
Di sela-sela rasa penasaran Gala terhadap Becca, tiba-tiba sang dokter mengejutkannya dalam keadaan langsung berdiri bagaikan orang linglung.
"Ahya, Dok. A-ada apa? Ke-kenapa?" tanya Gala, masih sangat syok atas kejadian tadi.
"Apakah Tuan baik-baik saja?" tanya balik sang dokter, memastikan kalau Gala baik-baik saja tanpa mengalami setres yang berlebihan, akibat memikirkan kondisi istrinya.
"Sa-saya baik-baik aja, Dok. Hanya sedikit kelelahan saja, ohya. Bagaimana kabarnya? Apakah dia selamat?" ucap Gala, spontan. Perkataannya yang asal ucap berhasil membuat pertanyaan tersendiri di pikiran sang dokter.
"Ma-maksud, Tuan? Apakah Tuan sangat menginginkan, istri Tuan sendiri itu tidak selamat?" tanya sang dokter, sedikit bingung dan terkejut.
"Ma-maksud saya bukan begitu, ma-maaf bila perkataan saya kurang enak di dengar. Tadinya saya ingin menjawab, apa operasinya lancar. Cuman, lidah saya berlibet, jadi seperti itu!" jawab Gala, panik.
Dia terus mencoba untuk bisa kembali menarik perhatian dokter, supaya tidak lagi berpikir jelek tentangnya. Akibat salah ucap itu, bisa membuat image Gala semakin rusak.
"Tidak apa-apa, Tuan. Saya bisa memaklumkan, mungkin jika saya ada di posisi Tuan pun, saya akan melakukan hal yang sama di saat sedang gelisah. Maaf, apa bila ada perkataan saya yang tidak berkenan."
"Untuk saat ini, kondisi Nyonya Lola sudah jauh lebih membaik, setelah operasi berjalan lancar. Sebentar lagi Nyonya Lola saya akan memindahkan ke kamar tersendiri, sehabis itu Tuan juga bisa ikut beristirahat sambil menemaninya."
"Tidak perlu khawatir, Tuan. Obat bius yang Nyonya Lola terima, akan habis keesokan harinya. Jadi, bisa di pastikan sekitar jam 6 atau jam 7 pagi, Nyonya Lola sudah kembali tersadar. Jika lebih cepat dari jam tersebut, itu malah jauh lebih baik. Nanti Tuan bisa memberikan sedikit air untuk membahasi tenggorokannya agar tidak menjadi dehidrasi."
Penjelasan dari dokter hanya di angguki oleh Gala. Berpura-pura mengkhawatirkan tentang kondisi Lola, di depan seseorang tidaklah mudah. Hanya itu yang bisa Gala lakukan, karena Gala tidak ingin orang lain salah sangka padanya atas kesehatan Lola.
"Lakukan yang terbaik menurutmu, saya pasrahkan semuanya. Setidaknya dia baik-baik saja, dan tidak berada dalam bahaya!" ucap Gala, diangguki oleh sang dokter.
"Baiklah, saya kembali ke dalam dulu untuk mengurus perpindahan kamar Nyonya Lola. Permisi!"
Sang dokter tersenyum, diangguki oleh Gala. Kemudian dia pergi untuk kembali memasuki ruangan, sedangkan Gala masih memikirkan adegan tadi yang sangat menyayat hatinya.
"Aku tidak habis pikir, kenapa bisa Becca sampai berani melakukan itu pada pria lain, bahkan tepat di depanku? Apakah dia benar-benar sudah tidak mencintaiku? Dan kenapa juga dia lebih memilih pria yang baru dia kenal, jelas-jelas seharusnya dia senang saat tahu kalau Lola tidak mengandung anakku. Itu artinya peluang untuk kita kembali jauh lebih besar, tapi kenapa dia malah seperti ini. Arrrghh, sial*!"
"Ini semua pasti karena hasutan dari pria itu! Lihat saja nanti, aku akan membuat hubungan mereka hancur. Dan bisa aku pastikan kalau Becca akan kembali ke dalam pelukanku apa pun caranya, aku akan lakukan. Asalkan Becca dan Naku bisa kembali menjadi milikku untuk selamanya!"
Gala berteriak di dalam hatinya sambil berjalan kesana-kemari, dengan kedua tangan menyambak rambutnya begitu keras.
Kamar yang tidak terlalu mewah, menjadi tempat ternyaman Lola untuk beristirahat. Dari pada dia harus di gabungkan bersama pasien-pasien di kalangan menengah kebawah
...🌟🌟🌟🌟🌟...
Di dalam mobil, tidak ada sedikit pun suara yang terdengar. Hanya ada keheningan satu sama lain. Di mana Rio fokus pada laju mobilnya, sedangkan Becca fokus pada pikiran serta rasa malunya terhadap Rio.
Becca tidak tahu harus memulainya dari mana, karena apa yang dia lakukan tadi tepat di depan Gala, merupakan adegan spontan yang keluar begitu saja tanpa di sadari.
Setelah Becca selesai mencium bibir Rio, dia sendiri pun terkejut sama apa yang dilakukannya. Yang ada di pikiran Becca saat ini, kalau Rio kecewa dan juga marah kepadanya. Sebab, Becca telah lancang mencium bibirnya tanpa seizin darinya.
Apa lagi bibir merupakan bagian yang sangat sensitif bagi semua manusia, jadi wajar kalau seseorang akan marah jika orang lain bisa menciumnya tanpa permisi.
Kecanggungan dinantara keduanya benar-benar membuat mereka seperti orang bisu. Mereka berdua tidak tahu bagaimana caranya memberitahu satu sama lain, tentang apa yang mereka rasakan saat ini.
Sebenarnya, Rio terdiam bukan karena dia marah atau kecewa sama Becca. Melainkan, dia lagi berusaha untuk mengontrol keras perasaan yang dulu sudah di kubur dalam-dalam, harus kembali bangkit dengan kisah yang baru.
"Tidak, Rio. Tidak! Semua ini tidak boleh kembali, ingat! Naku masih sangat mengharapkan keluarganya bisa kembali utuh, apa lagi Becca. Dia pun masih mencintai suaminya, jadi kalau kamu hadir sebagai orang ketika itu tidak baik. Mereka masih terikat dengan masa lalu, sementara kamu sudah bebas dari itu semua. Jadi, lebih baik fokus pada kehidupanmu, usahamu dan juga putri kecilmu. Besarkan dia sebaik mungkin, supaya tidak sedikit pun merasakan kekurangan kasih sayang!"
"Ya, aku harus memikirkan itu. Cinta ini tidak boleh kembali tumbuh untuknya, cukup aku kubur dalam-dalam kisah silam kita sebagai titik di mana aku bisa menjadi seperti ini. Kamu hanya sebagian dari masa laluku, tidak mungkin bisa menjadi masa depanku. Aku tidak ingin hadir sebagai pihak ketiga yang akan merusak kebahagiaanmu serta anakmu, cukup aku menjadi bayang-bayangmu yang tidak akan pernah meninggalkanmu sampai kapan pun itu!"
Suara hati Rio telah menggetarkan dadanya. Jantung yang selama ini berhenti untuknya, kembali berdetak secara perlahan. Pertanya apa bila perasaan yang dahulu telah di kuburnya rapat-rapat telah bangkit kembali dengan perasaan yang berbeda.
Rio tidak mengerti, bagaimana cara untuk mengendalikannya. Di saat dia sedang berjuang untuk memendam semuanya, perasaan itu malah semakin kuat dan membuat Rio menjadi bingung.
.......
.......
.......
...💜💜>Bersambung