
Naku hanya sekedar duduk memperhatikan Naila yang terus bersikap layaknya seseorang yang lagi marah. "Ada apa dengannya? Kenapa dia terlihat kesal? Bukannya orang bermain itu sambil di nikmati, kok dia malah uring-uringan?"
Wajah Naku terlihat bingung setiap kali membaca gerakan postur tubuh Naila. Akan tetapi, dia mengingat sesuatu dan pergi begitu saja meninggalkan Naila.
Dimana Naila melirik sinis ke arah Naku yang sudah pergi, emosinya mulai memuncak hingga dia hampir saja merusak mainan yang ada di sana.
"Aarrghhh ... Dasar pria tidak peka, pria nyebelin, pria ngeselin, pria aneh, pria dingin!"
"Awas saja kau, Oppa!"
Tangan Naila memukul keras sebuah samsak tinju dengan penuh kekuatan. Lalu, dia melihat seberapa besar pukulannya tersebut.
Saat tahu gagal, Naila kembali lagi memukul terus menerus samsak tersebut untuk memecahkan rekor seseorang yang menjadi pemenang di permainan itu.
Rambut yang awalnya di gerai panjang, kini sudah terkuncir berantakan. Keringat mulai bercucuran saat rasa kesalnya terus meningkat setelah Naku mengabaikannya.
Entahlah, namanya juga wanita. Terkadang susah untuk di tebak. Masih sangat kecil, tetapi sudah seperti anak dewasa yang sudah mengerti arti cinta.
Beberapa menit sudah Naku meninggalkan Naila, kini dia kembali dan memberikan sesuatu padanya tepat dari belakangnya. Tangan Naku memanjang ke samping membuat Naila yang menoleh dengan wajah putus asa, kesal serta marah kini telah berubah menjadi tersenyum.
...(Fokus sama es krimnya aja ya jangan tanggannya)...
Es krim dengan toping coklat oreo berhasil mengalihkan perhatian Naila. Dia langsung tersenyum lebar sambil mengambil es tersebut.
"Op--"
Naila berbalik menatap mata Naku yang lagi-lagi melotot, ketika Naila ingin memanggil namanya dengan sebutan yang tadi berhasil membuatnya malu.
"Ehh, ma-maaf hehe ...."
"Ohya, i-ini es krim yang ingin aku--"
"Jangan banyak ngomong, yang ada tuh es krim jadi sirop!"
Naila terkekeh, membuat Naku entah mengapa menjadi senang hanya karena melihat senyuman yang terukir manis di bibirnya.
Namun, dia langsung menangkis semuanya dan pergi ke tempat duduk sambil menikmati es krimnya. Naila hanya bisa mengikuti Naku, lalu duduk di sebelahnya.
Mereka menikmati es krim sambil melihat para pengunjung yang sedang asyik bermain. Ada yang tersorak bahagia penuh kemenangan, ada pula yang berteriak penuh kesedihan atas kekalahannya.
"Oppa, Naila mau mengucapkan terimakasih. Karena Oppa sudah peka, Naila kira Oppa tidak peka. Padahal Naila sudah mengode Oppa beberapa kali, tetapi--"
"Kalau lagi makan tuh mulutnya diam, jangan ngoceh mulu kek kabel konslet." celetuk Naku, memberikan lirikan kesal.
"Ishh, ya gapapa dong kabel aja yang konslet. Jangan cinta Naila sama Oppa, eaakk hahah ...."
"Ckk, berisik! Itu lihat, rambut udah kaya orang gila. Orang tuh di gerai biar bagus, jadi cewek kok bodo amat sama penampilan. Aneh!"
Tangan Naku refleks menarik kunciran rambut Naila, hingga merapihkan rambutnya. Lalu kembali menikmati es krim, tanpa di sadar wajah Naila yang saat ini mulai merona menahan malu.
Saat sudah selesai memakan es krim, mereka kembali bermain sepuasnya sampai tidak terasa waktu sudah sore.
Naku pun telah di telepon oleh Becca untuk segera pulang, sebab hari sudah terlalu malam. Dan juga tidak baik, untuk keselamatan mereka berdua ketika pergi tanpa pengawasan kedua orang tua.
Becca memang sudah tahu tentang kepergiannya, karena Naku sudah meminta izin. Meski, awalnya Becca terkejut saat tahu Naila bersekolah satu sekolah bersamanya.
Untuk melepas rasa rindunya kepada Naila, Becca pun memvideo call Naku hanya demi bisa mengobrol dengannya. Selepas itu, mereka berdua pun pergi dari tempat permainan menuju tempat makan.
MCD ataupun KFC merupakan makanan favorite setiap orang saat berkunjung ke salah satu Mall. Jadi, tidak heran bila mereka pergi ke tempat tersebut dari pada Restoran Jepang ataupun Korea.
Naila dan Naku langsung memesan makanannya sendiri sesuai sama apa yang mereka inginkan masing-masing. Tidak lupa Becca selalu memantau Naku, agar dia tidak sampai lalai dalam menjaga kesehatannya sendiri.
1 prosi, 2 ayam dan 1 nasi serta minuman sudah sangat berhasil membuat 1 perut menjadi kenyang. Akan tetapi, bukan Naila namanya jika dia tidak membeli kentang dan juga es krim.
Hanya saja Naku sebagai pria yang baru melihat makan Naila segitu banyaknya, hanya bisa menelan air liurnya. Dia tidak menyangka semua itu bisa habis dalam sekali makan.
Akan tetapi, saat semuanya habis tidak tersisa ternyata benar. Naila memang wanita yang sangat aneh dan juga langka. Biasanya wanita yang Naku tahu akan malu-malu makan di hadapan orang asing selain keluarganya.
Kali ini malah berbeda sama Naila, dia begitu lahap sampai belepotan kemana-mana. Bagi Naku memang itu kejadian aneh yang dia ketahui, tetapi bagi Naila berbeda. Dia tidak peduli apapun yang ada di hadapannya, yang penting perutnya kenyang dan juga aman.
Selesai acara makannya, mereka pun pergi dari Mall menuju rumah Naila. Dimana selama perjalanan Naila tertidur menyandar di pundak Naku, awalnya kepala Naila berada di dekat pintu.
Hanya karena Naku merasa tidak tega bila terbentur, akhirnya dia mencoba memindahkan kepala Naila di pundaknya secara perlahan.
Setibanya di depan pagar rumah, Naila turun dari mobil lalu mambaikan tangannya saat melihat mobil Naku mulai pergi.
Entah perasaan apa, Naku tidak paham. Yang jelas, setelah Naila turun dan mobilnya kembali pergi menuju rumah. Bibirnya tiba-tiba tersenyum kecil, ketika kembali mengingat semua wajah Naila ketika marah, kesal, makan, ataupun tertidur. Rasanya bayangan itu tidak bisa hilang dalam pikirannya, meski Naku mencoba untuk menangis semuanya.
.......
.......
.......
...***💜💜>Bersambung