
...Rumah pohon...
Rumah pohon ini memang sengaja Rio desain secantik mungkin untuk membuat Becca merasa senang. Dengan begini, Rio bisa perlahan menuntaskan secara apa yang dia inginkan.
Hampir kurang lebih 2 bulan, Rio menyiapkan semuanya demi sebuah rencana yang hari ini harus di tuntaskan sebelum terlambat. Rio tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan, karena adanya sedikit kecemasan yang cukup mengganggu pikirannya.
Mungkin, hari ini adalah hari yang tepat untuk Rio mengutarakan isi hatinya pada Becca sebelum sesuatu terjadi padanya. Tahu sendiri bukan, Gala masih sangat mengharapkan Becca kembali.
Jadi, sebelum semuanya terjadi. Rio harus menyatakannya lebih dulu, tidak peduli dia akan di terima atau tidak. Setidaknya ada usaha yang harus Rio perjuangin.
"Wa-waw, i-ini cantik banget, Kak? Ko-kok bisa kakak kepikiran untuk membuat rumah pohon ini? Perasaan aku tidak memintanya, bahkan anak-anak pun tidak menginginkan rumah ini. Terus---"
"Sstt, ayo kita naik ke atas. Kita lihat ada apa aja di dalam rumah itu!"
"E-enggak mau akh, na-nanti kalau aku jatuh gimana? Itu 'kan lumayan tinggi loh. Ada kali 3 sampai 5 meter. Sekalinya jatuh, bisa-bisa semua tulangku remuk jadi satu. Ishh, enggak mau, enggak mau!"
Becca merasa takut, lantaran Rio memintanya untuk naik ke atas pohon. Bagaimana tidak, rumah pohon itu terlihat tinggi. Sehingga, membuat phobia ketinggian Becca tiba-tiba muncul begitu saja.
"Rumah pohon ini aman kok, dia tidak akan jatuh karena semua ini di desain oleh ahlinya. Kalaupun ada apa-apa, masih ada aku yang selalu menolong juga menjagamu. Jadi, apa yang harus di takutin lagi, hem?"
"Ya, enggak tahu. Pokoknya takut aja, lagian kenapa bukan bikinnya di bawah sih. Bahaya tahu!"
"Hei, Ecaku sayang! Di mana-mana yang namanya rumah pohon pasti di atas, kalau di bawah namanya bukan rumah pohon. Tapi, rumah lesehan. Paham?"
"Oh, iya juga ya hihih ...."
Becca tertawa sendiri setelah menyadari kebod*dohannya. Berbeda sama Rio yang hanya bisa menggelengkan kepalanya, lantaran melihat sikap Becca yang terkadang kelewat polos.
"Aku udah siapin semuanya buat kamu, masa iya enggak mau naik ke atas. Sia-sia dong aku ngajak ke sini, mungkin kalau anak-anak ikut pasti mereka udah langsung lari naik ke atas melihat pemandangan. Sementara kam----"
"Yayaya, aku naik nih. Jagain di belakang ya, jangan di tinggal!"
Rio langsung menganggukan kepalanya, lalu mereka berjalan mendekati tangga. Perlahan kakinya mulai melangkah menaiki anakkan tangga sesekali menoleh ke arah belakang untuk melihat apakah Rio masih berada di dekatnya atau tidak.
Saat Rio masih ada di dekatnya, Becca kembali melangkah meskipun jantungnya sudah mulai berdebar tidak karuan.
Hampir setengah jalan, mata Becca melirik ke arah bawah di mana dia takut akan ketinggian yang sudah mulai membuat kedua kakinya melemas. Akan tetapi, Rio segera menggenggam tangannya dan tersenyum saat Becca menatapnya.
"Aku ada di sini, jadi jangan pernah takut. Oke?" ucap Rio, berhasil menenangkan Becca.
Akhirnya mereka berjalan bersebelahan dalam keadaan tersenyum. Di mana rasa takut Becca perlahan mulai menghilang dan tergantikan oleh perasaan yang sangat nyaman.
Saat mereka sampai di depan pintu rumah pohon. Rio meminta Becca membukanya sendiri, karena ada sesuatu yang sudah Rio siapkan di dalam rumah tersebut.
"Bukalah!"
"Ta-tapi, Kak---"
"Ba-baiklah,"
Becca tersenyum, kemudian tangannya memegang handle pintu. Ketika pintu terbuka, betapa terkejutnya Becca saat mendapati sebuah papan yang berdiri tegak bertuliskan (WILL YOU MARRY ME?).
Sungguh luar biasa, meskipun desainnya terbilang sederhana. Akan tetapi, isinya benar-benar melebihi kata mewah yang sebenarnya.
