Jangan Renggut Kebahagiaanku!

Jangan Renggut Kebahagiaanku!
Kebahagiaan Semua Orang


Selepas selesai menjenguk serta bermain dengan Gala, mereka langsung berpamitan untuk kembali pulang dikarenakan jam kunjungan sudah lewat dari 1 jam lebih 25 menit.


Mereka semua pergi meninggalkan rumah sakit menuju ke parkiran mobil. Setelah itu, mereka memasuki mobil dan bergegas pergi. Akan tetapi, bukan kembali ke rumah melainkan jalan-jalan terlebih dahulu.


...🌟🌟🌟🌟🌟...


Sebulan setelah Gala sembuh, keluarga Rio dan Becca kembali merasakan kebahagiaan yang luar biasa karena sang suami mengajak istri serta anak-anaknya pergi liburan ke luar negeri sehabis liburan sekolah.


Mereka berada di luar negeri selama kurang lebih 2 Minggu. Sehabis itu semuanya fokus kembali pada kegiatan masing-masing yaitu, belajar dan bekerja. Saat ini Yola sudah naik ke kelas 6 SD, sedangkan Naku naik ke kelas 3 SMK dengan usia mereka 12 tahun dan 17 tahun.


Seharusnya Naku masih kelas 2 SMK, tetapi karena dia mendapatkan reword lompat kelas membuat Naku berusia lebih muda dari teman sekolahnya.


Jika kehidupan Keluarga Yola sama Naku sudah bahagia, begitu juga keluarga Naila yang mulai merasakan kesenangan dan kebahagiaan atas kembalinya hubungan antara Leon, Vivi, sama anak pertamanya.


Mereka terlihat jauh lebih bahagia dari sebelumnya. Apalagi, sekarang Nuel sudah sekolah Paud kecil untuk belajar mengenal huruf, gambar, dan warna.


Akan tetapi, ada satu keluarga yang paling-paling bahagia yaitu, keluarga Joey. Di mana mereka semua telah mendapatkan kabar mengenai pendonor hati yang sudah ada untuk sang anak. Tidak tahu harus berkata apa, mereka cuma mengucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya kepada keluarga pendonor.


Tak lupa keluarga Joey memberikan uang pertanda terima kasih sebesar 1,7 miliar rupiah kepada mereka, apalagi orang yang menjadi pendonor adalah orang yang sudah meninggal dunia dalam keadaan sehat. Hanya saja, orang itu meninggal akibat ketabrak yang membuat pembuluh da*rah pecah di kepalanya.


Berat bagi keluarga orang itu untuk memberikan bagian dari tubuh anaknya, tetapi tidak ada cara lain semua ini merupakan wasiat sebelum pendonor meninggal dunia. Tidak hanya hati, bagian organ dalam lain jika memang masih sehat tetap akan diberikan kepada orang yang membutuhkan. Sehingga, orang tersebut meninggal hanya membawa anggota tubuh tidak dengan organ dalam yang telah didonorkan olehnya.


Betapa baiknya pendonor tersebut, sehingga ada beberapa orang yang kembali mendapatkan dunianya atas bantuan darinya disertai campur tangan dokter dan Tuhan.


Saat ini keluarga Joey sedang bersiap-siap pergi ke rumah sakit di luar negeri, supaya sang anak segera melakukan operasi sebelum organ yang telah didonorkan menjadi rusak.


Tidak ada satu orang pun yang mengetahui apabila hari ini Joey sudah masuk di kamar perawatan untuk mengecek semua kondisi tubuhnya. Jika semuanya baik-baik saja, maka besok pagi operasi besar akan segera dilakukan kurang lebih tepat jam 10 siang dan menghabiskan waktu kurang lebih 6 sampai 12 jam.


Sayangnya, keluarga Joey sama sekali tidak ada pamitan atau percakapan lain sehingga tidak ada yang tahu jika pria itu mengidap penyakit seserius itu. Besar kemungkinan setelah dia melakukan transplantasi hati hidupnya kembali berjalan seperti sediakala, hanya saja ada banyak faktor yang menjadi pertimbangan besar. Namun, apa daya. Keluarga Joey sudah siap menerima resiko yang akan terjadi kedepannya karena harapan sang anak untuk kembali hidup normal kurang lebih sebesar 88,9 persen.


...🌟🌟🌟🌟🌟...


Selang satu hari, Joey sudah memasuki kamar rawat dan memakai impus layaknya orang sakit. Sehabis itu, dokter melakukan beberapa tes untuk mengecek kestabilan tubuh Joey sebelum melakukan operasi besar di pagi harinya.


Serangkaian tes telah dilakukan dengan hasil yang sangat bagus, itu pertanda bahwa keesokan hari Joey sudah siap menjalani operasi besar demi kesembuhannya.


