Jangan Renggut Kebahagiaanku!

Jangan Renggut Kebahagiaanku!
Tidur Ayam


Selepas dokter pergi dari ruangan Vivi, mereka berdua melanjutkan perbincangannya satu sama lain sesekali menghabiskan malam yang panjang berdua, setelah Vivi sudah lama tidak menemaninya


Keduanya saling bercanda gurau, sesekali Leon membantu Vivi untuk perlahan menggerakan sebagian tubuh yang masih sedikit kaku. Tidak lama ketika mereka saling bercerita tentang perkembangan si kecil dan Naila, tiba-tiba saja Leon tertidur dalam posisi memeluk istrinya.


Maklum saja, ruangan Vivi itu sama seperti sebuah Apartemen kecil yang memiliki satu kamar, ruangan tengah untuk bersantai, kamar mandi, dan dapur. Sudah empat bulan lebih Leon kurang tidur karena tidak ada yang dapt diajak berbicara olehnya.


Inilah kebiasaan Leon setiap malam, suami Vivi itu harus mengoceh dulu baru tertidur. Jikalaupun Leon bisa tidur tanpa bercerita, berarti dipaksakan demi mengisi sedikit energi yang sudah dihabiskan setiap hari. Itu pun tidak tidak bertahan lama akibat bangun tidur, bangun tidur yang sering kita sebut tidur ayam.


Tidur ayam merupakan tahap pertama dari tidur. Di dalam fase ini sering kali dibilang dengan tidur ayam karena kondisi tubuh, mental, dan pikiran berada di ambang realita dan bawah sadar.


Mendengar dengkuran yang cukup keras, membuat Vivi tertawa kecil melihat sang suami begitu pulas. Wajahnya persis seperti anak kecil, polos, lucu, juga menggemaskan.


Ingin rasanya Vivi memiringkan badannya supaya lebih nyaman memeluk Leon, tetapi dia urungkan niatan itu. Tubuh Vivi masih dalam penyesuaian karena sudah lumayan lama tidak bergerak, sehingga membuat otot-otot tubuh yang melemas harus kembali beradaptasi.


Vivi cuma bisa tidur terlentang sambil mengelus perlahan tangan suaminya yang melingkar diperutnya. Untung saja Leon bisa mengerti kondisi sang istri, mungkin jika tidak pasti tangan nakal itu sudah berjalan liar ke mana-mana mencari sesuatu.


"Kasihan sekali kamu, Sayang. Pasti jam tidurmu selama ini tidak beraturan. Selama ini kamu tidur jarang sekali mendengkur selucu sekarang, kalau bukan karena kelelahan lembur kerja. Jadi, aku bisa membayangkan bagaimana repotnya kamu harus bisa mengurus semuanya. Mulai dari pekerjaan, anak-anak, dan diriku. Terima kasih, Sayang. Kamu sudah bersamaku sejauh ini, semoga kelak kita akan selamanya dipersatukan walaupun, alam kita nanti sudah beda."


"Sehat-sehat suamiku, semoga Tuhan selalu melindungiku dari orang-orang jahat yang akan menyakiti. Aku tidak bisa banyak berbicara selain terus mendoakanmu, keluarga kita, dan kebahagiaan semuanya. I love you more, suamiku. Aku benar-benar beruntung mendapatkanmu, walaupun dulu perjuangan kita untuk bersama sangatlah. Akan tetapi, Tuhan telah merestui jalan kita untuk bersatu. Aku sayang kamu, Leon. Good night, kesayangan. Semoga mimpi indah."


Vivi mencium kening sang suami penuh cinta dan kasih sayang. Senyuman Vivi melebar jelas pertanda bahwa, wanita itu sangat bahagia telah diperlakukan seperti seorang ratu di hati suaminya. Vivi benar-benar beruntung memiliki Leon, meskipun jauh dari kata sempurna dan pernah menyakiti hatinya waktu masih muda. Tetap saja, cinta mereka begitu kuat sampai membuat keduanya dapat bertahan sejauh ini tanpa gangguan orang ketiga.


Tangan Vivi terus mengusap lengan suaminya sambil tersenyum. Tak lama, Vivi juga ikut tertidur dalam keadaan senang. Leon tidur mendengkur, sedangkan Vivi tidur tersenyum. Keduanya terlihat begitu nyaman setelah sekian lama tidak tidur bersama seperti ini.


Biasanya Leon tidur di samping Vivi tanpa memeluknya karena takut akan mengganggu alat-alat rumah sakit yang tertempel ditubuh sang istri. Selepas beberapa alat dilepas dan hanya menyisakan alat-alat tertentu menempel ditubuh Vivi, barulah Leon bisa merasakan kehangatan tubuh istri tercinta.


...🌟🌟🌟🌟🌟...


