Jangan Renggut Kebahagiaanku!

Jangan Renggut Kebahagiaanku!
Berpura-pura Berteman Demi Yola


"Joey tidak masalah kalau memang Joey harus menjauh dari Yola, tapi pertanyaan Joey. Apakah Yola bisa menjauh dari Joey? Bagaimana jika Yola tidak bisa, kemudian tiba-tiba Joey hilang begitu saja. Apakah itu tidak akan membuat Yola tambah sedih? Jika memang Kakak bisa memastikan semua itu, Joey janji. Joey akan pergi sejauh mungkin sampai kalian tidak bisa lagi menemukanku. Gimana?"


Tantangan yang Joey berikan pada Naku benar-benar sangat berat. Naku tidak percaya pikiran Joey jauh lebih bijak untuk memikirkan perasaan orang yang akan terluka akibat keegoisan darinya sendiri.


Dari semua perkataan Joey memang benar. Seandainya, Joey menjauh bagaimana nasib Yola? Pasti dia akan merasa sangat sedih, lantaran Yola sudah menganggap Joey sebagai sahabat sekaligus Kakak sama seperti Naku.


Semua itu bisa Naku benarkan karena pada saat itu Becca tidak sengaja menghilangan kontak Joey, hingga membuat Yola merasa sedih, marah, serta hampir mogok makan. Untungnya Naku terus berusaha untuk menghiburnya dan membujuk Yola agar kembali makan. Itu pun tidak mudah, berbagai cara Naku lakukan sampai keadaan Yola mulai membaik.


Lantas, jika Joey hilang untuk selamanya. Naku bisa langsung membayangkan betapa rapuhnya adik kecil kesayangan Naku itu ketika harus kehilangan sahabat pertamanya.


"Gimana, Kak? Kakak setuju?" tanya Joey menatapnya. Naku masih terdiam memikirkan semuanya. Satu sisi Naku tidak ingin Yola sedih, sisi lainnya juga tidak ingin jika impian Yola kandas begitu saja jika pertemanan diantara mereka terus diteruskan sampai dewasa.


Namun, siapa sangka. Seseorang datang dalam keadaan bingung menatap kedua pria yang sedang duduk.


"Setuju apa, Kak?" tanya orang tersebut, langsung berhasil membuat mereka spontans berdiri secara bersamaan.


Wajah keduanya terlihat gugup karena takut jika apa yang mereka bicarakan semua bisa didengar oleh orang yang diduga adalah Yola.


"Ada apa Kak Joey? Apa Kak Naku ...."


"E,ehh ... E-enggak, Laa. Aku sama Kak Naku sudah baikan kok, ya, 'kan, Kak?" Joey menoleh ke arah Naku, memberikan kode tertentu untuknya agar menyetujui apa yang dikatakan pria itu kepada Yola.


"A-akhh, i-iya, apa yang Joey katakan itu benar, kok. Kami sudah baikan bahkan jadi teman, ya, 'kan?"


Tangan Naku langsung merangkul pundak Joey sambil menempuk-nepuk punggung sedikit keras. Pertanda kalau Naku bersikap seperti itu bukan karena ingin berteman dengannya, melainkan hanya demi Yola agar kembali berbicara padanya.


Akan tetapi, Yola hanya melirik sekilas Naku tanpa mengatakan sepatah kata padanya. Yola lebih memilih berbicara sama Joey akibat rasa kesal di dalam belum sepenuhnya hilang.


"Apa benar yang dibilang Kak Naku, Kak?" tanya Yola meyakinkan.


"I-iya, Laa. Kita sudah berteman, jadi jangan marah lagi ya, sama Kakakmu. Maksud Kak Naku itu baik kok, meskipun sedikit sal ... Salah."


Joey sedikit menjeda perkataannya karena merasakan pundak sebelah kanan dire*mas kuat oleh Naku. Mata Joey melirik ke arah pria itu, di mana dia malah tersenyum penuh arti. Tanpa bertanya apa pun, Joey sudah langsung paham jika ada kata-kata yang menyinggung Naku.


Demi membuat Yola percaya, mereka tersenyum canggung secara bersamaan. Sedikit janggal, tapi Yola cukup senang melihat senyum mereka yang sudah berbaikan.


