerus sambil memeluk Joey yang tidak bisa berbuat apa-apa lantaran masih syok mendengar keajaiban semua ini.


Air mata yang terjatuh di pipi Rani semakin lama semakin deras, membuat Joey berusaha untuk melepaskan pelukan Rani lalu menghapus semua air mata tersebut dalam keadaan bibirnya mulai bergetar untuk mengatakan sesuatu.


.......


.......


.......


...💜💜>Bersambung<💜💜...