Jangan Renggut Kebahagiaanku!

Jangan Renggut Kebahagiaanku!
Satu Syarat


"Naku sayang, dengarkan Mommy ya. Mommy tahu Naku pasti sangat ingin hidup seperti sedia kala, tetapi hidup kita ini sudah berubah. Kita bisa tinggal di rumah ini dengan nyaman, makan enak bahkan sekolah pun Naku masih bisa. Nah, harusnya Naku bisa bersyukur atas apa yang Tuhan berikan melalui Mommy."


"Naku tidak boleh berpikir seperti itu, Mommy bisa kuat dan bertahan seperti ini karena ada Naku. Coba kalau Naku hidup sama Daddy, apakah Mommy bisa bertahan hidup dalam keterpurukan ini? Mommy bisa kehilangan Daddy, tapi Mommy tidak bisa kehilangan Naku. Harta yang saat ini Mommy punya hanyalah Naku, bukan uang seperti yang Daddy miliki."


"Mommy tahu, Mommy belum bisa memberikan apa yang terbaik buat Naku. Tapi, Mommy bisa janji. Kelak Mommy akan membahagiakan Naku, dengan cara Mommy sendiri. Jadi, Naku sabar ya. Tunggu proses Mommy, setelah bisnis Mommy meledak. Apapun yang Naku inginkan Mommy akan turuti, selagi itu masih dalam batas sewajarnya."


Naku terdiam, dia hanya menatap ke arah wajah Becca. Serapat apapun Becca menyembunyikan kesedihannya, Naku bisa melihat dan merasakan semua itu.


Naku memang masih sedikit labil, tetapi dari lubuk hati Naku yang paling dalam. Dia sebenarnya tidak ingin seperti ini, dia ingin membuat Mommynya bahagia.


Hanya saja caranya yang salah, bagi Naku kalau dia hidup bersama Gala dalam kondisi keuangan yang sangat banyak itu bisa membuat dia menggapai cita-citanya. Sehingga, Naku bisa menjadi orang yang sukses dan akan membahagiakan Becca tanpa harus bekerja seperti saat ini.


Padahal tanpa Naku sadari, Becca juga sudah mengajukan banding kepada pengacaranya agar biaya pendidikan Naku, Gala yang menanggung semuanya. Sementara biaya hidup, biarlah Becca yang menanggungnya. Setidaknya, Becca dan Gala memiliki peran penting dalam membesarkan Naku hingga dia menjadi anak yang bisa membanggakan kedua orang tuanya.


Melihat Naku terdiam, Becca langsung mengerti. Mungkin butuh waktu untuk Naku mencerna kata demi kata yang akan dia serap. Becca percaya, kelak ketika Naku sudah tumbuh dewasa dia akan mengerti apa yang dia bicarakan saat ini.


"Sudah tidak perlu di pikirkan, Mommy tahu. Naku masih belum cukup umur untuk mencerna semuanya. Sebenarnya, Mommy ke sini bukan ingin membicarakan masalah keuangan karena semua itu masih aman. Mommy hanya ingin membicarakan tentang Yola," ucap Becca, sedikit membuat Naku terkejut.


"Yo-yola? Ada apa dengannya? Kenapa Mommy malah membahas bocil itu? Terus, apa hubungannya denganku? Aneh!" seru Naku, wajahnya terlihat kesal.


"Belum lama tadi, Yola nelpon Mommy pakai ponsel Om Rio. Dia bilang, katanya kangen sama kita. Dia ingin bermain sama kita, soalnya dia merasa kesepian. Om Rio juga bilang, katakan Yola nangis-nangis enggak mau makan karena ingin main ke sini. Jadi, sebelum Mommy memutuskan Mommy minta pendapatmu lebih dulu. Mommy tidak mau nanti kamu salah paham sama Mommy."


Naku berdiri dari kasurnya, lalu berjalan menuju meja belajarnya. Becca terdiam menatap punggung anaknya dalam keadaan sangat bingung.


"Apakah Naku marah padaku? Kenapa dia diam seperti itu? Jangan bilang dia kembali tidak suka sama Yo--"


Suara hati Becca terhenti saat Naku yang sudah duduk di kursi belajarnya kembali menyuarakan pendapatnya, tetapi dalam keadaan membelakanginya.


"Ya, kalau Yola mau main. Ya sudah main aja, apa susahnya. Dari pada anak orang mogok makan, terus ma*ti yang ada Naku juga yang di salahin!" celetuk Naku, cuek.


Becca sedikit kesal atas perkataan Naku yang asal ceplas-ceplos, bagaikan petasan kretek yang nyaring bunyinya, tetapi tidak ada manfaatnya.


"Maaf! Ya sudah, ajak aja dia ke sini. Dengan satu syarat!"


Naku membalikan tubuhnya bersama kursinya yang bisa memutar, lalu menatap Becca. Dimana Becca pun penasaran sama syarat yang Naku berikan padanya.


"Syarat apa? Jangan aneh-aneh ya, Mommy tidak suka!" seru Becca, mewanti-wanti anaknya.


"Naku mau kalau ke sini, Om Rio harus bawa PS5. Jika tidak, Naku tidak akan mengizinkannya untuk main ke rumah. Titik!" jawab Naku, wajahnya terlihat begitu serius.


"Tidak ada! Kamu itu tidak usah aneh-aneh, ya! PS5 itu mahal harganya, Mommy tidak setuju. Itu sama saja seperti pemerasan! Dan, Mommy tidak pernah mengajarkanmu untuk bersikap seperti ini terhadap orang lain. Mengerti!" pekik Becca, terkejut.


"Terserah, Mom. Naku hanya ingin main PS itu saja, lagian PS5 bukan buat Naku. Kalau Om Rio akan membawa pulang PS-nya lagi, juga tidak masalah. Yang penting Naku bisa main, karena di sini tidak ada mainan apapun selain laptop punya Mommy yang bisa di gunakan saat Naku belajar, bukan mainan!"


Becca terdiam, dia sadar. Bila dia belum bisa memberikan komputer khusus untuk Naku di kamarnya. Padahal ketika mereka masih bersama Gala, kamar Naku punuh dengan rak buku dan juga mainan. Akan tetapi, sekarang berbeda. Di kamar Naku hanya ada meja belajar, tidak ada lagi meja khusus bermain games seperti sedia kala.


Setelah merasa tidak kuat lagi berdebat dengan anaknya, Becca memilih keluar dari kamar Naku. Dia tidak ingin, jika emosinya keluar di saat pikiran dan hatinya tidak sinkron. Becca takut, jika nanti perkataannya akan melukai hati Naku.


Sementara Naku hanya terdiam melihat Becca pergi dalam keadaan raut wajah yang sedih. Hatinya sedikit tersentuh, tetapi emosi atau keinginannya cukup tinggi. Sehingga, Naku hanya menatap cuek ke arah Becca.


.......


.......


.......


...***💜💜>Bersambung