
Selesai makan siang, mereka semua kembali ke rumah sakit tepat pukul 6 sore setelah selesai bersih-bersih. Dikarenakan sehabis makan siang semua kembali ke Apartemen yang sama dengan Rani dan Ragil. Hanya saja berbeda nomor kamar, jika keluarga Naku dan Naila bersebelahan. Keluarga Naku berada di lantai satu tingkat di atas mereka.
Selepas semua selesai mereka kembali ke rumah sakit untuk melihat kondisi Joey yang masih tidak ada perubahan. Kemungkinan Joey sudah 1 minggu tertidur pulas setelah operasi selesai dilakukan. Dokter tidak dapat memastikan apakah donor yang diterima Joey dapat bekerja dengan baik, atau tidak cocok. Dikarenakan semua dapat dipastikan setelah Joey terbangun dari tidur panjang dan melihat reaksi tubuhnya.
Semua hanya mampu melihat Joey melalui kaca ruangannya yang dibuka setengah. Sehingga mereka dapat menyaksikan betapa menderitanya pria itu ketika harus berjuang hidup menggunakan alat-alat rumah sakit.
Kesedihan, air mata membuat semua tidak tega melihatnya. Apalagi Yola dan Naku, kedua anak itu merasa bersalah karena tidak mengetahui penyakit yang diderita oleh Joey. Namun, rasa bersalah di dalam hati Naku begitu melekat jelas ketika semua kejadian tidak mengenakkan berputar di dalam memori ingatannya.
Di mana Naku sering kali bersikap kasar, menghina, dan lain sebagainya hanya demi menjauhkan Joey dengan Yola. Jelas-jelas ketika bersama pria itu sang adik begitu bahagia, sekarang terbuki bukan? Melihat Joey begini saja Yola sudah berulang kali drop. Bagaimana jika mereka dipisahkan oleh maut? Apakah Yola kembali menjalani hidup seperti biasanya yang ceria, atau malah akan menjadi wanita pendiam dan cuek? Itulah yang membuat Naku sangatlah terpukul.
Tak lama suster keluar dari ruangan dengan wajah tersenyum, membuat semua orang segera mendekati layaknya anak ayam yang sedang diberikan matakan.
"Ada apa, Sus? Apakah ada perkembangan?" tanya Rani antusias dengan wajah penuh khawatir.
"Anak saya baik-baik aja 'kan, Sus?" tanya Ragil, dilanda kepanikan.
"Tenang, Tuan, Nyonya. Kondisi pasien masih normal belum ada perubahan dan tidak ada penurunan semua stabil. Saya ke sini hanya ingin memberitahu jam besuk sudah boleh dilakukan. Cuma, masing-masing dua orang yang boleh masuk nanti bergilir sama yang lain dalam waktu kurang lebih 5 sampai 10 menit saja."
Wajah mereka tersenyum merekah menatap satu persatu semuanya untuk menentukan siapa yang akan masuk lebih dulu ke dalam. Suster hanya tersenyum melihat betapa kompaknya mereka semua yang merasa senang akan mengunjungi Joey.
Baru kali ini tidak ada keributan untuk memilah dan memilih siapa yang akan masuk lebih dulu, dan siapa yang selanjutnya masuk sampai semua kebagian giliran.
Cuma butuh waktu sekitar beberapa menit saja mereka semua sudah menyetujui pembentukan kelompok pertama sampai terakhir.
Pertama, Rani dan Ragil selaku orang tua Joey.
Kedua, Becca dan Rio selaku orang tua yang mereka dahului.
Ketiga, Leon dan Vivi selaku sahabat dari keluarga Yola.
Keempat, Naila dan Naku.
Terakhir, Yola.
Loh, kenapa Yola terakhir? Kenapa tidak pertama atau kedua? Jawabannya ada pada pertanyaan berikut.
"Sus, saya selaku Kakak dari adik saya mewakilkan semuanya untuk meminta kebijakannya agar adik saya yang terakhir bisa diberikan waktu cukup banyak sekita 20 sampai 25 menit untuk mengunjungi Joey. Hanya dia, wanita yang ditunggu Joey. Mungkin dengan ikatakan batin di antara mereka berdua dapat membuat Joey lebih semangat lagi untuk sembuh. Saya mohon ... Jika suster tidak bisa memberikan waktu tersebut, biarkan saya yang akan meminta izin pada dokter yang menangani Joey."
