Jangan Renggut Kebahagiaanku!

Jangan Renggut Kebahagiaanku!
Ragil & Rani (Orang Tua Joey)


Melihat semuanya menahan tawa, bahkan senyum-senyum sendiri membuat Naku merasa semakin kesal. Mereka semua seperti menganggap kemarahan Naku sebagai lelucon yang terlihat bagaikan seorang badut jalanan. Seram, tetapi sangat menghibur.


"Kenapa pada ketawa gitu, ada yang lucu dari ucapanku?" tanya Naku penuh emosi.


"Ya, sudah. Tante, Om, Joey pamit dulu ya, soalnya sudah sore takut nanti dicariin. Lagian Joey pamitnya can main sebentar kok, kalau pulang kemaleman talut gak dibukain pintu heheh ...."


Joey berdiri diikuti oleh Sus Rini, lalu dia langsung berpemitan kepada semua orang termasuk Naku. Sesekali lirikan Naku seperti sebuah pisau yang melambung tinggi menancap mata Joey, tetapi itu tidak menggentarkan hatinya.


Joey sangat percaya, jika api dibalas dengan air maka hasilnya akn padam. Berbeda kalau api di balas dengan api, itu akan menjadi Ayam jago merah yang bisa menghanguskan apapun yang ada didekatnya. Sama seperti sifat Naku, Joey harus tetap sabar dan mengukir senyuman agar tidak terpancing oleh amarah yang sedang Naku kobarkan.


Tidak lupa Yola yang baru saja ingin meminta nomor telepon Joey, sudah langsung dilarang oleh Naku. Kembali perdebatan kecil dimulai, sampai akhirnya Becca yang meminta nomor Joey agar dia saja yang menghubungi Joey ketika ada apa-apa.


Setelah semuanya beres, Joey pun pulang bersama Sus Rini meninggalkan rumah sakit. Kini, hanya tersisa Becca, Rio dan Naku yang menemani Yola di rumah sakit.


"By, aku laper. Cari makan dulu yuk, kasian anak-anak juga kayanya belum makan. Kalau Yola sih, pasti dapat dari rumah sakit, jadi enggak usah kita beliin. Ya, 'kan?" ucap Becca mengode Naku dan Rio dengan kedipan mata.


"Kayanya sih gitu, Ay. Lagian Yola juga enggak boleh makan makanan dari luar, jadi biar kita aja bertiga. Bener gak, Kak?" tanya Rio, mendukung istrinya.


"Jelaslah, dia 'kan sakit, jadi harus jaga pola makanan. Kalau enggak gitu, gimana mau sembuh," sahut Naku, cuek.


Sindiran mereka bertiga langsung membuat reaksi Yola berubah. Lirikan mata Yola mulai kembali sinis, apa lagi kedua pipinya mengembang bagaikan ikan buntelan yang berada di dalam bahaya.


"Apa-apaan ini, kenapa semuanya kompak banget mojokin Yola setelah Kak Joey pulang? Emangnya Yola enggak boleh ikutan makan, apa? Lagian juga yang sakit kaki Yola, bukan badan Yola. Jadi, enggak ngaruh dong," jawab Yola, tidak terima dengan semua perkataan mereka.


"Kata siapa? Emangnya kaki bukan bagian dari badanmu, hem?" tanya Naku.


"Ya ... ya, bagian sih, tapi 'kan---"


"Berarti kita tidak salah dong, kita begini juga demi kesehatanmu. Makannya lain kali lebih hati-hati jadi orang tuh, jangan ceroboh. Jalan tuh pakai mata jangan pakai dengkul, udah begini baru ngerasain sakitnya!"


"Sejak kapan jalan pakai mata? Ada juga kaki ya, pantesan aja Kakak sekolahnya loncat enggak kaya Yola berurutan dari TK, kelas satu, dua, tiga sekarang mau naik kelas empat. Terus Kakak? Masa dari kelas satu SMP langsung kelas tiga SMP, aneh!"


"Wo, jelas dong, itu artinya aku lebih pandai darimu!" seru Naku, samgat percaya diri penuh kesombongan.


"Hyaak ... terus maksud kakak, aku ini bod*doh gitu, iya?"


"Aku gak bilang gitu, mulutmu sendiri yang berbicara," ucap Naku menahan tawa.


"Aaaa ... Mommy!"


Rengekkan suara Yola membuat semua tertawa gemas. Becca langsung berdiri memeluk putri kecilnya agar kembali tenang setelah diganggui oleh Naku, tidak lupa Becca juga mencium pucuk kepala Yola penuh rasa kasih sayang.


Inilah yang Naku suka, ketika mengambek maka wajah Yola akan terlihat sangat lucu dengan pipi gemoy yang hampir mirip seperti bapau. Maka dari itu, Naku belum siap jika ada seorang laki-laki yang ingin merebut sang adik dari pelukannya.


