
Setelah itu Becca mengajak Naku dan semuanya untuk pergi ke sebuah tempat makan. Awalnya Naku menolak, akan tetapi Becca menyarankan agar mereka mengisi perut terlebih dahulu.
Hari yang sudah mulai larut membuat mereka berada dalam kondusi perut yang kosong, sehingga mereka harus mengisi tenaga untuk menghadapi kenyataan yang lebih kejam lagi kedepannya.
Becca tidak ingin bila Naku jatuh drop, setelah dia mengetahui semua kebenarannya. Becca berjanji selesai makan malam nanti, dia akan menjelaskan semuanya pada Naku.
Pada akhirnya mereka semua pun berjalan ke tempat makan yang berada di sebrang Mall. Sebuah Restoran yang cukup besar, menjadi tempat pilihan yang pas untuk Becca perlahan mulai menjelaskan pada anaknya.
Setibanya di Restoran. Mereka pun masuk mencari tempat di pojok kanan yang memang jauh dari keramaian.
Mereka perlahan duduk, kemudian memesan menu sesuai sama apa yang diinginkan, sedangkan Naku masih setia terdiam tanpa ingin berbicara sedikitpun. Terlihat bagaikan patung yang hanya mengikuti apa keinginan Becca, demi mendapatkan semua penjelasan yang akurat.
"Buma, Yola mau es kim ya. Boyeh tan? Teyus Yola mau mam mie geti, cama aya Kakak." ucap Yola saat melihat Becca sedang memesankan pesanan untuk Naku.
"Tadi 'kan, Yola sudah makan es krim. Masa mau es krim lagi, nanti batuk loh. Kapan-kapan lagi ya, oke?" ucap Buma, langsung mendapatkan muka masam dari Yola.
Dari tadi Naku berusaha terdiam tanpa mau mengeluarkan suaranya, tapi pada akhirnya dia pun mulai berbicara karena merasa kesal terhadap reaksi Yola.
"Udah deh, enggak usah manja jadi cewek. Tinggal makan doang ribet lu!"
"Lagian juga kalau lu sakit siapa yang mau jagain, hahh? Nyokap gua? Lihat, bokap lu sibuk kerja lah terus lu mau sendirian di rumah sakit kek anak hilang. Gitu?"
"Udah tangan di impus, belum lagi setiap jam harus ngerasain sakitnya di suntik berulang kali sampai biru. Berani?"
Kata-katanya yang terbilang kasar ini, sebenarnya memiliki tujuannya baik. Hanya saja Naku belum bisa menyesuaikan sikapnya antara perhatiannya ataupun emosi.
Yola segera menggelengkan kepalanya dengan cepat, matanya langsung berkaca-kaca. Sejak kecil Yola memang sangat takut dengan suntikan, bahkan dia bisa nangis sampai berjam-jam hanya sekedar mendapatkan 1 suntikan kecil di tangannya.
"Ndak, mau. Yola ndak mau di cuntik, atit. Ya udah deh, Yola nuyut apa ata Kakak aja." jawab Yola sambil tersenyum menatap Naku.
"Siapa lu, manggil-manggil gua Kakak, hahh? Enggak usah sok akrab jadi orang, lu tuh bukan siapa-siapa gua. Jadi---"
"Emanna Yola ndak boyeh alo Yola ingin Kakak dadi Kakak Yola? Yola pasti ceneng deh, alo Kakak mau dadi Kakak Yola. Coalna cemua teman-teman Yola unya Kakak, Yola oang yang ndak unya Kakak, ndak unya Mommy uga. Dadi Yola celalu di biyang anak halam, kalena ndak uga Mommy cama Kakak."
Semua terdiam termasuk Naku, dia sendiri saja yang sudah terbilang besar tidak pernah melihat atau mendengar pembullyan sekejam ini. Lantas bagaimana sekolah Yola bisa sebebas itu, sehingga tidak ada satupun guru yang mengetahuinya. Bahkan Rio sendiri selaku orang tuanya benar-benar syok tingkat dewa.
"Siapa yang udah mengatakanmu seperti itu, Yola? Katakan pada Daddy, sekarang!" ucap Rio, urat kemarahan di wajahnya seketika memuncak. Yola yang melihat itu menjadi sedikit takut, tetapi dia yang penasaran malah kembali bertanya.
"Emana anak halam itu apa, Daddy? Apa anak halam itu anak yang paying di cayang? Aya Daddy cayang banget cama Yola gitu?"
Becca langsung meminta untuk pelayan meninggalkan meja mereka setelah pesanan sudah di pesan oleh Becca secara cepat.
"Jangan dengarkan perkataan mereka, itu kata-kata yang tidak baik. Mendingan sekarang yang harus lu ingat baik-baik, kalau lu itu adalah anak manja yang menjadi kesayanagan Daddy. Bukan anak haram yang mereka katakan, mengerti?" ucap Naku, langsung membuat Yola menoleh menatapnya lekat-lekat.
"Bedana anak halam cama anak anja itu apa, Kak?" tanya Yola, polos.
Naku terdiam, dia bingung harus mengatakan apa lagi. Anak seusia Yola belum bisa menanggap semua apa yang akan di jelaskan.
Becca sendiri pun bingung, dia sedang memutar otak untuk mencari kalimat yang pas untuk menjelaskannya. Sama halnya seperti Rio, dia tidak tahu harus seperti apa lagi. Sebab, emosinya masih naik-turun akibat tidak terima anaknya di katakan seperti itu.
"Huhh, capek ya ngasih tahu anak ingusan kek lu! Udah gua bilang bukan, kalau anak haram itu tidak baik. Artinya jelek! Jadi lu cukup ingat, kalau lu itu anak kesayangan Daddy lu yang di manja-manja. Paham?"
"Kalau lu masih belum paham, gua kasih perumpamaan ya. Misalkan Mommy gua nikah sama Daddy lu, terus mereka punya anak 1 yaitu lu. Nah itu namanya anak kesayangan, tapi kalau Mommy gua sama Daddy lu nikah setelah udah punya lu yang bukan anak kandung dari Daddy lu. Itu baru namanya anak haram. Sampai sini paham?"
Yola terdiam memasang wajah polosnya. Dia mencoba untuk menanggapi semua perkataan Naku, akan tetapi tidak bisa. Yola malah salah menanggapi, sehingga membuat Naku rasanya ingin mencekram hidup-hidup monster kecil yang sangat menyebalkan itu.
.......
.......
.......
...***💜💜>Bersambung