Jangan Renggut Kebahagiaanku!

Jangan Renggut Kebahagiaanku!
Kondisi Vivi Sekarang


"Tenanglah, Sayang. Aku mohon jangan seperti ini, kamu itu tidak salah. Di sini tidak ada yang salah karena kejadian yang menimpa keluarga kita semua sudah menjadi ketetapan Tuhan yaitu, takdir. Jika takdir sudah berkehendak maka, kita tidak bisa menyalahkn siapa pun. Cukul jadikan kejadian yang menimpa keluarga kita sebagai pelajaran agar kita bisa lebih baik lagi ke depannya."


"Pokoknya kamu harus bisa mengontrol emosimu, Sayang. Tetap ingatlah, ini bukan salah siapa-siapa, tetapi takdir! Aku berbicara seperti itu bukan untuk membuatmu seperti apa yang ada di dalam pikiranmu. Hanya saja, aku ingin menyadarkanmu betapa pentingnya kamu untuk kami semua."


"Dunia kami tidak akan lengkap jika kamu tidak ada, Sayang. Maka dari itu, aku mohon jangan bersikap seperti ini. Kamu baru aja sadar dari koma yang cukup lama, jadi aku tidak mau sampai kamu drop lagi. Please, Sayang, please!"


Leon tidak akan melepaskan pelukannya, apabila sang istri tidak berhenti menangisi keadaan yang sudah terjadi. Leon paham, tidak mudah menjadi Vivi yang sudah berbulan-bulan tidak melihat kondisi keluarga kecilnya. Akan tetapi, kembali lagi pada takdir yang sudah harus mereka jalani.


Setidaknya, sekarang Vivi sudah tersadar dari masa kritis yang berbulan-bulan membuat mereka semua menjadi sedih, menderita, dan merindukan akan kehadiran Vivi di sampingnya.


"A-aku benar-benar tidak tahu kalau aku sudah selama itu meninggalkan kalian, aku pikir aku hanya tetidur sebentar. Cuma, setelah melihat kondisimu yang sekarang dan penjelasan yang kamu sampaikan aku baru mengerti. Betapa pentingnya aku untuk kalian, bagaimana jika seandainya aku tidak bangun lagi. Apakah kalian akan menderita selamanya?"


Leon melepaskan pelukannya tetap dalam posisi membungkuk dengan jarak wajah mereka yang sangat dekat. Tangan Leon menutup mulut Vivi supaya tidak dapat mengatakan kalimat-kalimat yang sangat menyakiti hatinya.


"Sepertinya kamu sudah terlalu banyak berbicara, lebih baik sekarang kamu tenangin perasaanmu, kontrol emosimu, dan berhentilah menangis. Sekarang minum dulu ya, biar sedikit tenang. Intinya aku benar-benar bersyukur, ternyata doaku dan anak-anak sudah terkabul meskipun, sedikit lama."


"Tidak perlu memikirkan kejadian yang sudah terjadi, fokus sama kesehatanmu yang belum sepenuhnya pulih. Lihatlah, tubuhmu ini masih cukup kaku karena sudah lama tidak digerakkan. Ingatlah, Sayang. Besok aku akan merayakan hari ulang Naila di sini dan sudah mengundang seseorang yang pada saat itu telah berjasa untuk kamu dan Naila. Pokoknya, kita harus memberikan kejutan bahagia ini supaya Naila bisa kembali menjadi anak ceria. Oke?"


Vivi menganggukan kepala kecil, lalu Leon tersenyum mengusap air matanya sendiri dengan kasar. Kemudian, mengelap air mata sang istri secara perlahan dan tidak lupa memberikan sentuhan kecil diwajah Vivi menggunakan bibirnya.


Setelah Vivi tenang, Leon menekan tombol kecil yang berada di dekat bangkar sang istri untuk memanggil dokter supaya Vivi dapat segera diperiksa bagaimana keadaannya setelah bangun dari koma.


Dalam hitungan 5 menit, dokter datang ke ruangan Vivi. Dokter mengira ada hal buruk yang terjadi pada Vivi karena selama beberapa bulan ini Vivi tidak sedikit pun menunjukkan tanda-tanda.


Namun, ketika dokter memasuki ruangan langsung terkejut bukan main. Vivi tersenyum bersama Leon yang menyambut kedatangan sang dokter bersama asistennya.


