Jangan Renggut Kebahagiaanku!

Jangan Renggut Kebahagiaanku!
Yola Mengigau


"Hahh, nikah setelah lulus sekolah? Huaa ... Gak mau, gak mau, gak mau. Naila mau kuliah dulu, enak aja main nikah-nikah. Nanti kalau Naila punya anak gak bisa ngajarin belajar gimana? Bisa-bisa Naila bakalan jadi Ibu yang tidak berguna, pokoknya Naila gak mau titik!"


Naila bersikeras menolak apa yang Naku katakan, lantaran gadis itu masih sangat ingin menikmati masa muda dan mengejar cita-cita setinggi langit.


Sampai seketika, Naila mengingat perkataan sang bunda yang selalu memberikan nasihat, pembelajaran, dan pengalaman sedikit demi sedikit tentang berumah tangga yang baik sebagai bekal Naila ke depannya.


"Kata Bunda setinggi-tingginya pendidikan seorang wanita tetap kodratnya hanya mengurus dapur, rumah, dan keluarga. Cuma, Naila tidak peduli itu semua. Jika nanti Naila sudah mendapatkan gelar, tapi harus mengurus rumah tangga. Terpenting Naila tetap mengejar pendidikan setinggi-tingginya demi bekal mengajarkan anak-anak Naila nantinya. Jadi, saat Naila menjadi seorang Ibu tidak akan menjadi Ibu yang buruk karena tidak bisa memberikan contoh baik kepada anak. Dengan begitu, anak-anak Naila akan mencontoh ibunya yang tidak patah semangat untuk mengejar pendidikan walaupun sulit, tetap pendidikn nomor satu!"


Mendengar kata-kata indah terucap dari bibir Naila secara langsung berhasil menyentuh hati Naku. Dia tersenyum kecil dengan tatapan mata berbinar. Apa yang dikatakan Naila sangat benar, kodrat wanita memang selayaknya berada di rumah. Akan tetapi, tidak menutup kemungkinan seorang wanita juga perlu memiliki pendidikan yang tinggi sama halnya seperti pria.


Tidak ada yang membedakan pendidikan antara wanita dan pria. Hanya pola pikir serta tugas utama saja yang akan membedakan. Di mana kodrat pria memang ditakdirkan sebagai kepala rumah tangga yang akan mencari nafkah, sementara wanita akan menjadi ibu rumah tangga yang baik.


Rio dan Becca sedari tadi mendengarkan percakapan kedua anak itu dari kamar sebelah membuat keduanya terharu. Ternyata mereka tidak salah ingin menjadikan Naila sebagai calon menantunya kelak, ketika usia mereka memang sudah sangat matang untuk dipersatukan.


...🌟🌟🌟🌟🌟...


Selepas Naila berceramah bahkan bertengkar dengan Naku, akhirnya dia tertidur pulas. Sementara Juan, malah terbangun dan langsung diajak main oleh Naku.


Hari ini mereka sudah berencana akan menginap di rumah sakit demi menjaga Yola yang masih tidak sadarkan diri akibat panasnya cukup tinggi.


Becca membuatkan makan untuk Juan yang dari tadi hanya meminum susu. Beruntungnya pakaian mereka serta keperluan Juan sudah datang tepat waktu, jadi Juan tidak begitu rewel berada di gendongan sang mommy. Becca menyuapini Juan tepat di ruang tengah sambil menonton televisi demi mengalihkan perhatian anaknya.


"Kak Joey ...." panggil Yola dalam keadaan masih tertidur layaknya orang mengigau. Rio dan Naku refleks membangunkan Yola secara perlahan.


"Sayang, Hei ... Yola kenapa panggil Kak Joey, Yola kangen sama Kak Joey, iya? Bangun dulu yuk, Sayang. Buka matanya, Daddy gak bisa lihat Yola sakit kaya gini. Daddy khawatir, Nak. Daddy khawatir ...."


Mendengar Rio mulai berbicara mengenai Yola. Becca spontans langsung bangkit dan masuk ke kamar putrinya sambil terus menggendong Juan dengan tangan masih memegang tempat makannya.


"Ada apa ini, By, Naku? Kenapa? Apa Yola udah bangun?" tanya Becca, cemas.


"Tadi, Yola manggil nama Joey, Mom. Terus gak ada suara lagi," sahut Naku. Rio langsung menekan tombol kecil di dekat bangkar sang anak untuk memanggil dokter.


"Joey? Ada apa dengan Joey? Apa Yola sakit karena kepikiran Joey? Kok, bisa? Jangan bilang dia kangen sama Joey, padahal baru beberapa hari lalu ketemu. Terus kenapa Joey lagi liburan sama keluarganya Yola langsung drop. Sebenarnya ada apa dengan Yola? Sumpah, perasaanku jadi gak enak."


Segala pertanyaan berderet Becca sebutkan tanpa jeda lantaran dipenuhi oleh rasa khawatir, cemas, panik, dan semua bercampur menjadi satu.