Becca saja sampai tercenga saat mendapatkan kejutan yang luar biasa. Dia tidak menyangka, Rio bisa semanis ini untuk menyatakan cintanya. Tidak banyak kata-kata yang Rio ucapkan, dia hanya memberikan sedikit kode demi melanjutkan keseriusannya.
"Ka-kak? I-ini maksudnya ap----"
Belum selesai Becca mengatakan apa yang ingin dia sampaikan, saat berbalik. Ternyata, Rio sudah berlutut tepat di hadapannya sambil menunjukkan sebuah cincin berlian yang sangat cantik.
Air mata Becca menetes tanpa permisi, lantaran sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi saat menyaksikan Rio melakukan semua ini demi menyatakan perasaannya.
Senyuman Rio kali ini terlihat sangat berbeda. Seakan-akan Rio sedang menatap masa depannya yang begitu membahagiakan. Becca bisa melihat itu, dari cara Rio menatapnya saat ini.
"Maaf, jika sudah membuatmu terkejut. Aku tidak bermaksud untuk bermain-main dengan semua ini, hanya saja aku tidak bisa terlalu lama menyembunyikan perasaan ini. Ya, memang aku paham. Umur kita sudah tidak muda lagi, tapi entah mengapa hatiku selalu memilihmu menjadi pendampingku baik hari ini ataupun selamanya."
"Mingkin, menurutmu aku bukanlah pria yang romantis seperti pada umumnya ketika melamar wanita pujaannya. Hanya saja, aku merasa sudah tidak pantas lagi merangkai kata-kata manis untuk melamarmu. Bagiku, kata-kata itu sekedar hiasan semata karena sebagai pria sejati aku perlu membuktikannya, bukan hanya omong kosong."
"Aku tidak ingin berjanji padamu, tapi aku akan membuktikan bahwa cintaku ini bukanlah cinta sesaat yang sewaktu-waktu bisa berubah. Melainkan cinta abadi yang akan selalu ada sampai maut menjemputku!"
"Kita kenal memang sudah lama, jadi kamu tahu betul bagaimana sifat baik burukku selama ini. Begitu juga aku yang sangat mengenalmu. Jadi, aku tidak akan memaksamu untuk percaya padaku. Sudah cukup lama perasaan ini kembali muncul dalam versi berbeda, awalnya aku kira ini hanya sebuah perasaan yang tidak sengaja lewat. Cuman, lama kelamaan aku merasa kalau perasaanku malah semakin mendalam padamu."
"Untuk itu, aku memastikan semuanya agar aku benar-benar yakin. Apakah ini perasaan yang sesungguhnya atau sekedar mampir. Dan nyatanya, perasaan ini memang terbukti kuat. Maka dari itu, aku memutuskan untuk menyiapkan semua ini demi mewakilkan tentang perasaanku padamu."
"Setidaknya aku sudah menyatakan, bahwa aku benar-benar ingin menjadikanmu bagian dari hidupku juga Mommy yang akan menyayangi Yola. Mungkin selama ini kamu sudah berusaha menganggap Yola sebagai anakmu, tapi aku ingin meresmikan hubungan kita ke jenjang yang lebih serius. Itu pun jika kamu mengizinkanmu masuk ke dalam hidupmu dan juga Naku, kalau tidak. Aku tidak akan memaksakan, setidaknya aku sudah jujur dan berusaha untuk memperjuangkan cintaku padamu. Selebihnya, keputusan ada di kamu."
"Kamu bisa menerimaku, syukur. Tidak ya tidak apa-apa, aku tidak akan marah ataupun kecewa. Aku akan tetap bersikap seperti biasanya. Jika di bilang sedih, ya wajar saja. Cuman, aku akan berusaha untuk menahan semua itu agar hubungan kita baik-baik saja tanpa adanya jarak."
Kata-kata sederhana yang Rio ucapkan, banyak mengandung makna yang sangat mendalam. Dia memang tipikal pria yang tidak suka bermain kata, baginya bukti merupakan hal terpenting untuk menunjukkan apa dia layak menjadi pendamping Becca atau tidak.
Akankah Becca bisa menerima Rio sebagai bagian dari hidupnya yang akan menemaninya di masa tua, atau Becca tetap memilih sendiri karena trauma masa lalunya yang cukup membekas di dalam hatinya.
Semua itu belum Becca jawab, lantaran dia masih terkejut atas semua perlakuan Rio padanya yang tidak ada sama sekali di dalam pikiran Becca bila Rio akan melamarnya secepat ini.
.......
.......
.......
...💜💜>Bersambung<💜💜...