
Naku menahan tawanya lantaran sang adik begitu polos ketika menanyakan hal yang tidak masuk diakal. Kepolosan yang Yola miliki semakin lama semakin menyebalkan bagi Becca.
Seharusnya hari ini menjadi hari bahagia mereka karena bisa melihat, mendengar bahkan mengetahui gender dari sang anak yang ada di dalam kandungan Becca.
Namun, siapa sangka. Lagi-lagi Yola menjadikan momen bahagia itu sebagai momen terlucu yang ditangani oleh sang dokter selama bertahun-tahun menangani ibu hamil.
Ckkk, lain kali aku tidak akan mengajak anak-anak jika tahu hasilnya akan menjadi seperti ini. Mau taruh di mana wajahku ini, astaga!
Kepolosan Yola lama-lama meresahkan, ya. Membuatku sudah sangat gemas sekali, ingin mencubit jantungnya itu. Cuman, aku harus tetap sabar mengadapi putri kecilku itu, semoga kelak Yola tidak akan tumbuh menjadi gadis sepolos ini!
Becca berbicara di dalam hati sambil melihat ke wajah semua orang. Di mana mereka selali tertawa ketika mendengar lelucon yang keluar dari mulut Yola.
"Astaga, Nyonya. Anaknya lucu banget sih, beli di mana? Pengennya deh, punya satu kaya dia, pasti seru banget hihih ...."
Sang suster tertawa begitu receh hanya karena Yola yang tidak berhenti menunjukkan kepolosan isi kepalanya. Maklum saja, dari kecil Yola selalu ditanamkan pikiran yang lebih dewasa untuk mengerti keadaan. Akan tetapi, pada dasarnya Yola tetaplah anak kecil yang belum mengerti apapun.
"Aduhh, Sayang. Udah cukup ya, bercandanya. Dokter udah enggak kuat nih, nanti lama-lama dokter bisa ngompol kalau bercanda terus hehe ...."
"Apa sih, Dok. Emangnya wajah Yola terlihat lagi bercanda? Yola ini serius tahu, nih, lihat!" Yola menunjukkan wajah datarnya yang terkesan begitu lucu. Membuat mereka semakin tertawa lepas.
Yola menggaruk kepalanya yang tidak gatal akibat bingung melihat dokter dan suster tertawa sampai kehabisan napas.
"Gimana dokter gak ketawa, coba. Orang kamu juga aneh, waktu itu kamu bilang gambar monitor rusak karena banyak semut sama kaya tv. Terus tadi, bilang adikmu kaya Alien dan sekarang dikira Daddymu menanamkan pohon alpukat, terus nanti apa lagi?" tanya Becca, kesal.
"Heheh ... Ya-ya mangap, Mom---"
"Maaf!" sahut Becca yang sudah benar-benar jengah. Bukannya Yola takut dimarahi oleh Becca, dia malah terkekeh sendiri saat menyadari pertanyaannya yang terbilang konyol.
Tidak ada perkataan lain selain sabar yang diucapkan oleh suami tercinta. Becca mengembungkan kedua pipinya membuat Rio terkekeh kecil sambil mengusap kepala Becca.
"Sepertinya kejadian hari ini bisa dibuatkan novel, judulnya tripel A." Naku berusaha menahan tawa di dalam hati ketika membayangkan imajinasi yang begitu tinggi.
"Tripel A? Apa itu?" tanya Becca, mewakilkan rasa penasaran mereka semua
"Alien Alpukat Adikku, bhahah ...."
Perkataan Naku mampu membuat semua orang tertawa geli kecuali, Becca. Sang dokter yang hampir mengompol langsung berlari ke arah kamar mandi sambil mengempit sesuatu menggunakan kedua tangannya dan berjalan bagaikan anak kecil yang sudah tidak kuat menahan pipis.
Sementara asistennya tertawa lepas sambil memegangi perutnya yang terasa keram. Baru ini dia merasakan tertawa tanpa beban hanya karena ulah Naku dan Yola. Sebelumnya, tidak ada keluarga pasien seabsrub ini. Hanya merekalah yang menjadi moodboster untuk dokter juga asistennya.
Dari tadi Rio mencoba untuk menahan tawa menyaksikan kekonyolan kedua anaknya. Hanya saja, kali inintidak bisa. Rio meminta maaf pada Becca sebelum tertawa, apa lagi melihat reaksi wajah Becca yang sangat malu bercampur kesal. Ingin rasanya Becca menghilang dari muka bumi ketika kepolosan Yola kembali berulah.