"Bagus deh, ya, udah. Ayo, Kak. Masuk! Kakak udah dicariin sama Mommy, soalnya Mommy baru bangun." Yola mendekati Joey, lalu memeluk lengan pria itu sesekali matanya melirik sinis ke arah sang kakak.


Naku refleks melepaskan rangkulannya sambil menatap ke arah Yola. Tatapan itu sangat membuat Naku kesal. Ingin rasanya Naku melepaskan tangan sang adik agar tidak membuat Joey merasa menang. Akan tetapi, kembali lagi. Jika Naku nekat melakukan itu, sama saja dia seperti menggali lubang kuburnya sendiri yang baru saja mulai tertutup.


"Ya, aku gimana? Apa kamu tidak mau menggandengku seperti kamu menggandeng dia?" tanya Naku, malah mendapatkan jawaban ketus dari sang adik.


"Ogah! Kakak punya kaki, tangan. Pakailah itu, bye!"


Yola langsung pergi begitu saja sambil membuang muka. Tidak lupa menarik tangan Joey hingga tubuhnya refleks mengikuti ke mana pun pergerakan Yola.


Sementara itu, Naku masih berdiri di tempat dengan perasaan yang sudah benar-benar gemas. Rasanya Naku ingin merauk wajah Joey atau mencakarnya agar tidak terlihat polos. Apa lagi perlahan-lahan Joey mulau menggeser tempatnya di hati Yola sebagai seorang kakak.


Naku paham sekali, adiknya itu masih sangat polos untuk mengerti tentang cinta. Lain cerita sama Joey yang usianya cukup mengerti perasaan itu, meskipun belum bisa mengartikan makna cinta yang ada.


Aaarrghhh ... Awas aja kau, Joey! Kalau bukan karena adik gua yang memberikan syarat, gua sih, ogah banget temanan sama bocil bau kencur kaya lu!


Lihat aja nanti, perlahan gua akan buat lu menderita. Setelah itu, lu akan menjauh dengan sendirinya. Andaikan gua gak buat ulah, mungkin gua yang akan digandeng sama Yola bukan lu!


Hahh ... Ternyata jadi orang sabar itu susah, ya! Gua kira dengan gua mengatakan sudah berteman sama tuh, bocil. Yola bisa maafin gua, tapi nyatanya tidak semudah itu, Ferguso!


Pokoknya gua harus bisa punya cara sendiri supaya bikin mood Yola kembali normal. Kalau gua diam aja kaya gini atau tetap memilih bertengkar sama Joey di depannya. Otomatis Yola bisa-bisa mogok ngomong sama gua, dan gua gak mau itu terjadi!


Batin Naku bersuara ketika melihat Yola sangat memperlakukan Naku layaknya orang yang paling spesial. Berbeda sama Naku, setiap kali mereka dekat pasti Yola dan Naku bertengkar meskipun, itu bukan pertengkaran yang menakutkan.


Wajar saja, cara orang mengungkapkan kasih sayangnya sangatlah berbeda-beda. Mungkin, cara Yola mengungkapkan kasih sayangnga pada sang kakak dengan cara tersebut. Beda jik bersama Joey yang lebih kalem dan selalu bisa memahami gadis yang sering disebutnya My Princes.


Naku menarik napasnya dalam-dalam, lalu mengeluarkan dari mulut sampai beberapa kali hingga rasa kesal di hati seketika memudar dan mulai stabil. Setelah itu, Naku berjalan memasuki kamar Becca dalam keadaan sedikit tersenyum. Pria itu benar-benar malu kalau terlihat murung yang bisa menimbulkan salah paham pada sang adik.


Baru juga Naku masuk, matanya sudah melihat pemandangan yang bisa merusak mata. Di mana saag ini Becca sedang mengucapkan banyak-banyak terima kasih karena Joey sudah membawa Yola kembali.


Tidak lupa penjelasan yang Yola sampaikan terkait tentang kejadian tadi sungguh tertata rapi. Kedua orang tua Joey saja merasa bangga, anak seusianya benar-benar menampar keras mereka untuk bisa berpikir sematang itu.


Sama halnya seperti Rio. Tanpa disengaja tiba-tiba saja, isi kepala pria itu terlintas ide jahil yang terlontar dari mulutnya secara spontans. Sehingga membuat pro dan kontra mulai terjadi diantara mereka semua.


.......


.......


.......


...💜💜>Bersambung<💜💜...