Jika di rumah sakit mengalami kejutan atas kembalinya Vivi, di lain tempat juga sama. Seseorang yang sedang tertidur pulas terkejut ketika mendapatkan kejadian yang cukup meresahkan.


Seorang pria yang baru saja masuk setelah selesai mengerjakan pekerjaan kantor di ruangan kerja. Langsung merebahkan tubuh di atas ranjang sambil menyelimuti tubuhnya dan tangan mulai memeluk sang istri.


Awalnya dia berusaha memejamkan kedua mata dalam waktu beberapa menit, tetapi dia masih tidak tidur juga. Sampai aksi jahil yang berasal dari tangan mulai menjalar ke mana-mana.


Pria itu sangat tahu kalau istrinya setiap malam tidak menggunakan kacamata pelindung dada. Jadi, tangannya sangat lihai masuk ke dalam baju piyama tanpa kancing. Kehangatan tubuh sang istri sungguh, membuat pria itu merasa tenang.


Sang istri yang tidur dalam keadaan miring membelakanginya, membuat dia lebih mudah menelusuri isi di dalam baju istri tercinta. Selepas menemukan sebuah gunung kembar wajah pria itu mulai tersenyum.


Perlahan dia mulai memainkan secara hati-hati agar tidak membangunkan sang istri yang sepertinya sangat kelelahan. Tanpa disangka-sangka, akibat rasa geli yang timbul membuat sang istri membalikkan posisi tidur dengan menghadap tepat di depan wajah pria tersebut.


Kenyal, sekel, dan pas di dalam genggaman tangan selalu membuatnya gemas. Saking tidak kuat menahan sesuatu, kepala pria itu masuk ke dalam baju sang istri yang cukup longgar. Tanpa basa-basi dia segera melahap rakus salah satu gunung kembar sambil merem*as satunya.


Merasakan keanehan, sang istri terbangun dari tidur dalam keadaan terkejut hingga memukul keras apa yang ada di dalam bajunya, "E,ehh ... A-apa ini? Huaa ... siapa kau, hahh? Siapa! Rasakan ini, pergilah, pergi"


"Arghh ... Sa-sakit, Sayang. Sakit! Aku ini suamimu, lihatlah ke arahku!" pintanya ketika menongolkan wajah di dalam sela lubang leher. Wajah melas yang terlihat membuat sang istri terkejut.


"Astaga, Rio! Ya ampun, kamu ngapain masuk ke dalam situ, aku kira binatang atau apalah itu. Ternyata kucing nakal, wooo ... Dasar!"


Sang istri yang tidak lain adalah Becca telah memberikan pelajaran pada suaminya yang masih ada di dalam baju sambil menjewer telinganya.


"A-awsshh ... Sa-sakit, Sayang. Sakit!" keluh Rio, memasang wajah yang berhasil membuat Becca merasa kasian.


"Makannya lain kali itu jangan kaya gini, kalau mau itu bilang baik-baik jangan kaya maling. Aku sampai kaget, astagaaa ...."


"Ya-ya, ma-maaf, Sayang. A-aku gak bisa tidur, ya, sudah. Aku mainan aja, pas baru nyusu malah dipukul. Sungguh, kejamnya."


"Biarin aja, namanya juga orang kaget ya, spontans aja asal mukul. Lagi pula aku takut itu bukan kamu, emang mau aku digarap pria lain. Enggak 'kan, makannya lain kali bangunin aku pelan-pelan jangan begini. Aku pun gak akan melarangmu kok, asalkan kamu bilang. Itu aja, Sayang."


Rasa kesal Becca mulai memudar ketika melihat wajah Rio yang sangat melas dari lubang lehernya baju. Tangan Becca mengelus pipi sang suami dengan lembut dan mencium keningnya.


"Maafkan aku, sekali lagi maaf ...." Rio merasa bersalah akibat rasa gemas pada gunung kembar malah membuat Becca terkejut.


"Ya, sudah gapapa. Kamu mau apa, hem? Mau ...."


Hanya dengan kode seperti itu, Rio tersenyum dan menganggukan kepala secara antusias. Becca terkekeh melihat suaminya persis kaya anak kecil yang mendapatkan sesuatu. Gemas, lucu, bercampur menjadi satu.


Tidak perlu basa-basi, Becca langsung melayani suaminya dengan sangat baik. Inilah Becca, wanita itu tidak pernah menolak ajakan suami apabila tubuhnya tidak merasakan kelelahan yang benar-benar lelah atau sakit. Walaupun, usia mereka sudah tidak muda lagi tetap saja keromantisan mereka tidak pernah pudar. Hanya hasratnya yang besar perlahan menurun, maklum bawaan usia.


Setelah puas melakukan kurang lebih tiga ronde, mereka tidur dalam keadaan puas satu sama lain. Akan tetapi, Rio masih tetap menyusu sama sang istri dengan senang hati.


.......


.......


.......


...💜💜>Bersambung<💜💜...