10 menit berlalu, sang dokter sudah berusaha menetralkan perasaannya agar tidak kembali tertawa. Meskipun, sesekali dia tertawa kecil saat melihat ekspresi wajah Yola. Kemudian kembali ke tempat semula untuk melanjutkan pemeriksaan yang tertunda.
"Woke, siap, Dok!"
Sang dokter menganggukan kepalanya kecil saat melihar respons dari Yola begitu kooperatif. Naku berdiri tepat di belakang Yola sambil memegang kedua pundaknya agar bisa berjaga-jaga supaya Yola tidak kembali berulah.
"Nah, sekarang kita coba dengarkan detak jantung si kecil ya, semoga sehat-sehat." Dokter langsung mengarahkan benda kecil yang sedang di pegang ke arah di mana terdeteksi detak jantung si kecil.
Jari jemari dokter menekan keybord guna memperjelas gambar monitor yang terlihat seperti gelombang. Suara detak jantung terdengar sangat jelas dan kencang membuat mereka semua merasa gembira, ternyata si kecil begitu sehat di dalam kandungan Mommynya.
Tidak ada kendala apapun di dalam pemeriksaan Becca, semua berjalan lancara seperti biasa. Kandungan sehat, perkembangan janin normal dan tidak ada gejala gangguan yang terkadang bisa terjadi.
"Nah, gimana? Sudah senang mendengar detak jantung si kecil, hem?" tanya dokter.
"Aaaa ... Seneng banget, Dokter. Terima kasih," ucap Becca begitu terharu sampai meneteskan air mata.
"Sama-sama, Nyonya. Oh, ya. Di usia seperti ini terkadang si kecil sudah menunjukkan jati dirinya, loh. Apa kalian mau melihat jenis kela*minnya?"
"Maaa---"
"Tidak, Dok. Biarkan itu semua menjadi kejutan dihari kelahirannya," potong Becca diangguki oleh Rio.
"Ishh, Mommy, nih. Yola pengen tahu, adik Yola cewek apa cowok, masa harus nunggu lahir. Lama banget dong," sambung Yola, cemberut.
"Sayang, dengarin Daddy ya. Apapun jenis kela*min Ade, kita harus tetap menyayanginya. Daddy sama Mommy melakukan ini supaya tidak membuat kalian berantem. Bukannya Yola ingin adik perempuan, lalu Kakak ingin adik laki-laki. Terus setelah tahu semuanya, pasti salah satu dari kalian akan merasa kecewa, 'kan?"
"Justru dari itu, kami lakukan ini supaya kalian bisa menyayanginya tanpa melihat jenis kela*min. Jika kalian benar-benar sayang sama adik, pasti kalian akan merasa bahagia ketika melihat wajah lucu dan menggemaskan adik saat lahir. Sehingga apa yang terjadi nanti tidak membuat kalian merasa kecewa setelah menyaksikan adik lahir dengan sempurna tanpa kekurangan satu apapun. Sampai sini paham?"
Penjelasan Rio selalu mudah untuk dimerngerti oleh Yola dan Naku. Mereka mengangguk menyetujui keputusan yang dilakukan kedua orang tuanya demi kebaikan bersama.
Sang dokter terkagum-kagum atas kebahagiaan keluarga kecil Becca yang penuh kasih sayang juga perhatian. Terlebih dari itu, sifat Yola yang menggemaskan membuat sang dokter berharap semoga kelak dia bisa mengandung anak selucu dan secantik Yola.
Dokter kembali melanjutkan pemeriksaan. Biasanya mereka hanya memerlukan waktu sekitar 1 jam paling lama untuk melakukan pemeriksaan kehamilan. Akibat ulah Yola, mereka menghabiskan waktu hampir 2 jam yang membuat pasien lainnya harus menunggu lebih lama dari jadwal yang telah ditentukan.
Selesai melakukan pemeriksaan Becca dibantu duduk oleh asisten dokter sambil membenarkan pakaiannya. Di situ dokter kembali menjelaskan sedikit mengenai kehamilan Becca yang masih muda, tidak lupa mengucapkan terima kasih kepada Yola karena sudah menjadi moodboster sang dokter.
.......
.......
.......
...💜💜>Bersambung<💜💜...