Jangan Renggut Kebahagiaanku!

Jangan Renggut Kebahagiaanku!
Tidak Mau Hidup Miskin!


[Ishh, Buma napa diem? Yola agi omong tahu, Yola itu angenn buanget cama Buma cama Kakak. Maca Yola ndak boyeh ketemu, Yola anji deh. Anti Yola awain kue cama matanan buyat Buma cama Kakak.]


[Hem, nanti Buma kabarin ya, Sayang. Buma lihat jadwal kerja Buma dulu ya, kalau besok Buma libur nanti Buma kabarin ke Daddy. Oke?]


[Oteeh, ya udah. Yola mau tidul duyu ya, Buma. Bye-bye Buma, i lop u. Muachh ....]


[I love to, Cantik. Bobo yang nyenyak ya, jangan lupa mimpi indah.]


[Ma'acih, Buma. Yola pelgi duyu, dahh ....]


[Daahh, Sayang ....]


[Maaf ya, malam-malam ganggu kamu. Aku tidak tahu harus gimana lagi, soalnya Yola nangis terus mau minta ketemu sama kamu. Aku jadi bingung, apa lagi dia suka enggak mau makan juga.]


[Gapapa, Kak. Santai aja, aku juga sebenarnya kangen sama Yola. Cuman gimana ya, aku juga sibuk ngurus semuanya sendiri. Kakak tahu bagaimana aku di sini, jadi ya gitulah hehe ....]


[Ya, sudah. Kamu jaga kesehatan baik-baik, kalau nanti Yola sudah boleh main atau hanya Yola yang boleh main kabarin saja. Nanti aku akan antarkan Yola ke sana dan aku pulang lagi, yang penting aku tidak mau mengusik kenyamanan kalian berdua.]


[Siap, Kak. Terimakasih, sudah mau mengerti kehidupanku yang saat ini. Dan terimakasih, Kakak sudah banyak membantuku. Jika aku sudah berbicara sama Naku, nanti aku kabarin.]


[Baiklah, aku tutup dulu telponnya. Kamu istirahat, suaramu sudah beda. Artinya kondisi badanmu sudah mulai tidak stabil, jadi banyakin istirahat dan minum vitamin. Aku yakin kamu wanita yang kuat, pasti kamu bisa melewati semua ini. Aku ada di belakang, jika butuh apa-apa secepatnya kabari aku. Anggap saja, aku ini Kakakmu. Jadi kamu tidak perlu sungkan padaku, mengerti?]


[Iya, Kak. Ya sudah aku tutup ya, Kak. Kakak juga jaga kesehatan, dahh ....]


[Hemm ....]


Becca pun menyudahi panggilan teleponnya. Kemudian perlahan mulai menuruni ranjang, meski kepalanya sedikit terasa pusing Becca tetap harus ke kamar Naku untuk mengecek, apakah dia sudah tidur atau belum.


Setelah berdiri tepat di depan pintu kamar Naku, Becca mengetuknya beberapa kali sambil menunggu sahutan dari anaknya. Beberapa detik, Naku menjawab dan mempersilakan Becca untuk masuk ke kamarnya.


Perlahan tangan Becca membuka pegangan pintu, dan melihat anaknya yang sedang belajar. Satu persatu kaki Becca mulai langkah mendekati Naku yang duduk di meja belajar.


"Loh, kok jam segini masih belajar. Kenapa Naku enggak istirahat? Kasihan matanya, nanti lelah jadi merah hanya karena gara-gara Naku kurang tidur." ucap Becca berdiri di sampingnya.


"Belum ngantuk. Ada apa Mommy ke sini?" tanya Naku, lalu mengalihkan pandangannya ke wajah Becca.


"Katakan, apa yang Mommy bicarakan? Apa ini mengenai keuangan Mommy yang semakin menurun?" tanya Naku, wajahnya berubah menjadi serius dan sedikit ketakutan.


Becca bisa melihat betapa anaknya takut sekali hidup dalam serba kekurangan. Hatinya sedikit merasa sakit dan juga tertekan. Akan tetapi, Becca harus kuat dan terus tersenyum di depan anaknya. Walaupun, apa yang di katakan Naku ada sedikit benarnya.


Tangan Becca perlahan mulai mengusap pipi anaknya, lalu memegang tangannya. "Kita bicarakan di situ, yuk! Mommy capek berdiri, soalnya kepala Mommya sedikit pusing."


Naku mengangguk, kemudian mengikuti langkah kaki Becca dan mereka duduk di tepi kasur milik Naku yang tidak sebesar di rumah Gala.


"Mo-mommy sakit?" tanya Naku, saat melihat wajah Becca sedikit pucat.


"Mommy, gapapa kok. Hanya kecapean aja, Naku tenang aja. Doain Mommy biar sehat terus ya," ucap Becca tersenyum menatap anaknya, sambil mengelus pipinya.


"Terus apa yang Mommy mau katakan padaku? Apa jangan-jangan kita harus menjual rumah ini dan tinggal di rumah yang lebih kecil lagi? Kalau kaya begitu, Naku mending ikut Daddy aja. Naku tidak mau hidup miskin!"


"Kalau kita susah, bagaimana sekolahku? Bagaimana cita-citaku? Aku tidak mau cita-citaku juga hancur, bersama dengan impianku! Setidaknya aku tinggal sama Daddy sampai aku bisa mencari uang sendiri. Terus aku akan kembali bersama Mommy, supay kota tidak hidup susah."


Perkataan Naku, tanpa di sengaja berhasil membuat hati Becca hancur. Bagaimana tidak, Becca harus berjuang sendiri dengan segala tenaga dan kekuatan yang dia miliki hanya demi memberikan yang terbaik kepada anaknya.


Namun, balasan Naku padanya masih tidak bisa mengerti posisinya saat ini yang lagi berjuang di titik terendah. Terlihat sekali, Naku masih labil dalam memilih kehidupan yang tidak sepenuhnya bisa dia terima.


Satu sisi, dia membela Becca karena Gala telah menyakitinya. Akan tetapi, dia juga ingin bersama Gala karena dialah yang punya segalanya. Ya, inilah yang di namakan anak-anak. Terkadang pilihannya masih suka simpang siur, dan tidak bisa konsisten sama apa yang dia ucapkan.


Jika di bilang, lelah. Ya, Becca sangat lelah ada di posisi ini. Dia harus menghadapi Naku yang suka membandingkan dirinya dengan Gala, meskipun Naku sendiri tahu di sini bukan hanya dia yang menjadi korban dari perlakuan buruk Gala.


Dengan segenap kekuatan yang masih tersisa di dalam tubuhnya, Becca mencoba menahannya dan terus bersikap seolah-olah dia baik-baik saja di depan anaknya. Becca menarik napasnya berulang kali, kemudian menjelaskan kepada anaknya secara lembut.


.......


.......


.......


...***💜💜>Bersambung