"Malam, Dok. Maaf apabila saya mengganggu waktu istirahat kalian. Saya hanya ingin memberitahu pada dokter bahwa, istri saya baru sadar kurang lebih 15 sampai 20 menit yang lalu. Cuma, ada beberapa titik ditubuhnya yang belum sepenuhnya bisa digerakan. Apakah itu berbahaya, Dok?"


Dokter masuk terdiam menatap ke arah Vivi. Dia benar-benar bingung bagaimana bisa Vivi tersadar, sementara tidak ada tanda-tanda yang diberikan seperti pasien lain yang mengalami hal serupa.


"Dok, apakah dokter baik-baik saja?"


"Akhh, ya, Tuan. Ma-maafkan saya, tadi saya hanya terkejut saja. Jika boleh saya jujur, baru ini saya melihat keajaiban yang diluar dugaan. Prediksi kami, Nyonya Leon akan tersadar dalam waktu yang sangat lama karena kondisi Nyonya sama sekali tidak menunjukkan perkembangan apa pun. Tuan pasti paham 'kan, apa yang saya sampaikan ini. Dikarenakan, saya sudah banyak mengatasi kasus serupa dan semuanya selalu memberikan tanda-tanda perkembangan jauh-jauh hari supaya kita bisa memastikan kondisinya."


"Namun, Nyonya Leon tanpa memberikan apa pun sudah tersadar dalam waktu yang benar-benar tidak saya duga. Selamat, Tuan. Sekarang istri Tuan sudah kembali, semoga ini pertanda yang baik. Saya akan mengecek secara keseluruhan agar mengetahui apakah ada kondisi Nyonya ada yang kurang baik, supaya kami bisa mengetahui langkah atau tindakan apa yang harus dilakukan selanjutnya."


Dokter tersenyum menyambut kebahagiaan Leon dan Vivi. Dia masih tida percaya atas kejadian ini, tetapi jauh di dalam lubuk hatinya dokter itu merasa bahagia karena satu persatu pasiennya sudah mengalami perkembangan dalam kondisi yang jauh lebih baik.


Leon mengangguk, lalu berjalan bersama dokter serta suster untuk mendekati tempat tidur Vivi. Leon berdiri tiga langkah di belakang dokter dan suster dalam pandangan mata yang terus menatap istrinya penuh senyuman.


Suster membantu dokter untuk mengecek aliran impusan agar tidak tidak mengalami sumbatan, sedangkan dokter memastikan detak jantung serta nadi Vivi dengan sangat teliti.


Setelah itu, suster mencatat semuanya dikertas yang sudah bawa. Tidak lupa suster itu juga mengecek keseluruhan yang dokter minta. Semua itu dilakukan untuk membandingkan kondisi Vivi terakhir dan sekarang, apakah ada peningkatan atau sebagainya.


Dirasa semuanya sudah diperiksa dengan sangat baik, barulah dokter bisa menyimpulkan kalau kondisi Vivi baik-baik saja. Tidak ada yang perlu ditakutkan seperti apa yang Leon tanyakan tadi.


Leon cukup lega mendengar jika kabar istrinya tidak semenakutkan apa yang dokter sampaikan beberapa saat lalu. Itu juga yang membuat dokter terkejut, dikarenakan kecelakaan Vivi terbilang kecelakaan cukup mengerikan. Sehingga, sangat kecil kemungkinan Vivi dapat sembuh total tanpa mengalami patah tulang, amnesia, atau kelumpuhan permanen.


Sungguh, dahsyatnya keajaiban Tuhan yang luar biasa ini. Mungkin, kalau bukan dari doa-doa tulis mereka semua Vivi tidak dapat mengalami keadaan yang sesehat ini.


Dokter mengucapkan selamat atas perjuangan Leon yang tidak sia-sia menjaga serta merawat sang istri begitu tulus. Apalagi, anak-anak mereka sering kali bolak-balik ke rumah sakit hanya demi menemui sang bunda. Tidak lupa mereka juga mendoakan kesehatan bundanya supaya secepat mungkin tersadar dari koma yang membuat mereka bersedih.


Leon sama Vivi juga mengucapkan banyak-banyak terima kasih atas perjuangan dokter yang terus memantau kondisi Vivi dan melakukan yang terbaik sesuai kemampuan. Hanya dengan sentuhan kecil tangan mereka sebagai pelantara Tuhan, pada akhirnya Vivi sudah kembali membuka mata dan berkumpul bersama suami, serta kedua anaknya.


.......


.......


.......


...💜💜>Bersambung<💜💜...