Rio mencoba menenangkan Becca supaya tidak membuat Juan ikut setres merasakan perasaan sang mommy saat ini. Maklum saja, perasaan anak kecil sangatlah sensitif jadi gampang sekali tertular oleh mereka yang terlihat panik.


Melihat Becca kembali menyuapini Juan sambil menunggu dokter yang datang, sesekali matanya terus memantau perkembangan putri kesayanganny.


"Kak Joey ... Ka-kakak mau ke mana? Naila mohon, Kakak jangan pergi ninggalin Yola. Yola mau kita main sama-sama lagi. Jadi, please, Kak! Jangan pergi, Yola sayang sama Kak Joey, Yola sayang!"


Sungguh, kata-kata Yola yang seperti ini membuat suasana langsung menegang. Mereka saling menatap satu sama lain dengan tatapan penuh arti. Entah apa maksud dari ucapan Yola, mereka tidak ingin ambil pusing. Terpenting saat ini kesehatan Yola yang utama, dikarenakan jika panasnya semakin tinggi itu akan membahayakan bagi nyawa Yola sendiri.


Mereka berpikir seperti itu lantaran semua tahu jika saat ini Joey sedang asyik liburan bersama keluarga di Singapur sekalian mengurus bisnis Ragil yang sedikit bermasalah. Namun, sampai detik ini mereka tidak mendapatkan kabar mengenai keluarga Joey mulai dari mereka berangkat sampai mereka ada di sana.


"Yola, hei ... Bangun, Sayang, bangun. Buka matanya, Nak. Jangan ditutup terus, Yola gak kasihan lihat Daddy, Mommy, sama Kakak yang khawatir kaya gini. Ayo, Sayang, buka matanya. Daddy mohon!"


Rio berusaha keras untuk membangunkan Yola, dibantu oleh Naku. Sayangnya, dia tetap enggan membuka mata hingga membuat semuanya bertambah khawatir. Kebetulan dokter datang tepat waktu dan segera menangani kasus Yola.


Semua orang diminta untuk menunggu di luar kamar sampai dokter selesai mengecek semua kondisi kesehatannya. Naku langsung mengambil Juan dari pelukan Becca yang kembali terlihat panik bersama Rio. Maklumlah, ini pertama kali Yola sakit yang sampai membuat hati mereka menjadi tidak tenang.


Selama ini Naku melihat Rio selalu bersikap tenang dalam keadaan apa pun. Walaupun keluarga mereka mendapatkan ujian besar, Rio tetap masih tenang dan merangkul anak serta istrinya. Namun, sekarang berbeda. Rio terlihat lebih panik daripada Becca dan Naku, sehingga Becca sebagai istri harus menyeimbangi apa yang terjadi pada Rio.


"Tenang, By, tenang. Aku yakin, Yola baik-baik saja. Dia gadis kecil kita yang kuat, tidak mungkin dia menyerah dengan sakitnya. Lebih baik, kita duduk menunggu kabar dari dokter dan terus panjatkan doa-doa baik untuk Yola," ucap Becca menggiring sang suami untuk duduk, lalu mengelus lengannya sesekali menatap wajah Rio yang terlihat tidak karuan.


"Baru kali ini aku lihat Yola panas sampai segininya, sebenarnya ada apa ini, Ay? Kenapa Yola terus memanggil nama Joey, apakah dia kenapa-kenapa sampai perasaan Joey menyamber ke Yola?" tanya Rio, matanya memerah menahan kesedihan yang luar biasa di dalam hati.


"Sstt ... Jangan berpikir seperti itu, kamu tahu sendiri 'kan, bagaimana Yola. Setiap kali Joey pergi dia pasti murung, susah diajak bercanda, sama seperti ini. Hanya saja ini yang paling parah, sampai dia jatuh sakit hanya karena memikirkan Joey. Tapi, tenanglah. Kita doakan semua Joey dan keluarganya baik-baik aja serta Yola bisa sembuh lagi. Kamu tenang dulu, ya."


Becca mengelus dada suaminya supaya perasaan kesedihan yang ada tidak semakin berlarut-larut. Walaupun sulit, Becca tetap berusaha menasihati sang suami seperti apa yang selalu Rio lakukan padanya.


Naku tidak berani berkata apa-apa lantaran melihat suasana hati kedua orang tua tidak stabil. Dia hanya pendengar apa yang dinasihati sang mommy sesekali mengalihkan oerhatian Juan agar tidak menangis dalam keadaan yang menegangkan ini.


Tak lama, dokter keluar dari kamar bersama asistennya dengan raut wajah yang sangat murung. Terlihat sekali dokter itu bingung harus menyampaikan semua yang dialami Yola menggunakan kata-kata seperti apa supaya keluarganya tidak semakin khawatir.


.......


.......


.......


...💜💜>Bersambung<💜💜...