
"Kakak, Yola mau obain miena boyeh?" ucap Yola menunjukan senyuman manisnya. Naku yang merasa kesal, langsung menoleh dengan tatapan penuh amarah.
"Lu itu bisa enggak sih, enggak usah ganggu hidup gua terus, hahh? Mau makan aja ribet banget sih, pakai coba-cobain segala. Lagian juga rasanya sama aja, enggak ada yang beda. Kalau mau yang beda, lu cobain tuh punya Daddy lu sendiri. Bukan punya gua, ngerti lu!"
Tatapan tajam itu membuat Yola langsung menundukkan pandangannya. Dia takut dengan suara bentakan, tetapi entah mengapa Yola benar-benar tidak ingin jauh dari Naku. Rasanya Yola benar-benar sangat nyaman saat dia telah menandai Naku sebagai Kakaknya sendiri.
"Yola sayang, dengerin Daddy ya. Makanan yang Yola pesan sama Kakak Naku itu sama, tidak mungkin rasanya berbeda. Jadi, Daddy minta Yola makan makanan sendiri ya. Jangan ganggu Kakak Naku, kasihan dia. Masa dari tadi setiap mau makan di gangguin terus, nanti yang ada napsu makannya hilang loh. 'Kan Yola anak pinter, jadi enggak boleh seperti itu lagi ya."
Sebenarnya Rio pun tidak nyaman ketika Naku selalu berkata kasar terhadap anaknya. Hanya saja, Rio paham dan juga mengerti. Bila Naku seperti ini pasti masih kesal terhadap dirinya, sehingga berimbas ke anaknya sendiri.
Jika Rio ingin pun, dia bisa memarahi Naku. Hanya saja dia tidak tega karena Naku merupakan anak dari Becca, sahabatnya. Jadi, sebisa mungkin Rio untuk membuat Yola mengerti situasi di sana. Dimana dia berusaha untuk tetap bersikap adil untuk mengambil keputusan, tanpa memihal salah satu dari mereka.
Yola menatap Rio yang sedang tersenyum sambil mengusap kepalanya penuh kasih sayang. Matanya mulai berkaca-kaca, lalu melirik ke arah Naku yang terlihat sangat lahap memakan makanannya.
"Apa lihat-lihat, mau gua colok mata lu?" ucap Naku, menunjukkan garpunya ke arah Yola yang semakin membuatnya takut. Yola langsung menghindari tatapan Naku dan menundukkan kepalanya menatap kakinya.
"Naku, cukup! Dia masih kecil, harusnya kamu sebagai seorang Kakak bisa ngertiin. Dia hanya butuh di sayang, bukan di marahin. Anggap saja dia itu adikmu, meskipun bukan adik kandungmu sendiri." ucap Becca, yang sudah mulai jengah atas sikap anaknya.
"Aku ini bukan Kakaknya, jadi jangan pernah menyuruhku untuk menjadi seorang Kakak. Karena dia bukan Adikku, dan Mommy itu seharusnya membela Naku, bukan Yo---"
"Ndak apa-apa, Buma. Yola aik-aik aja kok, Buma angan malahin Kakak ya. Ini cayah Yola, cehalusna Yola ndak boyeh anggu-anggu Kakak agi makan. Apa yang Daddy biyang itu benal. Jadi, Yola inta maap ya alo Yola cudah anggu Kakak. Yola janji, Yola ndak akan anggu Kakak lagi."
Yola tersenyum menantap Becca dan juga Naku. Meskipun Becca membela Yola, akibat sikap Naku tidak bisa di benarkan. Akan tetapi, Naku malah mendapatkan pembelaan dari Yola, anak kecil yang sudah dia sakiti.
"Kenapa dia membelaku? Bukannya seharusnya dia nangis seperti anak kecil lainnya, dengan begitu dia bisa menarik perhatian banyak orang. Akan tetapi, dia malah terlihat sok kuat begitu. Berasa jadi pahlawan ke siangan, dasar bocil!" ucap Naku di dalam hatinya sambil melirik ke arah Yola yang tersenyum.
Becca tersenyum sambil menasihati Yola, sedangkan Yola hanya tersenyum manis. Sebenarnya dia sedang menutupi rasa sedihnya, karena penolakan keras dari Naku.
Padahal Yola ingin sekali merasakan bagaimana rasanya punya Kakak. Hanya saja untuk mendapatkan sedikit saja perhatian darinNaku, ternyata tidak semudah yang Yola bayangkan. Berbeda jika memang Naku adalah Kakak kandungnya, pasti tanpa di minta dia akan menjaga, melindungi dan juga memanjakannya.
Semuanya kembali melanjutkan makan malamnya bersama dalam keadaan terdiam. Tanpa di sadari oleh Becca dan juga Rio, Naku sedikit memperhatikan Yola yang terlihat tidak napsu makan.
Yola hanya makan sedikit, itu pun sambil dia mainkan layaknya anak balita yang baru belajar makan sendiri. Dari situ hati Naku mulai tersentuh, rasanya dia tidak tega melihat wajah murung Yola yang di paksakan untuk tetap tersenyum.
"Apa tadi perkataanku sangat kasar untuk anak seusia Yola? Kok rasanya aku tidak tega lihat dia kaya gini, entah kenapa hatiku mengatakan bila Yola hanya ingin merasakan kasih sayang seorang Kakak yang tidak pernah dia dapatkan. Apa lagi dari kecil dia hanya tinggal berdua sama Om Rio, pasti dia ngerasa sangat kesepian. Akan tetapi, aku masih kesal karena Om Rio merupakan hama yang bisa merusak hubungan antara Daddy dan Mommy!"
Suara hati Naku bergetar ketika dia merasa kasihan terhadap Yola. Bahkan beberapa kali Yola menoleh ke arahnya sambil tersenyum. Hanya saja senyuman itu bukan senyuman kebahagiaan atau pun sapaan, melainkan senyuman untuk menutupi apa yang sedang Yola rasakan saat ini.
Namun, pada akhirnya Naku mulai menurunkan egonya. Satu prilaku manis dari Naku, berhasil membuat Becca serta Rio menjadi terkejut. Sementara kesedihan di wajah Yola langsung hilang begitu saja, seakan tidak ada kejadian apapun hari ini.
.......
.......
.......
...***💜💜>Bersambung