Jangan Renggut Kebahagiaanku!

Jangan Renggut Kebahagiaanku!
Menyuapini Becca


[Hallo ... Ya, ada apa, Naku?] ucap Rio, ketika mengangkat panggilan tersebut. Ketika nama tersebut terucap, Becca melongokkan wajahnya tidak percaya kalau anaknya bisa menghubungi Rio.


Di persekian detik, Rio menjauhkan ponselnya sambil menutup sumber suara. Kemudian menoleh ke arah Becca sambil memberikan kode tertentu.


"Naku sangat mengkhawatirkanmu, apa aku harus bilang kalau kamu sudah bersamaku di sini?" bisik Rio, membuat Becca refleks melambaikan tangannya dengan cepat. Artinya Becca tidak memberikan Rio izin untuk memberitahu posisinya saat ini pada Naku.


Rio hanya mengangguk kecil, pertanda dia telah mengerti apa yang Becca sampaikan. Kemudian Rio kembali menaruh ponselnya di telinga kanannya sambil mendengar apa yang Naku sampaikan.


[Ahya, kenapa-kenapa? Maaf di sini ada gangguan sinyal hehe ....]


[Oh itu, ya-ya Om sudah berhasil menemukan Mommymu. Sekarang dia ada bersama Om di rumah sakit Paparehe kamar Melati nomor 39. Om tunggu ya, ingat! Jangan ke sini sendirian, minta Pak supir untuk mengantarmu, untuk lebih jelasnya Om ceritakan kalailu kamu sudah sampai di sini!]


Sambungan telepon pun terputus begitu saja ketika Naku langsung bersiap-siap secepatnya ke rumah sakit. Jarak antara rumah Naku ke rumah sakit sekitar 2 jam kurang, apa bila jalan tidak terlalu macet.


Becca yang tadinya sedang kembali menikmati makannya, langsung melotot melirik tajam ke arah Rio. Perasaan beberapa detik lalu, Becca mengatakan tidak, ketika Rio ingin memberitahu tentang keberadaannya kepada Naku.


Akan tetapi, itu di luar dari ekspetasi Becca. Rio malah dengan sengaja memberikan rincian sedetail mungkin, kemana Naku harus menemui Becca yang beberapa jam lalu sempat kabur dari rumah secara tiba-tiba.


Tanpa rasa bersalah, wajah Rio terlihat biasa saja sambil mengukirkan senyuman kecil terhadap Becca yang saat ini sedang melototkan matanya.


"Bukannya tadi aku sudah memberikan kode untuk jangan kasih tahu pada Naku! Terus kenapa Kakak dengan sengaja memberikan alamat sedetai itu padanya, hahh!"


Sorotan mata Becca tidak menggentarkan Rio sedikit pun, malahan Rio tetap setia sama senyumannya sambil berjalan mendekat ke arah Becca. Tanpa di suruh Rio duduk di tepi sebelah kanan Becca, di mana Becca terlihat begitu kesal atas tindakan yang Rio berikan.


"Sudahlah, kamu itu sudah tua. Jadi, tidak pantas ngambek-ngambek kaya anak ABG. Kasihan anakmu, dia sangat mengkhawatirkan tentangmu. Dia juga udah menyadari akan kesalahannya karena sudah terhasut oleh mantan suamimu itu untuk membuatmu kembali bersamanya, tanpa memperdulikan tentang perasaanmu sendiri."


"Kamu tidak boleh terlalu keras untuk menghukum Naku, apa yang dilakukan dia memang salah karena membela yang salah. Begitu juga apa yang kamu lakukan, tidak bisa di benarkan. Ibarat kata kamu itu adalah panutan bagi Rio. Apa bila kamu bertindak seperti ini, lantas bagaimana anakmu bisa tumbuh menjadi pria dewasa seperti yang kamu inginkah, hem?"


"Satu sisi Naku tahu kalau Ayahnya yang menjadi panutan baginya sudah terbukti telah menyakitimu, lalu sekarang kamu malah bersikap seperti anak kecil. Terus siapa yang bisa menjadi contoh baik untuknya, kalau kedua orang tuanya seperti ini?"


Setiap kali Becca mendengar nasihat dari Rio, entah mengapa rasanya itu langsung menyentuh hatinya. Kebijakan serta kedewasaan yang ada di dalam diri Rio berhasil menaklukkan singa betina yang cukup mengesalkan.


Melihat Becca hanya terdiam dalam keadaan datar, Rio kira dia masih marah padanya. Nyatanya, Becca hanya terkesima atas perilaku serta sikap yang Rio lakukan padanya.


Tanpa di suruh, Rio langsung mengambil piring yang ada di atas meja bangkar lalu menyuapini Becca dengan sedikit memberikan rayuan untuknya.


"Udah cukup ngambeknya, nanti aku beliin lolipop biar sama kaya Yola kalau lagi marah. Mau?" goda Rio, menyuapini Becca.


"Ya, gitu makan biar cepet sehat. Jangan ngoceh mulu, kasian cacing di perutmu sudah ngereok minta makan. Belum ini obatnya harus kamu minum, kalau enggak bisa-bisa kau di suntik rabies mau? Hihi ...."


"Aaaa ... Kakak! Bisa enggak sih jangan nyeb--- nyam-nyam."


"Ssstt ... Kalau lagi makan enggak boleh banyak ngomong nanti keselek! Udah makan dulu habisin, baru nanti tidur, istirahat."


"Terus kapan aku ngomongnya kalau abis makan tidur?"


"Ya, nanti kalau udah sehat hihi ...."


"Ckk ... Menyebalkan!"


Di sela kekesalan yang Becca rasakan, mulutnya terus di sumpel makanan oleh Rio agar tidak membuat emosinua yang ada di dalam hatinya semakin memuncak. Meski, begitu Becca tetap menikmati makanannya sampai habis tidak tersisa.


Rio tersenyum ketika melihat semua makanan sudah ludes habis tidak tersisa sedikit pun. Padahal beberapa kali Becca mengeluh karena sudah kenyang, tetapi saat Rio terus nyuapinya sambil mengajaknya ngobrol lama kelamaan Becca lupa sama rasa kenyangnya dan habis begitu saja.


"Katanya kenyang-kenyang, tapi habis juga. Dasar ikan paus!"


Rio selalu saja meledek Becca, sementara Becca sendiri hanya bisa tertawa kecil sambil menunjukkan sederetan giginya dengan perasaan malu.


Setelah selesai makan dan minum obat, lama kelamaan Becca tertidur akibat pengaruh obat yang membuatnya untuk beristirahat.


Tidak lupa Rio pun berdiri lalu menyelimuti Becca sambil tersenyum menatap ke arah wajahnya yang cantik. Saat Rio ingin berbalik, tiba-tiba Naku datang dalam keadaan tergesa-gesa.


Namun, melihat Becca yang baru tertidur membuat Rio harus mengajak Naku pergi ke luar ruangan untuk membiarkan Becca beristirahat. Kemudian mereka bisa berbicara di kantin duduk santai sambil minum.


.......


.......


.......


...***💜💜>Bersambung