
Becca yang mendengar semua cerita Naila membuat dia merasa bangga. Tidak banyak anak yang memiliki kasih sayang sebesar Naila.
Naku sendiri juga belum tentu bisa seperti Naila, tetapi kembali lagi. Becca tidak ingin menyamakan anaknya sama anak orang lain. Bagimana pun, Naku tetap adalah anak kesayangannya.
"Nah, jadi begitu ceritanya, Tante. Maafin Naila ya, mungkin Naila sudah membuat kalian panik. Maaf juga tadi Naila ngelindur, terus bilang kalau dia adalah suami Naila hihi ...."
Naila terkekeh geli ketika menyadari kesalahannya sendiri. Apa lagi saat melihat wajah Naku, membuat dia seperti sedang menemui idolanya sendiri.
"Gapapa, Cantik. Tante malah senang kamu bisa nyasar ke sini, siapa tahu 'kan kalian jodoh." goda Becca menaik-naikkan alisnya.
Naku langsung refleks melambaikan tangannya, pertanda dia tidak sudi berjodoh sama wanita gesrek macam Naila.
Tawa Naila mulai hilang saat melihat Naku yang tidak bisa berbicara. Satu pertanyaan terlontar dari mulut Naila, wajah benar-benar sangat polosnya.
"Tante, apa Oppa Naku bisu? Kenapa dia tidak bisa berbicara seperti kita?"
Naku yang mendengar semua itu rasanya ingin mencengkram hidup-hidup Naila, lalu menelannya bulat-bulat. Dia tidak terima atas perkataan Naila yang sangat menyebalkan.
"Masalah itu, ceritanya panjang. Intinya anak Tante ini tidak bisu, dia hanya kehilangan pita suaranya untuk beberapa hari saja. Setelah luka di tenggorokannya sembuh, dia sudah bisa berbicara lagi kok." jawab Becca, tersenyum.
"Oh gitu, Tante. Ya sudah Naila pamit ya, Tante. Dan buat Oppa cepat sehat, semoga nanti kita ketemu lagi. Daahh ...."
Naila turun dari bangkar, lalu melambaikan tangannya dan pergi meninggalkan kamar Naku. Dimana mata Naku terus tertuju ke arah pintu.
"Ekhem ... Sepertinya anakku sudah mulai besar, haruskah aku bersiap-siap menyiapkan lam--"
Mata Naku membola besar, Becca pun terkekeh saat melihat pipi anaknya mulai memerah. Untu pertama kalinya Naku bisa salah tingkah hanya karena wanita.
Setahu Becca selama Naku sekolah dia sama sekali tidak pernah dekat sama yang namanya wanita. Bagi Naku, wanita itu adalah makluk yang paling menyebalkan, bawel dan juga berisik. Sama seperti Naila yang hampir membuat gendang kuping Naku serasa mau pecah.
Naila Adzkiya Leonid, seorang gadis yang cantik dan juga murah senyum. Saat ini Naila berusia 10 tahun, perpindahan dari kota A ke kota B.Β Naila memiliki sifat yang lemah lembut, penuh semangat, ceria, manja dan menggemaskan.
Selepas Naila pergi, Becca kembali menyuruh Naku untuk melanjutkan makannya karena dia harus minum obat agar tenggorokannya segera pulih.
Setelah itu Becca meminta izin untuk pergi ke kantin sekedar makan untuk mengisi perutnya sendiri. Naku hanya menganggukan kepalanya, lalu memejamkan matanya.
...πππππ...
Beberapa hari telah berlalu, kini waktunya Naku kembali ke rumah dalam keadaan pita suara yang mulai kembali. Hanya saja Naku belum bisa berbicara banyak, karena pita suaranya belum sepenuhnya kembali putih.
Hari terus berganti, wakut pun ikut berputar. Dimana Naku sudah kembali masuk sekolah seperti biasanya. Pita suaranya juga sudah pulih, jadi Naku tidak akan malu jika seseorang ada yang mengajaknya berbicara.
...SDN Cakra Buana ...
Naku terus berjalan menelusuri lorong sekolah, menuju kelasnya yang dekat dengan taman. Naku masuk ke kelas, dalam keadaan postur tubuh yang sangat gagah, datar tanpa ekspresi sedikitpun.
Naku duduk di kursinya tepat di barisan kedua, deretan ketiga. 1 meja terdiri dari 2 kursi, tetapi hanya Naku yang duduk sendiri. Dia tidak ingin ada satu orang pun duduk di sampingnya, seakan-akan Naku sudah membeli satu kursi di sampingnya sekedar menaruh tasnya.
Tidak lama terdengar suara bel masuk kelas berbunyi, semua murid berhamburan memasuki kelasnya masing-masing.
Setelah itu sang guru masuk bersama murid baru yang berhasil membuat kelas menjadi heboh. Terutama para pria yang terpesona atas ke cantilan murid tersebut.
"Wah, ada bidadari sekolah? Astaga, apa gua lagi mimpi?"
"Gila sih, ini namanya hoki, Bro. Kelas kita ke datangan wanita cantik kaya kelas sebelah."
Begitulah teriakan para buaya kecil, ketika melihat umpan yang sangat cantik.
Sementara Naku masih terlihat cuek tanpa menapa ke arah depan. Dia hanya fokus membaca buku, akibat beberapa hari ini dia telah ketinggalan pelajaran
yang cukup banyak. Jadi, apapun caranya Naku berusaha keras untuk bisa mengejar pelajaran yang sudah tertinggal jauh.
Namun, ketika wanita itu menyebutkan namanya. Naku masih tetap setia berdiam diri layaknya orang tuli, sampai akhirnya saat wanita itu duduk di samping Naku. Kini ekspresi wajahnya langsung berubah bersamaan dengan tangannya yang menggebrak meja sambil berdiri.
Semuanya pun terkejut termasuk wanita itu yang merasa sangat ketakutan atas perlakuan Naku yang secara tiba-tiba membentaknya.
.......
.......
.......
...***ππ>Bersambung