
Beberapa saat kemudian, kurang lebih 20 menit. Seorang dokter dan asistennya keluar dari ruangan UGD dalam keadaan wajah yang sedikit menebar senyuman.
"Apa Tuan suaminya pasien yang korban kecelakaan tadi?" tanya sang dokter.
"Saya calon suaminya, Dok. Bagaimana keadaannya? Dia baik-baik aja, 'kan? Apa ada luka parah? Jika ada, berikan penanganan sekarang juga. Pokoknya lakukan yang terbaik asalkan dia bisa kembali sehat, tidak perlu pikirkan biaya. Saya akan lunasi detik ini juga, jadi----"
"Tuan, tenang dulu. Pasien dalam kondisi baik-baik aja, hanya luka ringan di kening, tangan juga kakinya. Tidak ada yang di khawatirkan, itu hanya lecet saja. Selebihnya keadaan pasien aman dan hanya butuh istirahat saja 3 hari kedepan sampai tekanan darah rendahnya kembali normal."
Setelah mendengar penjelasan dari sang dokter, napas Rio yang awalnya terasa sesak. Kini, langsung menjadi lega ketika tahu tentang keadaan Becca yang baik-baik saja.
"Se-serius, Dok? Calon saya baik-baik aja, jadi tidak ada luka yang membayakan?" tanya Rio sekali lagi demi meyakinkan semuanya, kalau kondisi Becca tidaklah mengkhawatirkan seperti sebelumnya.
"Ya, Tuan. Semua baik-baik aja, tidak perlu di khawatirkan lagi. Hanya saja darah pasien sedikit rendah dan akibat benturan itu membuat pasien masih dalam keadaan tidak sadarkan diri. Mungkin sekitar setengah jam, pasien bisa kembali tersadar. Kami juga sedang mengurus kamar inapnya, ketika pasien sudah di pindahkan baru Tuan bisa melihatnya. Untuk sekarang sabar dulu ya, tunggu sampai
perpindahan kamar selesai. Saya permisi, Tuan."
Sang dokter berpamitan untuk meneruskan pekerjaannya yang lain, sementara Rio harus menunggu lagi sampai Becca di pindahkan di ruangan tersendiri. Tidak lupa dia pun mengurus semua biaya yang di perlukan selama Becca di rawat.
Rasa takut akan kehilangan orang yang sangat berharga di dalam hidup, berhasil membuat energi Rio terkuras habis. Perlahan dia merasa lemas, tapi begitu lega karena sudah bisa bernapas bebas.
...🌟🌟🌟🌟🌟...
Saat Becca sudah mendapatkan kamar, barulah Rio menghubungi Naku untuk datang ke rumah sakit. Awalnya Naku terkejut atas berita tidak mengenakan itu, hanya saja Rio tidak ingin menceritakan semuanya di ponsel. Dia akan cerita semuanya ketika bertemu di rumah sakit, meski ada rasa ragu juga takut ketika Naku mengetahui semua ini akibat ulah Rio.
Perlahan Rio duduk di kursi tunggal, kemudian satu tangannya menggenggam tangan tangan Becca dan satunya lagi mengelus pipinya. Terlihat sekali, Rio sangat menyayangi Becca. Walaupun, di dalam hatinya masih banyak ketakutan akan perpisahan. Rio hanya percaya, bila Becca jodohnya seberat apapun rintangannya pasti dia bisa menemukan jalan untuk tetap bersama.
"Ca, maafin aku. Aku sudah menyakitimu dan membuatmu sampai seperti ini, tapi jujur saja. Aku tidak pernah sedikit pun ada niatan untuk melukai perasaanmu. Bagiku, kamu adalah hidupku. Jika aku menyakitimu, sama saja aku menyakiti diriku sendiri."
"Aku mohon, bangun ya. Kita selesaikan masalah ini dengan hati dan pikiran yang tenang. Aku janji, aku akan memberikan bukti yang akan membuatmu kembali percaya denganku!"
Air mata Rio lagi-lagi menetes, itu sebagai bukti bila dia tidak ingin semua ini berakhir. Sekali Rio pernah kehilangan Becca, tapi untuk kali ini dia tidak akan sanggup lagi jika harus kehilangannya.