Dokter yang melakukannya juga dokter-dokter ahli, kusus bahkan profesor sekali pun akan turun tangan menangani kasus seperti ini. Dikarenakan nyawalah yang akan menjadi taruhan, sedikit salah sudah dipastikan mereka semua akan dituduh sebagai pembu*nuh lantaran tidak becus mengerjakan tugas mulia sebagai seorang dokter.


Sambil menunggu ruang operasi disiapkan, Joey masih berada di dalam kamar ditemani oleh Rani dan Ragil. Rasanya mereka tidak tega melihat Joey harus berada diposisi ini, seandainya dulu perhatian kedua orang tua itu terfokus pada sang anak kemungkinan besar penyakit ini sudah diatasi sejak kecil. Cuma, tidak perlu disesali kembali semua sudah terjadi. Setidaknya Tuhan masih memberikan keajaiban sebab tidak akan lama lagi Joey kembali sehat.


Rani memeluk Joey tanpa melepaskannya membuat sang anak sedikit risih. Maklum saja, usia pria itu sudah memasuki 15 tahun. Jadi, tidak mungkin dia akan merasa nyaman apabila diperlakukan layaknya anak kecil jauh di bawah usianya.


"Mamih, lepasin dong, aku bosen tahu. Dari bangun tidur sampai sekarang Mamih melukin terus. Cuma ada dokter Mamih lepasin, emang Mamih kira aku anak kecil yang sakit dikit dipeluk terus, huhh ...."


Joey membuang napas kasar bersamaan dengan rasa kesal terhadap sang mamih yang tak kunjung menghentikan aksinya. Sementara sang daddy, duduk di sisi satunya supaya lebih leluasa mengusap kepala putra kesayangannya.


"Mamih hanya takut, Joey. Takut kamu kenapa-kenapa, Mamih tidak bisa kehilanganmu. Kamu harus janji sama Mamih dan Papih kalau kamu akan berjuang terus demi kesembuhanmu dan tidak akan meninggalkan kami. Janji!"


Rani membuka telapak tangan di depan mereka, lalu dibalas oleh yang suami yang meletakan tangan dibawah sang istri. Dalam hitungan detik Joey ikut meletakan tangan menggenggam sang mamih dan Ragil juga ikut menggenggam tangan istri tercinta. Semua dilakukan sesuai janjinyang mereka ucapkan.


"Ya, Mam, Pap. Aku janji, aku gak akan ninggalin kalian semua jika Tuhan masih memeberikan anakmu ini kesempatan untuk tetap hidup dan menjalani kehiduon yang baru mulai dari nol. Setidaknya aku sangat senang, kalian berdua sudah berubah dan begitu perhatian padaku serta menyayangiku jauh lebih baik dari sebelumnya. Terima kasih, Mam, Pap. Joey sayang kalian, pokoknya kalian tenang saja. Percayakan semuanya pada dokter dan Tuhan. Apa pun yang terjadi nanti, kita harus siap. Terpenting kota sudah berusaha keras untuk menyembuhkan penyakitku. Untuk hasilnya, kita kembalikan pada Tuhan. Oke!"


Apa yang dikatakan Joey memang benar sekali. Akan tetapi, mereka juga tidak akan ikhlas kalau sampai hal buruk terjadi pada anak semata wayangnya. Pokoknya mereka hanya berharap semoga operasi yang akan sang anak lakukan hari ini membuahkan hasil yang baik.


Ketika Rani ingin mengatakan sesuatu, tiba-tiba seorang suster datang untuk menjemput Joey yang akan dibawa ke ruangan khusus untuk melewati proses pemeriksaan terakhir sebelum dimasukan ke dalam ruangan operasi. Suka tidak suka, mereka mengizinkan sang anak dibawa suster menggunakan kursi roda.


Rani dan Ragil selalu setia menemani Joey ke mana pun sang anak pergi. Keduanya terus berusaha kuat untuk menahan ketakutan yang selalu menghantui isi pikiran mereka. Sesampainya di depan ruang operasi, Rani langsung berlari menangis memeluk sang anak yang duduk di kursi roda. Begitu juga Ragil memeluk istri dan anaknya. Mereka semua meluapkan rasa takut, tegang, dan kekhawatiran mendalam atas kondisi Joey.


Susah payah Joey menahan rasa sedih di hati karena perasaan hatinya pun juga takut, tetapi dia selalu berusaha terlihat tegas, ikhlas, dan kuat. Cuma tidak ada pilihan selain ikut menangis di dalam pelukan kedua orang tua.


Joey tidak tahu, apakah dia masih sanggup merasakan pelukan hangat ini kembali atau tidak sama sekali. Semua jawaban akan terjawab setelah operasi selesai dilakukan. Hanya ada satu cara yang dapat mereka lakukan sebagai bentuk perjuangan terakhir yaitu, sebuah doa tulus untuk sang anak tercinta.


.......


.......


.......


...💜💜>Bersambung<💜💜...