Becca tersenyum, merasa begitu bersyukur karena kehadiran Rio dapat merubah semua kegelapan menjadi cahaya terang untuk mereka kembali menjalani masa depan yang indah. Ternyata jodoh Tuhan itu memang terbaik, daripada jodoh yang dipaksakan oleh manusianya sendiri.
Suster terdiam menatap wajah Naku. Kemudian, Yola mendekat membuat sang kakak langsung merangkulnya. Tatapan memohon dari Yola sanga menyentuh suster tersebut. Matanya sampai berkaca-kaca, padahal seharusnya anak seusia mereka harus belajar dengan baik bukan malah cinta-cintaan.
Akan tetapi, dibalik ketidak tahuan suster itu hatinya seakan terketuk untuk memberikan waktu lebih banyak untuk gadis yang sangat merindukan sang pria.
"Tolong, Sus. Berikan Yola waktu lebih banyak lagi, kalau perlu saya yang akan menghubungi dokter. Gimana?" Rani memohon dengan sangat supaya gadis itu dapat bertemu sang pangeran yang terbaring lemah.
"Baiklah, saya akan berikan waktu untuk Adik Yola bertemu dengan pasien selama 30 menit dengan satu syarat," ucap suster membuat semuanya langsung senang dan tersenyum lebar. Namun, tetap sedikit terkejut karena masih penasaran syarat yang akan diberikan oleh suster itu.
"Apa syaratnya?" tanya semua orang secara kompak.
"Saya memberikan waktu kalian semua berkunjung selama 5-10 menit. Jika saya memberikan waktu kurang lebih 30 menit kepada Adik Yola, berarti saya kurangi jatah jatah kalian menjadi 5 menit. Bagaimana?"
Semua terdiam saling menoleh satu sama lain. Semua mata mereka bermain dengan memberikan kode, apakah setuju dengan usul suster atau tidak. Ditambah tatapan sendu dari Yola membuat mereka tak kuasa untuk melihatnya.
"Kami setuju!" tegas semuanya serentak tanpa ada yang membantah. Yola tersenyum lebar penuh haru, rencana yang Naku berikan tadi sebuah kebahagiaan yang membuat sang adik langsung memeluknya.
Berulang kali Yola mengatakan terima kasih kepada Naku atas semua pengorbanannya, meskipun ini haya soal waktu tetap saja Yola tidak mungkin dapat membalas semua yang sang kakak lakukan demi kebahagiaannya.
"Baikah, mari ... Siapa duluan yang ingin mengunjungi pasien?" Suster memberikan jalan kepada kelompok pertama untuk menjenguk Joey.
Semuanya duduk menunggu giliran masing-masing. Tak lupa Rani dan Ragi harus mencuci tangan kali serta wajahnya semua dalam keadaan bersih untuk mengunjungi pasien seperti Naku ini. Setelah mereka memakai pakaian lengkap khusus rumah sakit, mereka mensterilkan di alat khusus berjaga-jaga. Tahu sendiri, pasien ICU, meskipun berada di kamar VIP tetap yang berkunjung harus benar-benar steril mengikuti prosedur rumah sakit.
Semua itu sudah dijalankan oleh Rano dan Ragil, waktunya mereka bertemu dengan Joey supaya dapat mencium bahkan memeluk tubuhnya secara hati-hati.
Suster duduk di kursi jaganya sesekali memantau keluarga pasien yang sedang mencurahkan isi hati serta kerinduan pada sang anak. Mungkin melihat mereka suster sudah terbiasa, hampir setiap jam kunjungan dibuka selalu dihabiskan oleh Rani dan Ragil. Tidak ada keluarga lain yang mengunjungi bahkan sahabat ataupun saudara saja berada jauh, dikarenakan mereka mengobati penyakit Joey bukan di negara asalnya.
.......
.......
.......
...💜💜>Bersambung<💜💜...