Jantungnya mulai berdebar kencang ketika Rio kembali mengingat semua kejadian itu. Dia tidak habis pikir, siapa dalang di balik semua masalah ini. Apakah dugaannya benar, jika orang tersebut adalah orang yang sangat melarang keras untuk mereka bahagia.
Nyatanya memang benar, ada seorang pria dari tadi selalu mengikuti ke mana pun Rio dan Becca pergi. Bahkan, sampai ke rumah sakit dia tetap masih ada untuk memantau perkembangan Becca.
Wajah orang tersebut terlihat sangat khawatir, tapi dia tidak bisa memaksakan diri untuk masuk ke ruangan demi melihat Becca. Jika sampai terjadi, semua yang di rencanakan menjadi sia-sia dan tidak akan berefek apa-apa untuknya.
Syukurlah, Becca baik-baik saja. Sepertinya aku harus segera pergi dari tempat ini sebelum Rio melihatku. Keberadaanku sangat tidak aman jika terus berada di sini. Apa lagi pasti sebentar lagi Naku akan datang, jadi aku harus segera pergi. Sekali lagi maafkan aku, Sayang. Aku terpaksa melakukan semua ini agar kamu tidak melanjutkan hubunganmu dengan Rio. Aku tidak rela mantan istriku jatuh di tangan pria lain. Kalau pun aku tidak bisa memilikimu, maka orang lain juga tidak akan bisa!
Suara hati dari pria itu sudah membuktikan semuanya, kalau dia adalah Gala. Mantan suami dari Becca yang memang tidak pernah mengizinkan Becca berdekatan pada pria lain. Cukup dia yang bisa memilikinya, bukan pria lain yang berniat ingin merebutnya.
Gala pergi sangat terburu-buru, tidak lupa dia juga harus berhati-hati agar tidak ada satu pun orang yang mengetahui tentang keberadaannya. Selang Gala keluar dari rumah sakit, Naku masuk ke rumah sakit dan segera mencari keberadaan kamar rawat Mommynya.
Setelah menemukannya, Naku segera menanyakan semua itu pada Rio. Sementara Rio sendiri bingung harus memulai semuanya dari mana, apa lagi ketika melihat reaksi Naku yang sangat mengkhawatirkan tentang kondisi Mommynya sudah pasti Rio akan kena amuk darinya.
Namun, semua itu tidak membuat Rio mundur. Dia tetap menceritakan semua yang terjadi pada mereka di Resto sampai tuntas. Tidak ada yang di tutupi olehnya sedikit pun, dia tetap menceritakan sejujur-jujurnya.
Melihat reaksi Naku hanya terdiam, di situlah Rio tidak bisa berkata apa-apa lagi. Jika boleh memilih, lebih baik Rio di pukul, di hajar, bahkan di omelin 7 hari 7 malam dari pada harus mendapatkan respon seperti ini.
Sumpah, ekapresi datar yang Naku berikan padanya benar-benar membuat Rio sangat takut juga dilema. Ingin rasanya Rio kembali berbicara pada Naku, tapi sayangnya Becca keburu tersadar. Sehingga, keadaan malah menjadi tidak karuan.
Becca menangis sambil mengamuk ketika melihat Rio ada di sebelahnya bersama Naku. Sekeras mungkin Becca meminta anaknya untuk mengusir Rio, tapi Naku sendiri bingung harus bagaimana menyikapi semua ini. Satu sisi dia pernah menaruh harapan dan cukup menpercayai Rio sebagai pria sejati yang melakukan sesuatu sesuai sama ucapannya.
Akan tetapi, kali ini Naku harus di harapkan oleh rasa bimbang antara dia harus percaya atau tidak. Hanya saja, kondisi Becca yang sudah tidak bisa dikontrol membuat Naku harus memisahkan Rio darinya. Meskipun berulang kali Rio mencoba menjelaskan pada Becca, tetapi dia tidak ingin mendengarnya sama sekali.
.......
.......
.......
...💜💜>Bersambung<💜💜...