Walaupun Naku telah membuat Yola seperti itu, dia juga tetap berusaha menghibur sang adik agar kembali tersenyum. Rasa cuek yang Naku miliki perlahan mulai memudar, hingga membuat Becca merasa senang.


...🌟🌟🌟🌟🌟...



Di sebuah rumah mewah dengan desain yang sangat cantik juga elegan membuat banyak orang iri untuk bisa memilikinya. Hanya saja isi dari rumah tersebut, tidak sebagus sama apa yang dilihat dari luar.


Sepasang suami-istri baru saja pulang setelah melepaskan kesehariannya untuk menyibukkan diri di kantor. Entah apa yang mereka cari sampai hampir setiap hari, di rumah tersebut terdengar suara keributan adu mulut yang tidak pernah ada yang mengalah.


"Kamu baru pulang?" tanya sang suami masuk ke dalam kamar, lalu melihat sang istri yang baru keluar dari kamar mandi.


"Kamu juga baru pulang? Bukannya tadi bilang katanya mau pulang cepat biar bisa main sama Joey, terus kenapa pulangnya duluan aku?" tanya sang istri sambil duduk di depan cermin hias.


"Niatnya gitu, tapi mau gimana lagi. Tiba-tiba ada klien yang majuin rapat, soalnya besok beliau ada urusan di luar negeri."


Pasangan suami istri tersebut adalah orang tua dari Joey, yaitu Ragil Efrilian Damanik dan Rani Mustika Damanik. Ragil berusia 35 tahun dengan ketampanan wajah yang terlihat sangat fress, sedangkan istrinya Rani berusia 32 tahun yang masih terlihat sangat cantik juga awet muda.



Cinta yang melekat erat di hati mereka tidak bisa diragukan lagi, hanya saja keegoisan yang begitu besar membuat mereka tidak ingin terkalahkan. Entah apa yang ada dipikiran mereka, sampai lupa dengan tugasnya masing-masing.


Mereka hanya memikirkan tentang pekerjaan, uang dan kesuksesan. Sementara rumah tangga, keharmonisan juga anak menjadi tidak keurus. Bagi mereka selagi Joey diawasi oleh perawatnya hidup dia akan tetap terjaga, tanpa mereka ketahui bahwa Joey pun inginendapatkan perhatian lebih dari kedua orang tua.


"Makannya lain kali kalau enggak bisa melakukan sesuatu, enggak usah ngomong. Untung aku enggak ngabarin Joey, coba kalau dia tahu pasti bakalan sedih karena ucapan Papihnya enggak bisa dipegang."


Kata-kata yang keluar dari mulut Rani begitu menyindir suaminya, dia tidak bisa menahan agar tidak mencari perkara. Sudah tahu Ragil baru pulang kerja dengan kondisi badan kelelahan, hawa negatif juga masih melekat erat di tubuh Ragil sebelum dia membersihkan diri selepas pulang kerja.


"Apa maksudmu berkata seperti itu?" tanya Ragil, membuka jas kerja dan menaruhnya tepat di samping sambil menggulung kemeja sebatas sikut.


"Dahlah, sana mandi. Jangan jorok jadi orang, aku males dekat-dekat sama orang yang masih ada kuman menempel di badan. Apa lagi keringatmu itu cukup menganggu, udah cepatan mandi. Nanti aku siapin makanan," jawan Rani tanpa memikirkan perasaan suaminya yang dari tadi mencoba untuk bersabar menahan emosi.


Sabar, Gil! Kau harus bisa menahan emosi agar sesuatu tidak keluar dari mulutmu, biarkan saja dia mau berkata apa tentangmu yang jelas, kau tahu bukan? Meskipun istrimu memiliki lidah yang tajam, tetap saja dia sangat mencintaimu!


Dia tidak pernah sekali saja menolak berhubungan denganmu secape apapun itu, setidaknya dia masih punya sisi baik untuk selalu melakukan kewajibannya sebagai seorang istri dengan baik. Bersyukurlah karena dari banyaknya mantanmu hanya dia satu-satunya wanita yang sanggup bertahan, walaupun kau berada di bawah jurang.


Suara hati Ragil benar-benar sangat tulus. Dia bisa menerima semua kekurangan Rani, meski setiap hari mereka harus berdebat untuk sesuatu hal sepele. Setidaknya mereka tidak melampiaskan semua itu dengan cara berselingkuh. Bagi mereka lebih baik beradu mulut setiap hari, kemudian baikan dari pada harus memberikan celah untuk orang ketiga masuk ke dalam hubungan mereka.


.......


.......


.......


...💜💜>Bersambung<💜💜...